<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ini Penyebab Pertumbuhan Kredit Loyo di Akhir Tahun</title><description>Bank Indonesia (BI) menilai Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan Oktober 2020 tetap tinggi yakni 23,70%</description><link>https://www.okezone.com/read/2020/12/18/620/2330021/ini-penyebab-pertumbuhan-kredit-loyo-di-akhir-tahun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://www.okezone.com/read/2020/12/18/620/2330021/ini-penyebab-pertumbuhan-kredit-loyo-di-akhir-tahun"/><item><title>Ini Penyebab Pertumbuhan Kredit Loyo di Akhir Tahun</title><link>https://www.okezone.com/read/2020/12/18/620/2330021/ini-penyebab-pertumbuhan-kredit-loyo-di-akhir-tahun</link><guid isPermaLink="false">https://www.okezone.com/read/2020/12/18/620/2330021/ini-penyebab-pertumbuhan-kredit-loyo-di-akhir-tahun</guid><pubDate>Jum'at 18 Desember 2020 11:30 WIB</pubDate><dc:creator>Rina Anggraeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/12/18/620/2330021/ini-penyebab-pertumbuhan-kredit-loyo-di-akhir-tahun-LamsHr7F3b.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Kredit (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb>https://img.okezone.com/okz/300/content/2020/12/18/620/2330021/ini-penyebab-pertumbuhan-kredit-loyo-di-akhir-tahun-exqdYw4BUE.jpeg</thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/12/18/620/2330021/ini-penyebab-pertumbuhan-kredit-loyo-di-akhir-tahun-LamsHr7F3b.jpeg</image><title>Kredit (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menilai Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan Oktober 2020 tetap tinggi yakni 23,70%, dan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap rendah yakni 3,15% (bruto) dan 1,03% (neto). Namun demikian, fungsi intermediasi dari sektor keuangan masih lemah.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, BI memandang bahwa rendahnya pertumbuhan kredit lebih disebabkan oleh sisi permintaan dari dunia usaha, di samping karena persepsi risiko dari sisi penawaran perbankan.

&quot;Ini tercermin dari pertumbuhan kredit pada November 2020 yang masih terkontraksi 1,39% (yoy), sedangkan DPK tumbuh 11,55% (yoy),&quot; Kata Perry dalam siaran pers yang diterima Jakarta, Jumat (18/12/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;BI Diminta Keluarkan Kebijakan untuk Kerek Pertumbuhan Kredit&amp;nbsp;
Lalu, pertumbuhan kredit berpotensi akan meningkat pada sektor-sektor seperti industri makanan dan minuman, Industri Logam Dasar, Industri Kulit dan Alas Kaki, di samping sejumlah sektor-sektor prioritas yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan ekspor.

&quot;Kinerja korporasi  pada sektor-sektor tersebut serta pada UMKM menunjukan perbaikan, tercermin pada peningkatan indikator penjualan dan kemampuan bayar di dunia usaha,&quot;,katanya.

Bank Indonesia akan melanjutkan kebijakan makroprudensial akomodatif, serta memperkuat sinergi dan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, KSSK, perbankan dan dunia usaha untuk mengatasi permasalahan sisi permintaan dan penawaran dalam penyaluran kredit/pembiayaan dari perbankan kepada dunia usaha pada sektor-sektor prioritas.</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menilai Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan Oktober 2020 tetap tinggi yakni 23,70%, dan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap rendah yakni 3,15% (bruto) dan 1,03% (neto). Namun demikian, fungsi intermediasi dari sektor keuangan masih lemah.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, BI memandang bahwa rendahnya pertumbuhan kredit lebih disebabkan oleh sisi permintaan dari dunia usaha, di samping karena persepsi risiko dari sisi penawaran perbankan.

&quot;Ini tercermin dari pertumbuhan kredit pada November 2020 yang masih terkontraksi 1,39% (yoy), sedangkan DPK tumbuh 11,55% (yoy),&quot; Kata Perry dalam siaran pers yang diterima Jakarta, Jumat (18/12/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;BI Diminta Keluarkan Kebijakan untuk Kerek Pertumbuhan Kredit&amp;nbsp;
Lalu, pertumbuhan kredit berpotensi akan meningkat pada sektor-sektor seperti industri makanan dan minuman, Industri Logam Dasar, Industri Kulit dan Alas Kaki, di samping sejumlah sektor-sektor prioritas yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan ekspor.

&quot;Kinerja korporasi  pada sektor-sektor tersebut serta pada UMKM menunjukan perbaikan, tercermin pada peningkatan indikator penjualan dan kemampuan bayar di dunia usaha,&quot;,katanya.

Bank Indonesia akan melanjutkan kebijakan makroprudensial akomodatif, serta memperkuat sinergi dan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, KSSK, perbankan dan dunia usaha untuk mengatasi permasalahan sisi permintaan dan penawaran dalam penyaluran kredit/pembiayaan dari perbankan kepada dunia usaha pada sektor-sektor prioritas.</content:encoded></item></channel></rss>
