<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Serunya Menjelajah Tambrauw, Sepotong Surga di Ujung Timur Indonesia</title><description>Warga Klabili sangat ramah. Mereka terbuka menerima siapa saja yang datang termasuk wisatawan yang ingin menikmati keindahan alamnya.</description><link>https://www.okezone.com/read/2020/08/23/620/2265990/serunya-menjelajah-tambrauw-sepotong-surga-di-ujung-timur-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://www.okezone.com/read/2020/08/23/620/2265990/serunya-menjelajah-tambrauw-sepotong-surga-di-ujung-timur-indonesia"/><item><title>Serunya Menjelajah Tambrauw, Sepotong Surga di Ujung Timur Indonesia</title><link>https://www.okezone.com/read/2020/08/23/620/2265990/serunya-menjelajah-tambrauw-sepotong-surga-di-ujung-timur-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://www.okezone.com/read/2020/08/23/620/2265990/serunya-menjelajah-tambrauw-sepotong-surga-di-ujung-timur-indonesia</guid><pubDate>Minggu 23 Agustus 2020 08:06 WIB</pubDate><dc:creator>Salman Mardira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/08/23/620/2265990/serunya-menjelajah-tambrauw-sepotong-surga-di-ujung-timur-indonesia-9ZVU4n4wP2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Wisata di Tambrauw (Foto: Salman Mardira/Okezone)</media:content><images><thumb>https://img.okezone.com/okz/300/content/2020/08/23/620/2265990/serunya-menjelajah-tambrauw-sepotong-surga-di-ujung-timur-indonesia-DOO9o2TuOi.jpg</thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/08/23/620/2265990/serunya-menjelajah-tambrauw-sepotong-surga-di-ujung-timur-indonesia-9ZVU4n4wP2.jpg</image><title>Wisata di Tambrauw (Foto: Salman Mardira/Okezone)</title></images><description>Tambrauw, kabupaten di Papua Barat memiliki keindahan alam yang memukau. Terletak di 'kepala burung' Pulau Papua, daerah pemekaran ini banyak spot wisata alam, pengamatan burung (birdwatching) dan pesona bahari yang tersembunyi serta belum tereksplore dengan baik.
Hutan tropis masih sangat lebat di Tambrauw, dijaga baik oleh masyarakat adat setempat. Wilayah ini sudah masuk kawasan konservasi dengan keanekaragaman hayati di dalamnya. Sangat cocok jadi tempat studi flora, fauna dan tempat menikmati alam.
&amp;nbsp;
Okezone berkesempatan berkunjung ke Tambrauw bersama tim Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pada 18-20 Agustus 2020.  Perjalanan darat ke Tambrauw dimulai dari Kota Sorong, membelah hutan hingga ke Sausapor sejauh 120 kilometer.
Melewati Jalan Trans Papua Barat yang baru teraspal sekitar 20-an kilometer dengan mobil jenis dooble cabyn bermesin 2 gardan. Jalanan berliku, penuh tanjakan dan turunan. Menapaki wilayah Malaumkarta, jalanan tak lagi beraspal dan di beberapa titik berkubang. Begitu memasuki Distrik Semlekai jalanan persis arena off road.
Kubangan di sana-sini, mobil berjalan terseok-seok di lumpur. &quot;Kalau sopir tidak tidak pengalaman jangan coba-coba,&quot; kata Jeilan, sopir yang membawa kami. Ya, jalanan Tambrauw yang kayak bubur butuh keahlian dalam menyetir mobil, jika tidak, maka risikonya bisa terjebak di jalan.
Sekitar 76 kilometer perjalanan, rombongan berhenti di Klabili. Hutan di kampung ini sangat asri dan habitat aneka burung endemik seperti cenderawasih, raja udang, kasuari, mino, rangkong, dan lainnya.
Kami disambut tarian asem khas masyarakat Moi. Kemudian dilanjutkan ritual memanggil roh leluhur, meminta izin masuk hutan.
Deputi Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kemenparekraf Rizki Handayani Mustafa menyerahkan bantuan untuk pemandu wisata pemantauan burung seperti tas keril, rompi, kemeja PDL, sepatu gunung, dan monocular.
&quot;Ini sebagai bentuk perhatian kami,&quot; kata Rizki. Menurutnya perlengkapan itu bisa digunakan warga sekitar yang jadi pemandu dalam mendampingi wisatawan.
Warga Klabili sangat ramah. Mereka terbuka menerima siapa saja yang datang termasuk wisatawan yang ingin menikmati keindahan alamnya.
