<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menerka Masa Depan Industri Fashion, Bertahankah di Era Digital?   </title><description>Salah satu grup luxury terbesar, LVMH kehilangan profit sebesar 84% pada paruh pertama 2020.</description><link>https://www.okezone.com/read/2020/09/19/620/2280409/menerka-masa-depan-industri-fashion-bertahankah-di-era-digital</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://www.okezone.com/read/2020/09/19/620/2280409/menerka-masa-depan-industri-fashion-bertahankah-di-era-digital"/><item><title>Menerka Masa Depan Industri Fashion, Bertahankah di Era Digital?   </title><link>https://www.okezone.com/read/2020/09/19/620/2280409/menerka-masa-depan-industri-fashion-bertahankah-di-era-digital</link><guid isPermaLink="false">https://www.okezone.com/read/2020/09/19/620/2280409/menerka-masa-depan-industri-fashion-bertahankah-di-era-digital</guid><pubDate>Sabtu 19 September 2020 12:50 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Sukardi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/09/19/620/2280409/menerka-masa-depan-industri-fashion-bertahankah-di-era-digital-o0Dp89L4Oc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb>https://img.okezone.com/okz/300/content/2020/09/19/620/2280409/menerka-masa-depan-industri-fashion-bertahankah-di-era-digital-68ca3n9hQn.jpg</thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/09/19/620/2280409/menerka-masa-depan-industri-fashion-bertahankah-di-era-digital-o0Dp89L4Oc.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)</title></images><description>PANDEMI telah menyebabkan hampir semua negara-negara di dunia terkena krisis. Salah satu yang terdampak akibat pandemi Covid-19 ini adalah sektor fesyen.

Sektor fashion, yang lebih mengandalkan toko offline, nampaknya sangat terpukul dengan adanya pandemi ini. Pasalnya, banyak mal dan butik masih ditutup karena pandemi ini.

Bahkan, Bain &amp;amp; Company memprediksi bahwa bisnis luxury seperti fesyen tidak akan bangkit hingga tahun 2022 atau 2023. Salah satu grup luxury terbesar, LVMH kehilangan profit sebesar 84% pada paruh pertama 2020.

Selagi penduduk dunia menutup pintu dan tinggal di tempat masing-masing, memang tak banyak yang bisa ditawarkan sepasang kitten heel manis dari Dior atau trench coat terbaru Burberry, misalnya. Lupakan perhelatan fesyen yang elite dan tertutup&amp;mdash;kini merekalah yang mesti mengetuk pintu rumah penduduk dunia dan menjajakan apa yang mereka bisa.

Perihal ini pun bukan urusan mudah sebab pada eksklusivitas itulah nilai dari fesyen berada. Tanpanya, ia bagai runway tanpa penonton, kaku, kelam, dan tak bernyawa.  Fashion adalah bisnis konservatif yang mengandalkan pengalaman fisik langsung untuk dapat dinilai berharga; sebut saja pekan mode, pengalaman berbelanja di butik, gala dinner lengkap dengan karpet merah. Di ranah digital, ia bak macan kehilangan taringnya.

Hingga detik ini, belum ada usaha yang benar-benar mengguncang bagaimana industri fesyen bekerja di era pandemi. Virtual fashion show tidak akan pernah seseksi pengalaman menonton pertunjukan mode secara langsung. Meskipun e-commerce berhasil mengganjal pemasukan, proporsi pembeli ritel daring tetap tidak melewati batas rata-rata 15% dari total penjualan.

Meski demikian, hidup terus berjalan. Pada akhirnya, fesyen mesti bergabung ke bandwagon digital dan hadir dalam format digital seperti virtual fashion show dan virtual campaign. Tentu, tidak semudah itu.

Tiongkok membuka jalan untuk pekan mode digital pertama pada awal tahun ini, ketika pandemi mulai merebak ke sudut-sudut dunia. Tak lama kemudian, London menjajal Digital Fashion Week pertama mereka. Terakhir, Milan Digital Fashion Week baru saja berakhir pekan lalu.

