<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ambyar! Saat PSBB Dilonggarkan, Warga Jadi Tak Peduli Physical Distancing   </title><description>Hal ini tak lain karena kerumunan mempermudah penyebaran virus antarmanusia.</description><link>https://www.okezone.com/read/2020/05/15/620/2214821/ambyar-saat-psbb-dilonggarkan-warga-jadi-tak-peduli-physical-distancing</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://www.okezone.com/read/2020/05/15/620/2214821/ambyar-saat-psbb-dilonggarkan-warga-jadi-tak-peduli-physical-distancing"/><item><title>Ambyar! Saat PSBB Dilonggarkan, Warga Jadi Tak Peduli Physical Distancing   </title><link>https://www.okezone.com/read/2020/05/15/620/2214821/ambyar-saat-psbb-dilonggarkan-warga-jadi-tak-peduli-physical-distancing</link><guid isPermaLink="false">https://www.okezone.com/read/2020/05/15/620/2214821/ambyar-saat-psbb-dilonggarkan-warga-jadi-tak-peduli-physical-distancing</guid><pubDate>Jum'at 15 Mei 2020 21:43 WIB</pubDate><dc:creator>Martin Bagya Kertiyasa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/05/15/620/2214821/ambyar-saat-psbb-dilonggarkan-warga-jadi-tak-peduli-physical-distancing-xgUugxjS8g.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Bandara. (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb>https://img.okezone.com/okz/300/content/2020/05/15/620/2214821/ambyar-saat-psbb-dilonggarkan-warga-jadi-tak-peduli-physical-distancing-CDv6bVFT2p.jpg</thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/05/15/620/2214821/ambyar-saat-psbb-dilonggarkan-warga-jadi-tak-peduli-physical-distancing-xgUugxjS8g.jpg</image><title>Ilustrasi Bandara. (Foto: Okezone)</title></images><description>PEMERINTAH memang telah mengizinkan beberapa maskapai untuk kembali mengudara. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) memang sudah dilonggarkan.

Sayangnya, pelonggaran PSBB malah membuat orang sembrono. Lihat saja pada kasus McD Sarinah yang menyebabkan orang berjubel.

Belum hilang dari ingatan, kini terjadi penumpukan penumpang di Bandara Soekarno Hatta (Soetta). Dari media sosial terlihat penumpukan penumpang pesawat di Bandara Soekarno-Hatta di tengah pandemi virus corona, tak ada yang namanya pysical distancing di sana.

Beberapa netizen pun kecewa, karena upaya di rumah saja untuk mencegah penularan virus corona bagi mereka jadi sia-sia ketika kerumunan ini terjadi.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Bekasi Timur dr Indah Fitriani, SpPD menjelaskan, sangat mungkin terjadi lonjakan kasus baru virus corona. Hal ini tak lain karena kerumunan mempermudah penyebaran virus antarmanusia.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wNS8xMi8xLzEyMTMyMC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Baca Juga: Fakta-Fakta Penumpukan Penumpang di Bandara Soekarno-Hatta yang Langgar Physical Distancing
&quot;Kerumunan membuat risiko penularan sangat tinggi dan angka kasus baru akan terus meningkat,&quot; kata dr Indah melalui pesan singkat.

Ia mengingatkann juga bahwa banyak kasus COVID-19 ditemukan pada orang-orang dengan gejala ringan atau bahkan tanpa gejala (OTG). Kelompok ini biasanya ada pada mereka berusia muda dan tanpa penyerta penyakit yang daya tahan tubuhnya baik.

Dokter Indah melanjutkan, selagi vaksin belum ditemukan dan mungkin baru ada 1 hingga 2 tahun ke depan, masyarakat diminta terus waspada. &quot;Masyarakat harus siap dengan adanya lonjakan kasus baru dan ini bisa terjadi karena aktivitas dalam kerumunan,&quot; tegasnya.

Dia pun menambahkan, meski memakai masker bukan berarti risiko tertular jadi hilang sama sekali. &quot;Pengaruhnya hanya 1 koma sekian persen, tapi tetap ada risiko tertular,&quot; ungkap dr Indah.
</description><content:encoded>PEMERINTAH memang telah mengizinkan beberapa maskapai untuk kembali mengudara. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) memang sudah dilonggarkan.

Sayangnya, pelonggaran PSBB malah membuat orang sembrono. Lihat saja pada kasus McD Sarinah yang menyebabkan orang berjubel.

Belum hilang dari ingatan, kini terjadi penumpukan penumpang di Bandara Soekarno Hatta (Soetta). Dari media sosial terlihat penumpukan penumpang pesawat di Bandara Soekarno-Hatta di tengah pandemi virus corona, tak ada yang namanya pysical distancing di sana.

Beberapa netizen pun kecewa, karena upaya di rumah saja untuk mencegah penularan virus corona bagi mereka jadi sia-sia ketika kerumunan ini terjadi.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Bekasi Timur dr Indah Fitriani, SpPD menjelaskan, sangat mungkin terjadi lonjakan kasus baru virus corona. Hal ini tak lain karena kerumunan mempermudah penyebaran virus antarmanusia.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wNS8xMi8xLzEyMTMyMC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Baca Juga: Fakta-Fakta Penumpukan Penumpang di Bandara Soekarno-Hatta yang Langgar Physical Distancing
&quot;Kerumunan membuat risiko penularan sangat tinggi dan angka kasus baru akan terus meningkat,&quot; kata dr Indah melalui pesan singkat.

Ia mengingatkann juga bahwa banyak kasus COVID-19 ditemukan pada orang-orang dengan gejala ringan atau bahkan tanpa gejala (OTG). Kelompok ini biasanya ada pada mereka berusia muda dan tanpa penyerta penyakit yang daya tahan tubuhnya baik.

Dokter Indah melanjutkan, selagi vaksin belum ditemukan dan mungkin baru ada 1 hingga 2 tahun ke depan, masyarakat diminta terus waspada. &quot;Masyarakat harus siap dengan adanya lonjakan kasus baru dan ini bisa terjadi karena aktivitas dalam kerumunan,&quot; tegasnya.

Dia pun menambahkan, meski memakai masker bukan berarti risiko tertular jadi hilang sama sekali. &quot;Pengaruhnya hanya 1 koma sekian persen, tapi tetap ada risiko tertular,&quot; ungkap dr Indah.
</content:encoded></item></channel></rss>
