<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ingin Rapid Test Drive Thru COVID-19? Ini Tata Cara dan Kisaran Biayanya</title><description>RAPID TEST menjadi upaya cepat penanganan COVID-19, meski sebetulnya hanya mengetahui keberadaan antibodi, bukan virusnya.</description><link>https://www.okezone.com/read/2020/04/17/620/2200916/ingin-rapid-test-drive-thru-covid-19-ini-tata-cara-dan-kisaran-biayanya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://www.okezone.com/read/2020/04/17/620/2200916/ingin-rapid-test-drive-thru-covid-19-ini-tata-cara-dan-kisaran-biayanya"/><item><title>Ingin Rapid Test Drive Thru COVID-19? Ini Tata Cara dan Kisaran Biayanya</title><link>https://www.okezone.com/read/2020/04/17/620/2200916/ingin-rapid-test-drive-thru-covid-19-ini-tata-cara-dan-kisaran-biayanya</link><guid isPermaLink="false">https://www.okezone.com/read/2020/04/17/620/2200916/ingin-rapid-test-drive-thru-covid-19-ini-tata-cara-dan-kisaran-biayanya</guid><pubDate>Jum'at 17 April 2020 20:19 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Sukardi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/17/620/2200916/ingin-rapid-test-drive-thru-covid-19-ini-tata-cara-dan-kisaran-biayanya-IV2AwOpZAC.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb>https://img.okezone.com/okz/300/content/2020/04/17/620/2200916/ingin-rapid-test-drive-thru-covid-19-ini-tata-cara-dan-kisaran-biayanya-4CaZW8N5Yk.jpg</thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/17/620/2200916/ingin-rapid-test-drive-thru-covid-19-ini-tata-cara-dan-kisaran-biayanya-IV2AwOpZAC.jpg</image><title></title></images><description>RAPID TEST menjadi upaya cepat penanganan kasus COVID-19, meski sebetulnya tes ini hanya mengetahui keberadaan antibodi, bukan virusnya. Di Indonesia sendiri, beberapa wilayah sudah melakukan uji cepat ini sebagai langkah deteksi dini.
Jika mengacu laman resmi pemerintah mengenai COVID-19, ada 5 provinsi di Indonesia dengan kasus positif COVID-19 terbanyak; DKI Jakarta (2.670), Jawa Barat (570), Jawa Timur (514), Jawa Tengah (300), dan Banten (297). Lima wilayah ini pun terbilang gencar lakukan rapid test.
DKI Jakarta misalnya, provinsi ini sudah melakukan rapid test terhadap 47.588 orang dengan hasil positif sebanyak 1.791 kasus. Sementara itu, Jawa Barat sudah melakukan rapid test terhadap 51 ribu lebih orang dengan hasil positif sebanyak 1.139 kasus.
Meski pemerintah daerah semakin gencar melakukan rapid test, namun tes ini dikatakan kurang akurat dalam melihat adanya virus corona COVID-19.
Menurut laporan South China Morning Post, Otoritas Kesehatan China, Amerika Serikat, dan beberapa negara lainnya mengatakan bahwa Rapid Test ini memiliki hasil positif palsu dan negatif palsu. Para ahli pun khawatir Rapid Test secara signifikan kurang dapat diandalkan daripada metode yang memakan waktu lebih lama seperti misalnya PCR.
(Baca Juga : Waspada, Kulit Gatal dan Memerah Bisa Jadi Gejala COVID-19 yang Tak Terdeteksi)
Laporan dari Spanish Society of Infectious Disease and Clinical Microbiology mengatakan, hasil Repid Test kurang dari 30 persen akurasinya. Sementara itu, tes COVID-19 dengan PCR akurasinya bisa mencapai 84 persen. Karena itu, data yang masuk ke covid19.go.id hanya berasal dari Tes PCR.
Di sisi lain, pemeriksaan Rapid Test ini hanya melihat keberadaan antibodi tubuh terhadap virus corona COVID-19, bukan mengetahui ada atau tidaknya virus.
Hal itu disampaikan Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Prof. drh. Wiku Adisasmito, MSc. Ph.D, rapid test itu digunakan untuk mengukur antibodi. Pengujian ini akan sangat efektif jika di tubuh orang yang ditest sudah antibodi-nya.
(Baca Juga : Kapan Puncak Penyebaran Virus Corona di Indonesia?) 
