<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>DKI Jakarta Resmi Terapkan PSBB Corona, Apa Bedanya dengan Lockdown?</title><description>Di situasi pandemi COVID-19, kita menjadi sering mendengar kata-kata lockdown dan PSBB.</description><link>https://www.okezone.com/read/2020/04/07/620/2195692/dki-jakarta-resmi-terapkan-psbb-corona-apa-bedanya-dengan-lockdown</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://www.okezone.com/read/2020/04/07/620/2195692/dki-jakarta-resmi-terapkan-psbb-corona-apa-bedanya-dengan-lockdown"/><item><title>DKI Jakarta Resmi Terapkan PSBB Corona, Apa Bedanya dengan Lockdown?</title><link>https://www.okezone.com/read/2020/04/07/620/2195692/dki-jakarta-resmi-terapkan-psbb-corona-apa-bedanya-dengan-lockdown</link><guid isPermaLink="false">https://www.okezone.com/read/2020/04/07/620/2195692/dki-jakarta-resmi-terapkan-psbb-corona-apa-bedanya-dengan-lockdown</guid><pubDate>Selasa 07 April 2020 19:46 WIB</pubDate><dc:creator>Helmi Ade Saputra</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/07/620/2195692/dki-jakarta-resmi-terapkan-psbb-corona-apa-bedanya-dengan-lockdown-PMRSi466bS.jfif" expression="full" type="image/jpeg">Beda PSBB dan Lockdown (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb>https://img.okezone.com/okz/300/content/2020/04/07/620/2195692/dki-jakarta-resmi-terapkan-psbb-corona-apa-bedanya-dengan-lockdown-9RnEu1OFjp.jfif</thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/07/620/2195692/dki-jakarta-resmi-terapkan-psbb-corona-apa-bedanya-dengan-lockdown-PMRSi466bS.jfif</image><title>Beda PSBB dan Lockdown (Foto: Okezone)</title></images><description>Di situasi pandemi COVID-19, kita menjadi sering mendengar kata-kata lockdown dan PSBB. Namun, apa sebenarnya pengertian lockdown dan PSBB?
Kita mulai dari lockdown. Sebagian orang mendesak Pemerintah Indonesia menerapkan lockdown dalam penanganan COVID-19. Tapi, apakah Anda sudah mengetahui apa itu lockdown?
Secara harfiah lockdown artinya dikunci. Jika digunakan pada masa pandemi COVID-19 bisa diartikan menutup akses masuk maupun keluar suatu daerah yang terdampak. Apakah lockdown ampuh menahan laju penyebaran COVID-19?
Salah satu negara yang menerapkan lockdown adalah China terhadap Povinsi Hubei dengan Wuhan sebagai ibu kotanya. Jika melihat dari Tiongkok, sepertinya memang ampuh. Menurut data Bloomberg per 19 Maret 2020, Provinsi Hubei melaporkan tidak ada kasus infeksi baru COVID-19.
(Baca Juga : PSBB untuk Melindungi Diri Tertular COVID-19 dari Orang Lain)
Lockdown mungkin ampuh menekan laju penyebaran COVID-19, karena masyarakat mau tidak mau harus dipaksa tetap di rumah selama diberlakukan lockdown. Semua toko ditutup begitu juga dengan kantor, sekolah, hingga tempat ibadah. Alhasil, penularan COVID-19 antar orang akan sulit terjadi.
Namun, lockdown ternyata juga menimbulkan beragam masalah baru. Dikutip dari NPR, Profesor Bidang Kedokteran Perawatan Kritis dari University of Toronto, dr Laura Hawryluck mengatakan bahwa banyak warga di Wuhan tidak sakit secara fisik, tetapi mereka mengalami gangguan kecemasan parah, perasaan terisolasi dan stres sejak diberlakukan lockdown.
(Baca Juga : Kerja 12 Jam Tanpa APD Lengkap, Perawat Muda Meninggal Dunia karena COVID-19)
Dikatakan dr Laura, stres yang dialami warga Wuhan merupakan akumulasi dari dari rasa takut tertular penyakit, rasa takut menularkan ke orang terdekat, dan kecemasan soal penghasilan yang lenyap tiba-tiba karena kehilangan pekerjaan. Tanpa lockdown pun, pandemi COVID-19 sudah memicu masalah mental yang cukup serius.
Selain berdampak terhadap kesehatan mental, lockdown juga memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan. Saat Provinsi Hubei mengalami lockdown, pemerintah setempat mengirim ribuan tenaga medis ke area tersebut untuk bisa menangani para pasien COVID-19 sebelum virus menyebar lebih jauh. Namun, akibatnya tenaga medis di daerah lain berkurang sehingga perawatan pasien COVID-19 daerah lain tak efektif.
(Baca Juga : Tung Desem Waringin Minum Minyak Kelapa untuk Obat Corona COVID-19)
Sementara itu, ada beberapa negara lain yang menerapkan lockdown, seperti Spanyol, Prancis, Denmark, Irlandia, Belanda, Belgia hingga Malaysia dengan dampak yang berbeda-beda.
Namun, ada juga negara yang tak menerapkan lockdown, seperti Korea Selatan dan Singapura. Kedua negara ini melakukan pencegahan dengan melakukan pemeriksaan massal terhadap warganya. Korea Selatan menjadi negara dengan jumlah pemeriksaan COVID-19 paling banyak di dunia. Korsel telah melakukan tes COVID-19 sekiranya terhadap 290.000 warganya.
