<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Vitamin D Bukan Obat Covid-19!</title><description>Tapi, apakah peran vitamin D ini benar cukup penting dalam proses penyembuhannya?</description><link>https://www.okezone.com/read/2021/07/10/620/2438646/vitamin-d-bukan-obat-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://www.okezone.com/read/2021/07/10/620/2438646/vitamin-d-bukan-obat-covid-19"/><item><title> Vitamin D Bukan Obat Covid-19!</title><link>https://www.okezone.com/read/2021/07/10/620/2438646/vitamin-d-bukan-obat-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://www.okezone.com/read/2021/07/10/620/2438646/vitamin-d-bukan-obat-covid-19</guid><pubDate>Sabtu 10 Juli 2021 15:36 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Sukardi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/07/10/620/2438646/vitamin-d-bukan-obat-covid-19-qqjsjAeRhk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb>https://img.okezone.com/okz/300/content/2021/07/10/620/2438646/vitamin-d-bukan-obat-covid-19-MA97bWrNXE.jpg</thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/07/10/620/2438646/vitamin-d-bukan-obat-covid-19-qqjsjAeRhk.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Freepik)</title></images><description>VITAMIN D memang menjadi salah satu vitamin yang direkomendasikan untuk membantu mempertahankan bahkan meningkatkan imunitas. Tidak heran, jika kemudian vitamin D pun banyak dicari oleh masyarakat.

Bahkan, para penderita Covid-19 pun disarankan untuk mendapatkan vitamin D. Tapi, apakah peran vitamin D ini benar cukup penting dalam proses penyembuhannya?

Ketua Satgas PB IDI Prof Zubairi Djoerban mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada bukti kuat secara ilmiah menegaskan vitamin D sebagai pengobatan atau pencegahan Covid-19.

&quot;Telah diklaim bahwa vitamin D adalah pengobatan atau pencegahan untuk penyakit Covid-19. Mungkin saja. Semua kemungkinan terbuka dari studi-studi yang dilakukan dan saya akan selalu mendukung studi-studi tersebut. Tapi, memang belum ada cukup bukti untuk memastikannya,&quot; kata Prof Zubairi di Twitternya.

Meski belum ada cukup bukti yang menyatakan bahwa vitamin D bisa menjadi obat atau pencegah Covid-19, Prof Beri, sapaan akrabnya, tak menampik bahwa vitamin D memberi manfaat ke tubuh.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8wNy8wNy8xLzEzNjA2Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
&quot;Vitamin D itu diperlukan untuk kesehatan tulang, gigi, dan sistem kekebalan tubuh. Vitamin ini sudah ada di dalam tubuh dan mampu diproduksi secara alami oleh tubuh dari sinar matahari yang diserap kulit,&quot; paparnya.

Karena cara kerjanya vitamin D ini membutuhkan sinar matahari, penting bagi semua orang yang mengonsumsi vitamin D tetap terpajan sinar matahari. Karena, kalau tidak maka efek vitamin D yang dikonsumsi tidak akan maksimal di tubuh.

Itu kenapa, di negara-negara dengan pajanan matahari yang tidak sebanyak Indonesia, dalam hal ini Prof Beri memberi contoh Inggris, banyak kelompok individu yang mengalami masalah kekurangan vitamin D.

&quot;Di Inggris, ketika menjelang musim dingin, warganya akan disarankan mengonsumsi vitamin D. Bahkan, khusus musim dingin kemarin, pemerintah Inggris memberikan suplemen vitamin D secara gratis untuk orang-orang yang berisiko terhadap Covid-19,&quot; ungkap Prof Beri.

Nah, terkait dengan pernyataan apakah vitamin D bisa mencegah seseorang terinfeksi Covid-19, Prof Beri menyatakan bahwa berdasar hasil studi ilmiah yang dilakukan Universitas Northwestern, ternyata benar ada hubungan antara kekurangan vitamin D dengan infeksi virus corona.

&quot;Mereka juga menyatakan bahwa pasien dari negara-negara dengan tingkat kematian Covid-19 tinggi diketahui memiliki kadar vitamin D yang rendah. Tapi, para peneliti memberikan catatan terhadap hasil penelitiannya tersebut,&quot; kata Prof Beri.
</description><content:encoded>VITAMIN D memang menjadi salah satu vitamin yang direkomendasikan untuk membantu mempertahankan bahkan meningkatkan imunitas. Tidak heran, jika kemudian vitamin D pun banyak dicari oleh masyarakat.

Bahkan, para penderita Covid-19 pun disarankan untuk mendapatkan vitamin D. Tapi, apakah peran vitamin D ini benar cukup penting dalam proses penyembuhannya?

Ketua Satgas PB IDI Prof Zubairi Djoerban mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada bukti kuat secara ilmiah menegaskan vitamin D sebagai pengobatan atau pencegahan Covid-19.

&quot;Telah diklaim bahwa vitamin D adalah pengobatan atau pencegahan untuk penyakit Covid-19. Mungkin saja. Semua kemungkinan terbuka dari studi-studi yang dilakukan dan saya akan selalu mendukung studi-studi tersebut. Tapi, memang belum ada cukup bukti untuk memastikannya,&quot; kata Prof Zubairi di Twitternya.

Meski belum ada cukup bukti yang menyatakan bahwa vitamin D bisa menjadi obat atau pencegah Covid-19, Prof Beri, sapaan akrabnya, tak menampik bahwa vitamin D memberi manfaat ke tubuh.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8wNy8wNy8xLzEzNjA2Ni8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
&quot;Vitamin D itu diperlukan untuk kesehatan tulang, gigi, dan sistem kekebalan tubuh. Vitamin ini sudah ada di dalam tubuh dan mampu diproduksi secara alami oleh tubuh dari sinar matahari yang diserap kulit,&quot; paparnya.

Karena cara kerjanya vitamin D ini membutuhkan sinar matahari, penting bagi semua orang yang mengonsumsi vitamin D tetap terpajan sinar matahari. Karena, kalau tidak maka efek vitamin D yang dikonsumsi tidak akan maksimal di tubuh.

Itu kenapa, di negara-negara dengan pajanan matahari yang tidak sebanyak Indonesia, dalam hal ini Prof Beri memberi contoh Inggris, banyak kelompok individu yang mengalami masalah kekurangan vitamin D.

&quot;Di Inggris, ketika menjelang musim dingin, warganya akan disarankan mengonsumsi vitamin D. Bahkan, khusus musim dingin kemarin, pemerintah Inggris memberikan suplemen vitamin D secara gratis untuk orang-orang yang berisiko terhadap Covid-19,&quot; ungkap Prof Beri.

Nah, terkait dengan pernyataan apakah vitamin D bisa mencegah seseorang terinfeksi Covid-19, Prof Beri menyatakan bahwa berdasar hasil studi ilmiah yang dilakukan Universitas Northwestern, ternyata benar ada hubungan antara kekurangan vitamin D dengan infeksi virus corona.

&quot;Mereka juga menyatakan bahwa pasien dari negara-negara dengan tingkat kematian Covid-19 tinggi diketahui memiliki kadar vitamin D yang rendah. Tapi, para peneliti memberikan catatan terhadap hasil penelitiannya tersebut,&quot; kata Prof Beri.
</content:encoded></item></channel></rss>
