<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cara Rasulullah Menentukan Awal Ramadhan</title><description>Di Indonesia bulan Ramadhan tahun ini diperkirakan akan jatuh pada Jumat, 24 April 2020.</description><link>https://www.okezone.com/read/2020/04/20/620/2202211/cara-rasulullah-menentukan-awal-ramadhan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://www.okezone.com/read/2020/04/20/620/2202211/cara-rasulullah-menentukan-awal-ramadhan"/><item><title>Cara Rasulullah Menentukan Awal Ramadhan</title><link>https://www.okezone.com/read/2020/04/20/620/2202211/cara-rasulullah-menentukan-awal-ramadhan</link><guid isPermaLink="false">https://www.okezone.com/read/2020/04/20/620/2202211/cara-rasulullah-menentukan-awal-ramadhan</guid><pubDate>Selasa 21 April 2020 00:21 WIB</pubDate><dc:creator>Novie Fauziah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/20/620/2202211/cara-rasulullah-menentukan-awal-ramadhan-DNzG3rbKza.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Cara Rasulullah Menentukan Awal Ramadhan (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb>https://img.okezone.com/okz/300/content/2020/04/20/620/2202211/cara-rasulullah-menentukan-awal-ramadhan-mNKgLiOcFI.jpg</thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/20/620/2202211/cara-rasulullah-menentukan-awal-ramadhan-DNzG3rbKza.jpg</image><title>Cara Rasulullah Menentukan Awal Ramadhan (Foto: Okezone)</title></images><description>Bulan suci Ramadhan 1441 Hijriyah tinggal menghitung hari. Di Indonesia bulan Ramadhan tahun ini diperkirakan akan jatuh pada Jumat, 24 April 2020. Namun hal itu belum ditetapkan secara resmi, mengingat Kementerian Agama RI baru akan melakukan sidang isbat atau penetuan Ramadhan pada Kamis, 23 April 2020 mendatang.
Sidang isbat awal Ramadhan tahun ini dipastikan berbeda, karena akan dilakukan melalui teleconference akibat virus corona (COVID-19) masih mewabah di Indonesia.
&quot;Seiring kebijakan physical distancing dan sesuai protokol kesehatan, kita menghindari ada kerumunan. Sidang isbat akan memanfaatkan teknologi teleconference sehingga peserta dan media tidak perlu hadir di Kementerian Agama,&quot; ujar Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag), Kamaruddin Amin dalam keterangan resmi yang Okezone terima.
Kamaruddin melanjutkan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya sidang isbat akan dibagi dalam tiga sesi. Sesi pertama, paparan posisi hilal awal Ramadhan 1441 Hijriyah oleh anggota Tim Falakiyah Kemenag, Cecep Nurwendaya. Paparan ini akan disiarkan secara live streaming melalui website dan media sosia Kemenag.
(Baca Juga : 6 Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan, Pertama Segera Bayar Utang Puasa)
&quot;Akan dibuka dialog. Masyarakat dan media bisa mengikuti melalui room meeting online yang nanti akan dibagikan. Tentu kuotanya juga terbatas,&quot; terangnya.
Kemudian dilanjutkan setelah Maghrib, sidang isbat digelar secara tertutup. Sidang ini hanya dihadiri secara fisik oleh perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), serta Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi, Wakil Menteri Agama (Wamenag), Zainut Tauhid Sa'adi, dan Dirjen Bimas Islam.
Penentuan 1 Ramadhan maupun 1 Syawal saat ini sudah dilakukan mengikuti teknologi yang ada, atau menggunakan alat-alat canggih sehingga akan lebih mempermudah berjalannya penentuan awal bulan-bulan Hijriyah.
Lalu pada zaman Nabi bagaimana cara menentukan awal Ramadhan? Mengingat saat itu semua masih serba terbatas dan menggunakan alat-alat seadanya.
(Baca Juga : Doa Menyambut Ramadhan agar Ibadah Lebih Berkah)
Wakil Ketua Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (Madani), Ustadz Ainul Yaqin menuturkan, pada zaman Nabi Muhammad penentuan awal 1 Ramadhan tertuju pada penampakan bulan.