(Baca Juga : Cegah Penyebaran COVID-19, Ini Daftar Larangan dalam Pelaksanaan PSBB)
Langkah ini ternyata efektif menekan angka penyebaran COVID-19. Karena, jika diketahui sejak dini, pasien positif COVID-19 tidak sempat menularkan ke orang lain.
Per 31 Maret 2020, berdasarkan data WHO jumlah kasus COVID-19 di Korea Selatan tak lebih dari 10 ribu, yakni 9.786 kasus. Korea Selatan menjadi salah satu negara yang dianggap WHO sukses mengendalikan laju COVID-19 dengan catatan 125 kasus.
Meski Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) melaporkan 50 kasus baru pada 6 April 2020 untuk pertama kalinya sejak 29 Februari dengan total korban meninggal 186 orang, Korsel masih dianggap sukses menekan laju penyebaran COVID-19.</description><content:encoded>Di situasi pandemi COVID-19, kita menjadi sering mendengar kata-kata lockdown dan PSBB. Namun, apa sebenarnya pengertian lockdown dan PSBB?
Kita mulai dari lockdown. Sebagian orang mendesak Pemerintah Indonesia menerapkan lockdown dalam penanganan COVID-19. Tapi, apakah Anda sudah mengetahui apa itu lockdown?
Secara harfiah lockdown artinya dikunci. Jika digunakan pada masa pandemi COVID-19 bisa diartikan menutup akses masuk maupun keluar suatu daerah yang terdampak. Apakah lockdown ampuh menahan laju penyebaran COVID-19?
Salah satu negara yang menerapkan lockdown adalah China terhadap Povinsi Hubei dengan Wuhan sebagai ibu kotanya. Jika melihat dari Tiongkok, sepertinya memang ampuh. Menurut data Bloomberg per 19 Maret 2020, Provinsi Hubei melaporkan tidak ada kasus infeksi baru COVID-19.
(Baca Juga : PSBB untuk Melindungi Diri Tertular COVID-19 dari Orang Lain)
Lockdown mungkin ampuh menekan laju penyebaran COVID-19, karena masyarakat mau tidak mau harus dipaksa tetap di rumah selama diberlakukan lockdown. Semua toko ditutup begitu juga dengan kantor, sekolah, hingga tempat ibadah. Alhasil, penularan COVID-19 antar orang akan sulit terjadi.
Namun, lockdown ternyata juga menimbulkan beragam masalah baru. Dikutip dari NPR, Profesor Bidang Kedokteran Perawatan Kritis dari University of Toronto, dr Laura Hawryluck mengatakan bahwa banyak warga di Wuhan tidak sakit secara fisik, tetapi mereka mengalami gangguan kecemasan parah, perasaan terisolasi dan stres sejak diberlakukan lockdown.
(Baca Juga : Kerja 12 Jam Tanpa APD Lengkap, Perawat Muda Meninggal Dunia karena COVID-19)
Dikatakan dr Laura, stres yang dialami warga Wuhan merupakan akumulasi dari dari rasa takut tertular penyakit, rasa takut menularkan ke orang terdekat, dan kecemasan soal penghasilan yang lenyap tiba-tiba karena kehilangan pekerjaan. Tanpa lockdown pun, pandemi COVID-19 sudah memicu masalah mental yang cukup serius.
Selain berdampak terhadap kesehatan mental, lockdown juga memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan. Saat Provinsi Hubei mengalami lockdown, pemerintah setempat mengirim ribuan tenaga medis ke area tersebut untuk bisa menangani para pasien COVID-19 sebelum virus menyebar lebih jauh. Namun, akibatnya tenaga medis di daerah lain berkurang sehingga perawatan pasien COVID-19 daerah lain tak efektif.
(Baca Juga : Tung Desem Waringin Minum Minyak Kelapa untuk Obat Corona COVID-19)
Sementara itu, ada beberapa negara lain yang menerapkan lockdown, seperti Spanyol, Prancis, Denmark, Irlandia, Belanda, Belgia hingga Malaysia dengan dampak yang berbeda-beda.
Namun, ada juga negara yang tak menerapkan lockdown, seperti Korea Selatan dan Singapura. Kedua negara ini melakukan pencegahan dengan melakukan pemeriksaan massal terhadap warganya. Korea Selatan menjadi negara dengan jumlah pemeriksaan COVID-19 paling banyak di dunia. Korsel telah melakukan tes COVID-19 sekiranya terhadap 290.000 warganya.
(Baca Juga : Cegah Penyebaran COVID-19, Ini Daftar Larangan dalam Pelaksanaan PSBB)
Langkah ini ternyata efektif menekan angka penyebaran COVID-19. Karena, jika diketahui sejak dini, pasien positif COVID-19 tidak sempat menularkan ke orang lain.
Per 31 Maret 2020, berdasarkan data WHO jumlah kasus COVID-19 di Korea Selatan tak lebih dari 10 ribu, yakni 9.786 kasus. Korea Selatan menjadi salah satu negara yang dianggap WHO sukses mengendalikan laju COVID-19 dengan catatan 125 kasus.
Meski Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) melaporkan 50 kasus baru pada 6 April 2020 untuk pertama kalinya sejak 29 Februari dengan total korban meninggal 186 orang, Korsel masih dianggap sukses menekan laju penyebaran COVID-19.</content:encoded></item></channel></rss>