&quot;Kalau sudah ada antibodi, sudah ada gejalanya. Gejala adalah reaksi tubuh melawan virus dan antibodi iniyang diukur oleh alat rapid test,&quot; terangnya, Rabu 15 April 2020.
Lebih lanjut, Prof Wiku menuturkan, antibodi tersebut muncul setalah 7 hari pasca gejala pertama keluar. &quot;Karena itu, rapid test ini juga harus digunakan di waktu yang tepat. Nggak boleh sembarangan,&quot; sambungnya.
Selain tak bisa sembarang waktu, petugas yang melakukan tes harus ahlinya. Hal ini menjadi penting, karena saat pengujian dilakukan, orang yang dites diambil darahnya dan bisa saja darah tersebut mengandung virus berbahaya dan sangat besar kemungkinan menular jika dilakukan bukan oleh ahlinya.</description><content:encoded>RAPID TEST menjadi upaya cepat penanganan kasus COVID-19, meski sebetulnya tes ini hanya mengetahui keberadaan antibodi, bukan virusnya. Di Indonesia sendiri, beberapa wilayah sudah melakukan uji cepat ini sebagai langkah deteksi dini.
Jika mengacu laman resmi pemerintah mengenai COVID-19, ada 5 provinsi di Indonesia dengan kasus positif COVID-19 terbanyak; DKI Jakarta (2.670), Jawa Barat (570), Jawa Timur (514), Jawa Tengah (300), dan Banten (297). Lima wilayah ini pun terbilang gencar lakukan rapid test.
DKI Jakarta misalnya, provinsi ini sudah melakukan rapid test terhadap 47.588 orang dengan hasil positif sebanyak 1.791 kasus. Sementara itu, Jawa Barat sudah melakukan rapid test terhadap 51 ribu lebih orang dengan hasil positif sebanyak 1.139 kasus.
Meski pemerintah daerah semakin gencar melakukan rapid test, namun tes ini dikatakan kurang akurat dalam melihat adanya virus corona COVID-19.
Menurut laporan South China Morning Post, Otoritas Kesehatan China, Amerika Serikat, dan beberapa negara lainnya mengatakan bahwa Rapid Test ini memiliki hasil positif palsu dan negatif palsu. Para ahli pun khawatir Rapid Test secara signifikan kurang dapat diandalkan daripada metode yang memakan waktu lebih lama seperti misalnya PCR.
(Baca Juga : Waspada, Kulit Gatal dan Memerah Bisa Jadi Gejala COVID-19 yang Tak Terdeteksi)
Laporan dari Spanish Society of Infectious Disease and Clinical Microbiology mengatakan, hasil Repid Test kurang dari 30 persen akurasinya. Sementara itu, tes COVID-19 dengan PCR akurasinya bisa mencapai 84 persen. Karena itu, data yang masuk ke covid19.go.id hanya berasal dari Tes PCR.
Di sisi lain, pemeriksaan Rapid Test ini hanya melihat keberadaan antibodi tubuh terhadap virus corona COVID-19, bukan mengetahui ada atau tidaknya virus.
Hal itu disampaikan Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Prof. drh. Wiku Adisasmito, MSc. Ph.D, rapid test itu digunakan untuk mengukur antibodi. Pengujian ini akan sangat efektif jika di tubuh orang yang ditest sudah antibodi-nya.
(Baca Juga : Kapan Puncak Penyebaran Virus Corona di Indonesia?) 
&quot;Kalau sudah ada antibodi, sudah ada gejalanya. Gejala adalah reaksi tubuh melawan virus dan antibodi iniyang diukur oleh alat rapid test,&quot; terangnya, Rabu 15 April 2020.
Lebih lanjut, Prof Wiku menuturkan, antibodi tersebut muncul setalah 7 hari pasca gejala pertama keluar. &quot;Karena itu, rapid test ini juga harus digunakan di waktu yang tepat. Nggak boleh sembarangan,&quot; sambungnya.
Selain tak bisa sembarang waktu, petugas yang melakukan tes harus ahlinya. Hal ini menjadi penting, karena saat pengujian dilakukan, orang yang dites diambil darahnya dan bisa saja darah tersebut mengandung virus berbahaya dan sangat besar kemungkinan menular jika dilakukan bukan oleh ahlinya.</content:encoded></item></channel></rss>
