<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ramadhan di Tengah Wabah Corona, Siapa Saja yang Boleh Tak Puasa?</title><description>Muslim akan menjalankan puasa Ramadhan sebulan penuh.</description><link>https://www.okezone.com/read/2020/04/20/620/2201981/ramadhan-di-tengah-wabah-corona-siapa-saja-yang-boleh-tak-puasa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://www.okezone.com/read/2020/04/20/620/2201981/ramadhan-di-tengah-wabah-corona-siapa-saja-yang-boleh-tak-puasa"/><item><title>Ramadhan di Tengah Wabah Corona, Siapa Saja yang Boleh Tak Puasa?</title><link>https://www.okezone.com/read/2020/04/20/620/2201981/ramadhan-di-tengah-wabah-corona-siapa-saja-yang-boleh-tak-puasa</link><guid isPermaLink="false">https://www.okezone.com/read/2020/04/20/620/2201981/ramadhan-di-tengah-wabah-corona-siapa-saja-yang-boleh-tak-puasa</guid><pubDate>Senin 20 April 2020 14:31 WIB</pubDate><dc:creator>Abu Sahma Pane</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/20/620/2201981/ramadhan-di-tengah-wabah-corona-siapa-saja-yang-boleh-tak-puasa-dyd3whda1J.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. Foto: Thought Co</media:content><images><thumb>https://img.okezone.com/okz/300/content/2020/04/20/620/2201981/ramadhan-di-tengah-wabah-corona-siapa-saja-yang-boleh-tak-puasa-MjaFAFdnu4.jpg</thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/20/620/2201981/ramadhan-di-tengah-wabah-corona-siapa-saja-yang-boleh-tak-puasa-dyd3whda1J.jpg</image><title>Ilustrasi. Foto: Thought Co</title></images><description>Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau agar masyarakat Indonesia menjaga daya tahan tubuh selama pandemi virus corona (COVID-19). Salah satu caranya adalah dengan mengonsumsi makanan yang bergizi serta istirahat yang cukup.
Namun dalam beberapa hari lagi umat Muslim akan menjalankan puasa Ramadhan sebulan penuh. Muncul pertanyaan apakah sebaiknya tetap menjalankan ibadah puasa itu atau menundanya karena akan membuat daya tahan tubuh lemah?
Sebagai panduan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ahli kesehatan sudah sepakat bahwa wabah corona tidak menghalangi umat Muslim untuk menjalankan ibadah puasa.
Direktur Utama Rumah Sakit Haji Jakarta, Dr Syarief Hasan Lutfie mengatakan wabah corona tidak berbahaya bagi Muslim yang puasa, asal mengonsumsi makanan yang bergizi saat sahur.
&quot;Puasa tidak membahayakan asal persiapan deposit tenaganya cukup dengan menjaga imunitas tubuh, mengonsumsi makanan sehat dan bergizi saat sahur, menjaga aktivitas tubuh,&quot; ujarnya saat dihubungi Okezone, Kamis 19 Maret 2020.
Dokter Syarief menganjurkan umat Muslim menjaga imunitas tubuh dengan mengonsumsi telur, susu, madu, memperbanyak kandungan vitami E ketika sahur, serta makanan sehat lainnya.
Baca Juga:&amp;nbsp;Pandemi Corona, Sidang Isbat Ramadhan 1441H Dilakukan via Teleconference
Kemudian ketika sedang menjalankan puasa, hindari bertemu banyak orang, rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan hingga memperbanyak kegiatan atau aktivitas di dalam rumah.
Hal senada juga dikatakan oleh Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh. Menurutnya puasa Ramadhan harus tetap dijalankan karena merupakan kewajiban umat Muslim. Hanya saja Muslim harus menghindari penularan virus corona.
&amp;ldquo;Umat Islam yang puasa, kewajiban puasa tetap puasa. Tetapi memberikan perhatian khusus terhadap penyebaran harus dicegah dan diminalisir,&amp;rdquo; ujar Asrorun pada Kamis 19 Maret 2020.
&quot;Pada suatu kawasan yang berada dalam zona merah, maka kita bisa melaksanakan ibadah, dibatasi di tempat yang bebas kerumunan fisik yang berpotensi penyebaran secara lebih meluas,&amp;rdquo; papar dia.