Sebagaimana dalam salah satu riwayat hadist, Rasulullah bersabda:
&amp;#1571;&amp;#1605;&amp;#1585;&amp;#1614;&amp;#1606;&amp;#1614;&amp;#1575; &amp;#1585;&amp;#1587;&amp;#1608;&amp;#1604;&amp;#1615; &amp;#1575;&amp;#1604;&amp;#1604;&amp;#1607; &amp;#1589;&amp;#1604;&amp;#1609; &amp;#1575;&amp;#1604;&amp;#1604;&amp;#1607; &amp;#1593;&amp;#1604;&amp;#1610;&amp;#1607; &amp;#1608;&amp;#1587;&amp;#1604;&amp;#1605; &amp;#1571;&amp;#1606; &amp;#1606;&amp;#1606;&amp;#1587;&amp;#1603;&amp;#1614; &amp;#1604;&amp;#1585;&amp;#1572;&amp;#1610;&amp;#1578;&amp;#1607;&amp;#1548; &amp;#1601;&amp;#1573;&amp;#1606; &amp;#1604;&amp;#1605; &amp;#1606;&amp;#1614;&amp;#1585;&amp;#1607;&amp;#1615; &amp;#1601;&amp;#1588;&amp;#1614;&amp;#1607;&amp;#1583;&amp;#1614; &amp;#1588;&amp;#1575;&amp;#1607;&amp;#1583;&amp;#1575;&amp;#1606; &amp;#1593;&amp;#1583;&amp;#1604;&amp;#1575;&amp;#1606;&amp;#1616; &amp;#1606;&amp;#1614;&amp;#1587;&amp;#1614;&amp;#1603;&amp;#1618;&amp;#1606;&amp;#1575; &amp;#1576;&amp;#1588;&amp;#1607;&amp;#1575;&amp;#1583;&amp;#1578;&amp;#1610;&amp;#1607;&amp;#1605;&amp;#1575;
Artinya:&amp;ldquo;Rasulullah SAW telah memerintahkan kami untuk berpuasa dengan melihat bulan, jika kami tidak melihatnya, maka kami sudah berpuasa dengan kesaksian dua orang,&quot;(HR. Abu Daud).
Beberapa hadits Nabi Muhammad menjelaskan, bahwa awal puasa Ramadhan adalah dengan penentuan melihat Hilal (Rukyatul hilal).
&quot;Demikian cara yang disyariatkan pada awalnya oleh Nabi Muhammad SAW, untuk mengetahui waktu masuknya puasa atau lebaran dengan cara melihat hilal karena cara ini dinilai yang paling mudah dan praktis pada saat itu oleh seluruh sahabat, dan umat Islam dalam menentukan kapan masuk puasa. Rasulullah dalam banyak sabdanya memberikan petunjuk, yaitu tentang melihat hilal,&quot; tutur Ustadz Ainul Yaqin saat dihubungi Okezone, Selasa (21/4/2020).
(Baca Juga : Ini Doa Rasulullah Ketika Melihat Hilal Ramadhan)
Nabi Muhammad bersabda:
&amp;#1589;&amp;#1615;&amp;#1608;&amp;#1605;&amp;#1615;&amp;#1608;&amp;#1575; &amp;#1604;&amp;#1616;&amp;#1585;&amp;#1615;&amp;#1572;&amp;#1618;&amp;#1610;&amp;#1614;&amp;#1578;&amp;#1616;&amp;#1607;&amp;#1616; &amp;#1608;&amp;#1614;&amp;#1571;&amp;#1614;&amp;#1601;&amp;#1618;&amp;#1591;&amp;#1616;&amp;#1585;&amp;#1615;&amp;#1608;&amp;#1575; &amp;#1604;&amp;#1616;&amp;#1585;&amp;#1615;&amp;#1572;&amp;#1618;&amp;#1610;&amp;#1614;&amp;#1578;&amp;#1616;&amp;#1607;&amp;#1616;
Artinya: &quot;Berpuasalah kamu saat melihatnya (hilal) dan berifthar (lebaran) saat melihatnya.&quot; (HR. Bukhari dan Muslim).