Meskipun pekan mode di Tiongkok bisa terbilang sukses, tidak demikian di ibu kota mode. nyaris tidak ada nama besar sebagai headline di London Digital Fashion Week bulan Juni lalu. Kampanye virtual pun tampak culun dan hambar, selayaknya video kampanye Chanel untuk koleksi Resort 2021 yang jelek saja belum.

Belum lagi Dior dan segala macam kampanye digitalnya yang amat berusaha relevan untuk Gen Z, mulai dari podcast, filter Instagram, akun TikTok resmi, hingga kursus balet di YouTube. Hah?</description><content:encoded>PANDEMI telah menyebabkan hampir semua negara-negara di dunia terkena krisis. Salah satu yang terdampak akibat pandemi Covid-19 ini adalah sektor fesyen.

Sektor fashion, yang lebih mengandalkan toko offline, nampaknya sangat terpukul dengan adanya pandemi ini. Pasalnya, banyak mal dan butik masih ditutup karena pandemi ini.

Bahkan, Bain &amp;amp; Company memprediksi bahwa bisnis luxury seperti fesyen tidak akan bangkit hingga tahun 2022 atau 2023. Salah satu grup luxury terbesar, LVMH kehilangan profit sebesar 84% pada paruh pertama 2020.

Selagi penduduk dunia menutup pintu dan tinggal di tempat masing-masing, memang tak banyak yang bisa ditawarkan sepasang kitten heel manis dari Dior atau trench coat terbaru Burberry, misalnya. Lupakan perhelatan fesyen yang elite dan tertutup&amp;mdash;kini merekalah yang mesti mengetuk pintu rumah penduduk dunia dan menjajakan apa yang mereka bisa.

Perihal ini pun bukan urusan mudah sebab pada eksklusivitas itulah nilai dari fesyen berada. Tanpanya, ia bagai runway tanpa penonton, kaku, kelam, dan tak bernyawa.  Fashion adalah bisnis konservatif yang mengandalkan pengalaman fisik langsung untuk dapat dinilai berharga; sebut saja pekan mode, pengalaman berbelanja di butik, gala dinner lengkap dengan karpet merah. Di ranah digital, ia bak macan kehilangan taringnya.

Hingga detik ini, belum ada usaha yang benar-benar mengguncang bagaimana industri fesyen bekerja di era pandemi. Virtual fashion show tidak akan pernah seseksi pengalaman menonton pertunjukan mode secara langsung. Meskipun e-commerce berhasil mengganjal pemasukan, proporsi pembeli ritel daring tetap tidak melewati batas rata-rata 15% dari total penjualan.

Meski demikian, hidup terus berjalan. Pada akhirnya, fesyen mesti bergabung ke bandwagon digital dan hadir dalam format digital seperti virtual fashion show dan virtual campaign. Tentu, tidak semudah itu.

Tiongkok membuka jalan untuk pekan mode digital pertama pada awal tahun ini, ketika pandemi mulai merebak ke sudut-sudut dunia. Tak lama kemudian, London menjajal Digital Fashion Week pertama mereka. Terakhir, Milan Digital Fashion Week baru saja berakhir pekan lalu.

Meskipun pekan mode di Tiongkok bisa terbilang sukses, tidak demikian di ibu kota mode. nyaris tidak ada nama besar sebagai headline di London Digital Fashion Week bulan Juni lalu. Kampanye virtual pun tampak culun dan hambar, selayaknya video kampanye Chanel untuk koleksi Resort 2021 yang jelek saja belum.

Belum lagi Dior dan segala macam kampanye digitalnya yang amat berusaha relevan untuk Gen Z, mulai dari podcast, filter Instagram, akun TikTok resmi, hingga kursus balet di YouTube. Hah?</content:encoded></item></channel></rss>