&amp;ldquo;Sementara kalau berada di daerah zona hijau, maka aktivitas jalan sebagaimana jalan biasa tetapi dengan mengurangi tensi konsentrasi massa,&quot; imbuh Asrorun.
Di samping itu Kepala Hubungan Masyarakat (Humas) dan Protokol Masjid Istiqlal Ustadz Abu Hurairah Abdul Salam mengatakan yang bahaya itu bukan puasanya, tetapi kerumunan orang berpotensi menularkan corona.
&quot;Hal yang berbahaya itu kumpul-kumpulnya saat buka bersama, taraweh dan lain-lain (red. termasuk salat berjamaah), atau apapun yang biasa dilakukan dengan kumpul-kumpul,&quot; tuturnya.
Baca Juga:&amp;nbsp;Benarkah Puasa Dapat Menurunkan Imunitas?
Sementara dilansir dari Telegraph pada Senin (20/4/2020), para peneliti di University of Southern California sudah mempelajari kaitan antara puasa dan daya tahan tubuh. Hasilnya ditemukan bahwa rasa lapar memicu sel-sel induk dalam tubuh memproduksi sel darah putih baru yang berfungsi melawan infeksi.
Penciptaan sel darah putih baru inilah yang mendasari regenerasi seluruh sistem kekebalan tubuh. Menurut penelitian tersebut, tubuh akan menyingkirkan bagian-bagian dari sistem yang rusak, tua atau tidak efisien selama berpuasa.
Berpuasa secara berkelanjutan seperti di bulan Ramadhan akan membuat cadangan lemak terpakai, sel darah putih yang rusak terganti dengan yang baru, dan ini memicu regenerasi sel induk untuk membuat sel sistem kekebalan tubuh baru.
Sedangkan hasil penelitian lain yang dipublikasikan Jurnal Frontiers in Immunology pada November 2017, disebutkan puasa Ramadhan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, itu pun pengurangannya tidak signifikan dan tidak mempengaruhi kesehatan.
Baca Juga:&amp;nbsp;Bukber Dilarang Saat Ramadhan, Ini Masukan MUI untuk Umat Islam
Nah karena itu Lembaga Tatwa Mesir, Darul Ifta menekankan tiga hal terkait puasa Ramadhan pada saat pandemi Covid-19.
Pertama, apabila seorang Muslim sehat, tidak terinfeksi virus dan memiliki kondisi yang lengkap dan sempurna untuk berpuasa, maka ia tetap wajib berpuasa.
Kedua, berpuasa bagi orang yang terinfeksi virus COVID-19  tergantung pada saran dokter. Jika dokter merekomendasikan bahwa puasa berbahaya bagi penderita, maka ia harus mendengarkan saran  tersebut.
Baca Juga:&amp;nbsp;Tenaga Medis COVID-19 Boleh Tidak Berpuasa saat Ramadhan</description><content:encoded>Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau agar masyarakat Indonesia menjaga daya tahan tubuh selama pandemi virus corona (COVID-19). Salah satu caranya adalah dengan mengonsumsi makanan yang bergizi serta istirahat yang cukup.
Namun dalam beberapa hari lagi umat Muslim akan menjalankan puasa Ramadhan sebulan penuh. Muncul pertanyaan apakah sebaiknya tetap menjalankan ibadah puasa itu atau menundanya karena akan membuat daya tahan tubuh lemah?
Sebagai panduan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ahli kesehatan sudah sepakat bahwa wabah corona tidak menghalangi umat Muslim untuk menjalankan ibadah puasa.
Direktur Utama Rumah Sakit Haji Jakarta, Dr Syarief Hasan Lutfie mengatakan wabah corona tidak berbahaya bagi Muslim yang puasa, asal mengonsumsi makanan yang bergizi saat sahur.
&quot;Puasa tidak membahayakan asal persiapan deposit tenaganya cukup dengan menjaga imunitas tubuh, mengonsumsi makanan sehat dan bergizi saat sahur, menjaga aktivitas tubuh,&quot; ujarnya saat dihubungi Okezone, Kamis 19 Maret 2020.