Kemudian dalam riwayat hadist lainnya juga menjelaskan:
&amp;#1589;&amp;#1615;&amp;#1608;&amp;#1605;&amp;#1615;&amp;#1608;&amp;#1575; &amp;#1604;&amp;#1616;&amp;#1585;&amp;#1615;&amp;#1572;&amp;#1618;&amp;#1610;&amp;#1614;&amp;#1578;&amp;#1616;&amp;#1607;&amp;#1616; &amp;#1608;&amp;#1614;&amp;#1571;&amp;#1614;&amp;#1601;&amp;#1618;&amp;#1591;&amp;#1616;&amp;#1585;&amp;#1615;&amp;#1608;&amp;#1575; &amp;#1604;&amp;#1616;&amp;#1585;&amp;#1615;&amp;#1572;&amp;#1618;&amp;#1610;&amp;#1614;&amp;#1578;&amp;#1616;&amp;#1607;&amp;#1616; &amp;#1601;&amp;#1614;&amp;#1573;&amp;#1616;&amp;#1606;&amp;#1618; &amp;#1581;&amp;#1614;&amp;#1575;&amp;#1604; &amp;#1576;&amp;#1614;&amp;#1610;&amp;#1618;&amp;#1606;&amp;#1614;&amp;#1603;&amp;#1615;&amp;#1605;&amp;#1618; &amp;#1608;&amp;#1614;&amp;#1576;&amp;#1614;&amp;#1610;&amp;#1618;&amp;#1606;&amp;#1614;&amp;#1607;&amp;#1615; &amp;#1587;&amp;#1614;&amp;#1581;&amp;#1614;&amp;#1575;&amp;#1576;&amp;#1614;&amp;#1577;&amp;#1612;  &amp;#1601;&amp;#1614;&amp;#1571;&amp;#1614;&amp;#1603;&amp;#1618;&amp;#1605;&amp;#1616;&amp;#1604;&amp;#1615;&amp;#1608;&amp;#1575; &amp;#1575;&amp;#1604;&amp;#1618;&amp;#1593;&amp;#1616;&amp;#1583;&amp;#1617;&amp;#1614;&amp;#1577;&amp;#1614; &amp;#1608;&amp;#1614;&amp;#1604;&amp;#1575;&amp;#1614; &amp;#1578;&amp;#1614;&amp;#1587;&amp;#1618;&amp;#1578;&amp;#1614;&amp;#1602;&amp;#1618;&amp;#1576;&amp;#1616;&amp;#1604;&amp;#1615;&amp;#1608;&amp;#1575; &amp;#1575;&amp;#1604;&amp;#1588;&amp;#1617;&amp;#1614;&amp;#1607;&amp;#1618;&amp;#1585;&amp;#1614; &amp;#1575;&amp;#1587;&amp;#1618;&amp;#1578;&amp;#1616;&amp;#1602;&amp;#1618;&amp;#1576;&amp;#1614;&amp;#1575;&amp;#1604;&amp;#1575;&amp;#1611;
Artinya: &quot;Berpuasalah kamu dengan melihat hilal dan berbukalah kamu dengan melihatnya juga. Tetapi bila ada awan yang menghalangi, maka genapkanlah hitungan dan janganlah menyambut bulan baru.&quot; (HR. An-Nasa&amp;rsquo;i dan Al-Hakim).</description><content:encoded>Bulan suci Ramadhan 1441 Hijriyah tinggal menghitung hari. Di Indonesia bulan Ramadhan tahun ini diperkirakan akan jatuh pada Jumat, 24 April 2020. Namun hal itu belum ditetapkan secara resmi, mengingat Kementerian Agama RI baru akan melakukan sidang isbat atau penetuan Ramadhan pada Kamis, 23 April 2020 mendatang.
Sidang isbat awal Ramadhan tahun ini dipastikan berbeda, karena akan dilakukan melalui teleconference akibat virus corona (COVID-19) masih mewabah di Indonesia.
&quot;Seiring kebijakan physical distancing dan sesuai protokol kesehatan, kita menghindari ada kerumunan. Sidang isbat akan memanfaatkan teknologi teleconference sehingga peserta dan media tidak perlu hadir di Kementerian Agama,&quot; ujar Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag), Kamaruddin Amin dalam keterangan resmi yang Okezone terima.
Kamaruddin melanjutkan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya sidang isbat akan dibagi dalam tiga sesi. Sesi pertama, paparan posisi hilal awal Ramadhan 1441 Hijriyah oleh anggota Tim Falakiyah Kemenag, Cecep Nurwendaya. Paparan ini akan disiarkan secara live streaming melalui website dan media sosia Kemenag.