&quot;Siapapun yang masuk di wilayah kami, wilayah moi, kami terima dengan terbuka. Tapi yang penting tetap menghormati adat dari leluhur kami,&quot; kata Kepala Kampung Klabili, Melkior Kalami.
Mereka percaya Hutan Klabili dijaga oleh roh leluhur. &quot;Kalau mau masuk hutan silakan minta izin dulu ke kami, kalau sudah minta izin itu dia akan selamat di hutan.&quot;
&amp;nbsp;Baca juga: Pariwisata Raja Ampat Kembali Dibuka, Wisatawan Wajib Registrasi Online
Dari Klabili, perjalanan berlanjut ke Sausapor. Meski jalanan penuh kubangan, pemandangan kiri-kanan jalan cukup memanjakan mata. Hutan dengan diselimuti kabut, burung-burung beterbangan. Rumah penduduk bisa dihitung dengan jari, bentuknya sangat sederhana. Selebihnya hutan.</description><content:encoded>Tambrauw, kabupaten di Papua Barat memiliki keindahan alam yang memukau. Terletak di 'kepala burung' Pulau Papua, daerah pemekaran ini banyak spot wisata alam, pengamatan burung (birdwatching) dan pesona bahari yang tersembunyi serta belum tereksplore dengan baik.
Hutan tropis masih sangat lebat di Tambrauw, dijaga baik oleh masyarakat adat setempat. Wilayah ini sudah masuk kawasan konservasi dengan keanekaragaman hayati di dalamnya. Sangat cocok jadi tempat studi flora, fauna dan tempat menikmati alam.
&amp;nbsp;
Okezone berkesempatan berkunjung ke Tambrauw bersama tim Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pada 18-20 Agustus 2020.  Perjalanan darat ke Tambrauw dimulai dari Kota Sorong, membelah hutan hingga ke Sausapor sejauh 120 kilometer.
Melewati Jalan Trans Papua Barat yang baru teraspal sekitar 20-an kilometer dengan mobil jenis dooble cabyn bermesin 2 gardan. Jalanan berliku, penuh tanjakan dan turunan. Menapaki wilayah Malaumkarta, jalanan tak lagi beraspal dan di beberapa titik berkubang. Begitu memasuki Distrik Semlekai jalanan persis arena off road.
Kubangan di sana-sini, mobil berjalan terseok-seok di lumpur. &quot;Kalau sopir tidak tidak pengalaman jangan coba-coba,&quot; kata Jeilan, sopir yang membawa kami. Ya, jalanan Tambrauw yang kayak bubur butuh keahlian dalam menyetir mobil, jika tidak, maka risikonya bisa terjebak di jalan.
Sekitar 76 kilometer perjalanan, rombongan berhenti di Klabili. Hutan di kampung ini sangat asri dan habitat aneka burung endemik seperti cenderawasih, raja udang, kasuari, mino, rangkong, dan lainnya.
Kami disambut tarian asem khas masyarakat Moi. Kemudian dilanjutkan ritual memanggil roh leluhur, meminta izin masuk hutan.
Deputi Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kemenparekraf Rizki Handayani Mustafa menyerahkan bantuan untuk pemandu wisata pemantauan burung seperti tas keril, rompi, kemeja PDL, sepatu gunung, dan monocular.
&quot;Ini sebagai bentuk perhatian kami,&quot; kata Rizki. Menurutnya perlengkapan itu bisa digunakan warga sekitar yang jadi pemandu dalam mendampingi wisatawan.
Warga Klabili sangat ramah. Mereka terbuka menerima siapa saja yang datang termasuk wisatawan yang ingin menikmati keindahan alamnya.
&quot;Siapapun yang masuk di wilayah kami, wilayah moi, kami terima dengan terbuka. Tapi yang penting tetap menghormati adat dari leluhur kami,&quot; kata Kepala Kampung Klabili, Melkior Kalami.
Mereka percaya Hutan Klabili dijaga oleh roh leluhur. &quot;Kalau mau masuk hutan silakan minta izin dulu ke kami, kalau sudah minta izin itu dia akan selamat di hutan.&quot;
&amp;nbsp;Baca juga: Pariwisata Raja Ampat Kembali Dibuka, Wisatawan Wajib Registrasi Online
Dari Klabili, perjalanan berlanjut ke Sausapor. Meski jalanan penuh kubangan, pemandangan kiri-kanan jalan cukup memanjakan mata. Hutan dengan diselimuti kabut, burung-burung beterbangan. Rumah penduduk bisa dihitung dengan jari, bentuknya sangat sederhana. Selebihnya hutan.</content:encoded></item></channel></rss>