Dokter Syarief menganjurkan umat Muslim menjaga imunitas tubuh dengan mengonsumsi telur, susu, madu, memperbanyak kandungan vitami E ketika sahur, serta makanan sehat lainnya.
Baca Juga:&amp;nbsp;Pandemi Corona, Sidang Isbat Ramadhan 1441H Dilakukan via Teleconference
Kemudian ketika sedang menjalankan puasa, hindari bertemu banyak orang, rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan hingga memperbanyak kegiatan atau aktivitas di dalam rumah.
Hal senada juga dikatakan oleh Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh. Menurutnya puasa Ramadhan harus tetap dijalankan karena merupakan kewajiban umat Muslim. Hanya saja Muslim harus menghindari penularan virus corona.
&amp;ldquo;Umat Islam yang puasa, kewajiban puasa tetap puasa. Tetapi memberikan perhatian khusus terhadap penyebaran harus dicegah dan diminalisir,&amp;rdquo; ujar Asrorun pada Kamis 19 Maret 2020.
&quot;Pada suatu kawasan yang berada dalam zona merah, maka kita bisa melaksanakan ibadah, dibatasi di tempat yang bebas kerumunan fisik yang berpotensi penyebaran secara lebih meluas,&amp;rdquo; papar dia.
&amp;ldquo;Sementara kalau berada di daerah zona hijau, maka aktivitas jalan sebagaimana jalan biasa tetapi dengan mengurangi tensi konsentrasi massa,&quot; imbuh Asrorun.
Di samping itu Kepala Hubungan Masyarakat (Humas) dan Protokol Masjid Istiqlal Ustadz Abu Hurairah Abdul Salam mengatakan yang bahaya itu bukan puasanya, tetapi kerumunan orang berpotensi menularkan corona.
&quot;Hal yang berbahaya itu kumpul-kumpulnya saat buka bersama, taraweh dan lain-lain (red. termasuk salat berjamaah), atau apapun yang biasa dilakukan dengan kumpul-kumpul,&quot; tuturnya.
Baca Juga:&amp;nbsp;Benarkah Puasa Dapat Menurunkan Imunitas?
Sementara dilansir dari Telegraph pada Senin (20/4/2020), para peneliti di University of Southern California sudah mempelajari kaitan antara puasa dan daya tahan tubuh. Hasilnya ditemukan bahwa rasa lapar memicu sel-sel induk dalam tubuh memproduksi sel darah putih baru yang berfungsi melawan infeksi.
Penciptaan sel darah putih baru inilah yang mendasari regenerasi seluruh sistem kekebalan tubuh. Menurut penelitian tersebut, tubuh akan menyingkirkan bagian-bagian dari sistem yang rusak, tua atau tidak efisien selama berpuasa.
Berpuasa secara berkelanjutan seperti di bulan Ramadhan akan membuat cadangan lemak terpakai, sel darah putih yang rusak terganti dengan yang baru, dan ini memicu regenerasi sel induk untuk membuat sel sistem kekebalan tubuh baru.
Sedangkan hasil penelitian lain yang dipublikasikan Jurnal Frontiers in Immunology pada November 2017, disebutkan puasa Ramadhan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, itu pun pengurangannya tidak signifikan dan tidak mempengaruhi kesehatan.
Baca Juga:&amp;nbsp;Bukber Dilarang Saat Ramadhan, Ini Masukan MUI untuk Umat Islam
Nah karena itu Lembaga Tatwa Mesir, Darul Ifta menekankan tiga hal terkait puasa Ramadhan pada saat pandemi Covid-19.
Pertama, apabila seorang Muslim sehat, tidak terinfeksi virus dan memiliki kondisi yang lengkap dan sempurna untuk berpuasa, maka ia tetap wajib berpuasa.
Kedua, berpuasa bagi orang yang terinfeksi virus COVID-19  tergantung pada saran dokter. Jika dokter merekomendasikan bahwa puasa berbahaya bagi penderita, maka ia harus mendengarkan saran  tersebut.
Baca Juga:&amp;nbsp;Tenaga Medis COVID-19 Boleh Tidak Berpuasa saat Ramadhan</content:encoded></item></channel></rss>