(Baca Juga : 6 Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan, Pertama Segera Bayar Utang Puasa)
&quot;Akan dibuka dialog. Masyarakat dan media bisa mengikuti melalui room meeting online yang nanti akan dibagikan. Tentu kuotanya juga terbatas,&quot; terangnya.
Kemudian dilanjutkan setelah Maghrib, sidang isbat digelar secara tertutup. Sidang ini hanya dihadiri secara fisik oleh perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), serta Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi, Wakil Menteri Agama (Wamenag), Zainut Tauhid Sa'adi, dan Dirjen Bimas Islam.
Penentuan 1 Ramadhan maupun 1 Syawal saat ini sudah dilakukan mengikuti teknologi yang ada, atau menggunakan alat-alat canggih sehingga akan lebih mempermudah berjalannya penentuan awal bulan-bulan Hijriyah.
Lalu pada zaman Nabi bagaimana cara menentukan awal Ramadhan? Mengingat saat itu semua masih serba terbatas dan menggunakan alat-alat seadanya.
(Baca Juga : Doa Menyambut Ramadhan agar Ibadah Lebih Berkah)
Wakil Ketua Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (Madani), Ustadz Ainul Yaqin menuturkan, pada zaman Nabi Muhammad penentuan awal 1 Ramadhan tertuju pada penampakan bulan.
Sebagaimana dalam salah satu riwayat hadist, Rasulullah bersabda:
&amp;#1571;&amp;#1605;&amp;#1585;&amp;#1614;&amp;#1606;&amp;#1614;&amp;#1575; &amp;#1585;&amp;#1587;&amp;#1608;&amp;#1604;&amp;#1615; &amp;#1575;&amp;#1604;&amp;#1604;&amp;#1607; &amp;#1589;&amp;#1604;&amp;#1609; &amp;#1575;&amp;#1604;&amp;#1604;&amp;#1607; &amp;#1593;&amp;#1604;&amp;#1610;&amp;#1607; &amp;#1608;&amp;#1587;&amp;#1604;&amp;#1605; &amp;#1571;&amp;#1606; &amp;#1606;&amp;#1606;&amp;#1587;&amp;#1603;&amp;#1614; &amp;#1604;&amp;#1585;&amp;#1572;&amp;#1610;&amp;#1578;&amp;#1607;&amp;#1548; &amp;#1601;&amp;#1573;&amp;#1606; &amp;#1604;&amp;#1605; &amp;#1606;&amp;#1614;&amp;#1585;&amp;#1607;&amp;#1615; &amp;#1601;&amp;#1588;&amp;#1614;&amp;#1607;&amp;#1583;&amp;#1614; &amp;#1588;&amp;#1575;&amp;#1607;&amp;#1583;&amp;#1575;&amp;#1606; &amp;#1593;&amp;#1583;&amp;#1604;&amp;#1575;&amp;#1606;&amp;#1616; &amp;#1606;&amp;#1614;&amp;#1587;&amp;#1614;&amp;#1603;&amp;#1618;&amp;#1606;&amp;#1575; &amp;#1576;&amp;#1588;&amp;#1607;&amp;#1575;&amp;#1583;&amp;#1578;&amp;#1610;&amp;#1607;&amp;#1605;&amp;#1575;
Artinya:&amp;ldquo;Rasulullah SAW telah memerintahkan kami untuk berpuasa dengan melihat bulan, jika kami tidak melihatnya, maka kami sudah berpuasa dengan kesaksian dua orang,&quot;(HR. Abu Daud).
Beberapa hadits Nabi Muhammad menjelaskan, bahwa awal puasa Ramadhan adalah dengan penentuan melihat Hilal (Rukyatul hilal).
&quot;Demikian cara yang disyariatkan pada awalnya oleh Nabi Muhammad SAW, untuk mengetahui waktu masuknya puasa atau lebaran dengan cara melihat hilal karena cara ini dinilai yang paling mudah dan praktis pada saat itu oleh seluruh sahabat, dan umat Islam dalam menentukan kapan masuk puasa. Rasulullah dalam banyak sabdanya memberikan petunjuk, yaitu tentang melihat hilal,&quot; tutur Ustadz Ainul Yaqin saat dihubungi Okezone, Selasa (21/4/2020).
