<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Waspada, COVID-19 Memicu Kekerasan Dalam Rumah Tangga</title><description>Selain menyebabkan krisis kesehatan, krisis sosial dan ekonomi, corona juga memicu naiknya kasus KDRT.</description><link>https://www.okezone.com/read/2020/04/21/620/2202628/waspada-covid-19-memicu-kekerasan-dalam-rumah-tangga</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://www.okezone.com/read/2020/04/21/620/2202628/waspada-covid-19-memicu-kekerasan-dalam-rumah-tangga"/><item><title>Waspada, COVID-19 Memicu Kekerasan Dalam Rumah Tangga</title><link>https://www.okezone.com/read/2020/04/21/620/2202628/waspada-covid-19-memicu-kekerasan-dalam-rumah-tangga</link><guid isPermaLink="false">https://www.okezone.com/read/2020/04/21/620/2202628/waspada-covid-19-memicu-kekerasan-dalam-rumah-tangga</guid><pubDate>Selasa 21 April 2020 15:54 WIB</pubDate><dc:creator>Leonardus Selwyn Kangsaputra</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/04/21/620/2202628/waspada-covid-19-memicu-kekerasan-dalam-rumah-tangga-lIsrCZnBqJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb>https://img.okezone.com/okz/300/content/2020/04/21/620/2202628/waspada-covid-19-memicu-kekerasan-dalam-rumah-tangga-tP3qkPjEcn.jpg</thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/04/21/620/2202628/waspada-covid-19-memicu-kekerasan-dalam-rumah-tangga-lIsrCZnBqJ.jpg</image><title></title></images><description>PANDEMI virus corona COVID-19 memiliki dampak besar bagi masyarakat Indonesia dan dunia. Selain menyebabkan krisis kesehatan, krisis sosial dan ekonomi, pandemi ini juga memicu naiknya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Dalam kegiatan INFID webinar series pertama yang diselenggarakan International NGO Forum on Indonesian Development, Ketua Dewan Pengurus INFID dan Sekjen Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) 2009-2020, Dian Kartikasari menyatakan masa isolasi mandiri sangat berpotensi menciptakan konflik dalam rumah tangga.
&amp;ldquo;Pada kondisi normal, kegiatan keluarga lebih banyak dilakukan di luar rumah, sehingga memperkecil tingkat interaksi dan konflik dalam rumah tangga,&amp;rdquo; tutur Dian, dalam siaran pers &amp;ldquo;Urgensi Pendekatan Berbasis Gender dalam Menangani COVID-19&amp;rdquo;.

Dian mengatakan asesmen yang dilakukan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) di 111 komunitas menemukan adanya 86 kasus kekerasan yang terjadi. Menurutnya, jumlah ini bisa jauh lebih besar karena fenomena KDRT layaknya gunung es yang hanya tampak kecil di permukaan.
(Baca Juga : Awas! Nyeri pada Kaki Bisa Jadi Gejala COVID-19)
&amp;ldquo;Kasus kekerasan yang dialami perempuan saat ini sangat beragam mulai dari kekerasan fisik, psikis dan seksual. Salah satu kasus kekerasan yang dialami oleh perempuan kepala keluarga di masa pandemi ini adalah percobaan perkosaan saat berlangsung penyemprotan disinfektan,&amp;rdquo; sambungnya.
Perempuan yang bertugas sebagai kepala keluarga sudah seharusnya mendapat perhatian lebih di masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Usaha promotif dengan memaknai PSBB sebagai hal yang positif, usaha preventif, responsif dan rehabilitatif menjadi penting dalam memperbaiki keadaan.
Data tambahan diungkap Komisioner Komnas Perempuan, Siti Aminah Tardi, sebelum terjadi pandemi, sepanjang 2019 terdapat 75,4% atau 11.105 kasus kekerasan di ranah pribadi dari jumlah total 14.719 kasus kekerasan terhadap perempuan.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNi8wMy8xOS8xLzcwMDY0LzMv&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
&amp;ldquo;Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang dilakukan pemerintah telah berimbas pada terbatasnya layanan seperti penutupan Rumah Singgah maupun Rumah Aman, yang menyebabkan korban tidak tahu harus berlindung ke mana,&amp;rdquo; terang Siti Aminah.
(Baca Juga : Kisah Profesor Jackie Ying, Penemu Alat Tes Cepat Virus Corona Masuk Islam)
Peningkatan kasus kekerasan selama pandemi corona juga terjadi di berbagai belahan dunia lain. Di Tunisia misalnya, terdapat peningkatan laporan kekerasan terhadap perempuan 5 kali lipat pasca lima hari diberlakukannya isolasi mandiri.
Peningkatan KDRT sebesar 40&amp;#8208;50%  juga terjadi di Spanyol. Kondisi ini terjadi sejak diberlakukannya isolasi mandiri. Hal yang sama pun terjadi di Katalunya, Spanyol. Di sana terjadi peningkatan kekerasan hingga sebesar 20%.</description><content:encoded>PANDEMI virus corona COVID-19 memiliki dampak besar bagi masyarakat Indonesia dan dunia. Selain menyebabkan krisis kesehatan, krisis sosial dan ekonomi, pandemi ini juga memicu naiknya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Dalam kegiatan INFID webinar series pertama yang diselenggarakan International NGO Forum on Indonesian Development, Ketua Dewan Pengurus INFID dan Sekjen Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) 2009-2020, Dian Kartikasari menyatakan masa isolasi mandiri sangat berpotensi menciptakan konflik dalam rumah tangga.
&amp;ldquo;Pada kondisi normal, kegiatan keluarga lebih banyak dilakukan di luar rumah, sehingga memperkecil tingkat interaksi dan konflik dalam rumah tangga,&amp;rdquo; tutur Dian, dalam siaran pers &amp;ldquo;Urgensi Pendekatan Berbasis Gender dalam Menangani COVID-19&amp;rdquo;.

Dian mengatakan asesmen yang dilakukan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) di 111 komunitas menemukan adanya 86 kasus kekerasan yang terjadi. Menurutnya, jumlah ini bisa jauh lebih besar karena fenomena KDRT layaknya gunung es yang hanya tampak kecil di permukaan.
(Baca Juga : Awas! Nyeri pada Kaki Bisa Jadi Gejala COVID-19)
&amp;ldquo;Kasus kekerasan yang dialami perempuan saat ini sangat beragam mulai dari kekerasan fisik, psikis dan seksual. Salah satu kasus kekerasan yang dialami oleh perempuan kepala keluarga di masa pandemi ini adalah percobaan perkosaan saat berlangsung penyemprotan disinfektan,&amp;rdquo; sambungnya.
Perempuan yang bertugas sebagai kepala keluarga sudah seharusnya mendapat perhatian lebih di masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Usaha promotif dengan memaknai PSBB sebagai hal yang positif, usaha preventif, responsif dan rehabilitatif menjadi penting dalam memperbaiki keadaan.
Data tambahan diungkap Komisioner Komnas Perempuan, Siti Aminah Tardi, sebelum terjadi pandemi, sepanjang 2019 terdapat 75,4% atau 11.105 kasus kekerasan di ranah pribadi dari jumlah total 14.719 kasus kekerasan terhadap perempuan.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxNi8wMy8xOS8xLzcwMDY0LzMv&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
&amp;ldquo;Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang dilakukan pemerintah telah berimbas pada terbatasnya layanan seperti penutupan Rumah Singgah maupun Rumah Aman, yang menyebabkan korban tidak tahu harus berlindung ke mana,&amp;rdquo; terang Siti Aminah.
(Baca Juga : Kisah Profesor Jackie Ying, Penemu Alat Tes Cepat Virus Corona Masuk Islam)
Peningkatan kasus kekerasan selama pandemi corona juga terjadi di berbagai belahan dunia lain. Di Tunisia misalnya, terdapat peningkatan laporan kekerasan terhadap perempuan 5 kali lipat pasca lima hari diberlakukannya isolasi mandiri.
Peningkatan KDRT sebesar 40&amp;#8208;50%  juga terjadi di Spanyol. Kondisi ini terjadi sejak diberlakukannya isolasi mandiri. Hal yang sama pun terjadi di Katalunya, Spanyol. Di sana terjadi peningkatan kekerasan hingga sebesar 20%.</content:encoded></item></channel></rss>