(Baca Juga : Ini Doa Rasulullah Ketika Melihat Hilal Ramadhan)
Nabi Muhammad bersabda:
&amp;#1589;&amp;#1615;&amp;#1608;&amp;#1605;&amp;#1615;&amp;#1608;&amp;#1575; &amp;#1604;&amp;#1616;&amp;#1585;&amp;#1615;&amp;#1572;&amp;#1618;&amp;#1610;&amp;#1614;&amp;#1578;&amp;#1616;&amp;#1607;&amp;#1616; &amp;#1608;&amp;#1614;&amp;#1571;&amp;#1614;&amp;#1601;&amp;#1618;&amp;#1591;&amp;#1616;&amp;#1585;&amp;#1615;&amp;#1608;&amp;#1575; &amp;#1604;&amp;#1616;&amp;#1585;&amp;#1615;&amp;#1572;&amp;#1618;&amp;#1610;&amp;#1614;&amp;#1578;&amp;#1616;&amp;#1607;&amp;#1616;
Artinya: &quot;Berpuasalah kamu saat melihatnya (hilal) dan berifthar (lebaran) saat melihatnya.&quot; (HR. Bukhari dan Muslim).
Kemudian dalam riwayat hadist lainnya juga menjelaskan:
&amp;#1589;&amp;#1615;&amp;#1608;&amp;#1605;&amp;#1615;&amp;#1608;&amp;#1575; &amp;#1604;&amp;#1616;&amp;#1585;&amp;#1615;&amp;#1572;&amp;#1618;&amp;#1610;&amp;#1614;&amp;#1578;&amp;#1616;&amp;#1607;&amp;#1616; &amp;#1608;&amp;#1614;&amp;#1571;&amp;#1614;&amp;#1601;&amp;#1618;&amp;#1591;&amp;#1616;&amp;#1585;&amp;#1615;&amp;#1608;&amp;#1575; &amp;#1604;&amp;#1616;&amp;#1585;&amp;#1615;&amp;#1572;&amp;#1618;&amp;#1610;&amp;#1614;&amp;#1578;&amp;#1616;&amp;#1607;&amp;#1616; &amp;#1601;&amp;#1614;&amp;#1573;&amp;#1616;&amp;#1606;&amp;#1618; &amp;#1581;&amp;#1614;&amp;#1575;&amp;#1604; &amp;#1576;&amp;#1614;&amp;#1610;&amp;#1618;&amp;#1606;&amp;#1614;&amp;#1603;&amp;#1615;&amp;#1605;&amp;#1618; &amp;#1608;&amp;#1614;&amp;#1576;&amp;#1614;&amp;#1610;&amp;#1618;&amp;#1606;&amp;#1614;&amp;#1607;&amp;#1615; &amp;#1587;&amp;#1614;&amp;#1581;&amp;#1614;&amp;#1575;&amp;#1576;&amp;#1614;&amp;#1577;&amp;#1612;  &amp;#1601;&amp;#1614;&amp;#1571;&amp;#1614;&amp;#1603;&amp;#1618;&amp;#1605;&amp;#1616;&amp;#1604;&amp;#1615;&amp;#1608;&amp;#1575; &amp;#1575;&amp;#1604;&amp;#1618;&amp;#1593;&amp;#1616;&amp;#1583;&amp;#1617;&amp;#1614;&amp;#1577;&amp;#1614; &amp;#1608;&amp;#1614;&amp;#1604;&amp;#1575;&amp;#1614; &amp;#1578;&amp;#1614;&amp;#1587;&amp;#1618;&amp;#1578;&amp;#1614;&amp;#1602;&amp;#1618;&amp;#1576;&amp;#1616;&amp;#1604;&amp;#1615;&amp;#1608;&amp;#1575; &amp;#1575;&amp;#1604;&amp;#1588;&amp;#1617;&amp;#1614;&amp;#1607;&amp;#1618;&amp;#1585;&amp;#1614; &amp;#1575;&amp;#1587;&amp;#1618;&amp;#1578;&amp;#1616;&amp;#1602;&amp;#1618;&amp;#1576;&amp;#1614;&amp;#1575;&amp;#1604;&amp;#1575;&amp;#1611;
Artinya: &quot;Berpuasalah kamu dengan melihat hilal dan berbukalah kamu dengan melihatnya juga. Tetapi bila ada awan yang menghalangi, maka genapkanlah hitungan dan janganlah menyambut bulan baru.&quot; (HR. An-Nasa&amp;rsquo;i dan Al-Hakim).</content:encoded></item></channel></rss>
