<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Fenomena Bayi Silver: Wajah Jalanan Adalah Wajah Kita Semua</title><description>Jasra mengomentari adanya fenomen 'Manusia Silver' yang dilakoni oleh seorang ibu dan bayi di kawasan Tangerang Selatan, Banten.</description><link>https://www.okezone.com/read/2021/09/28/620/2477954/fenomena-bayi-silver-wajah-jalanan-adalah-wajah-kita-semua</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://www.okezone.com/read/2021/09/28/620/2477954/fenomena-bayi-silver-wajah-jalanan-adalah-wajah-kita-semua"/><item><title>Fenomena Bayi Silver: Wajah Jalanan Adalah Wajah Kita Semua</title><link>https://www.okezone.com/read/2021/09/28/620/2477954/fenomena-bayi-silver-wajah-jalanan-adalah-wajah-kita-semua</link><guid isPermaLink="false">https://www.okezone.com/read/2021/09/28/620/2477954/fenomena-bayi-silver-wajah-jalanan-adalah-wajah-kita-semua</guid><pubDate>Selasa 28 September 2021 11:08 WIB</pubDate><dc:creator>Komaruddin Bagja</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/09/28/620/2477954/fenomena-bayi-silver-wajah-jalanan-adalah-wajah-kita-semua-wR8cIuvc6S.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Istimewa</media:content><images><thumb>https://img.okezone.com/okz/300/content/2021/09/28/620/2477954/fenomena-bayi-silver-wajah-jalanan-adalah-wajah-kita-semua-rnMlt10Wam.jpg</thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/09/28/620/2477954/fenomena-bayi-silver-wajah-jalanan-adalah-wajah-kita-semua-wR8cIuvc6S.jpg</image><title>Foto: Istimewa</title></images><description>JAKARTA - Kadiswasmonev KPAI Jasra Putra mengatakan, siapa yang tidak miris, melihat bayi 10 bulan di cat silver, yang merupakan cat sablon dicampur minyak goreng atau minyak tanah.

Jasra mengomentari adanya fenomen 'Manusia Silver' yang dilakoni oleh seorang ibu dan bayi di kawasan Tangerang Selatan, Banten.

&quot;Bayi butuh dukungan khusus dan berkebutuhan khusus dalam tumbuh kembangnya, harus ditutup pori pori kulitnya demi uang yang tidak seberapa, sedangkan resiko tinggi menanti bayi tersebut. Apa di benak orang tuanya, yang tiap hari mendapat setoran 20ribu demi tetangganya, setelah bayinya di eksploitasi di jalanan. Tentu sangat tidak masuk ke daya nalar atau rasionalitas kita. Tapi di masa pandemi, kisah ini terjadi. Tentu tidak mudah, menjalankan fungsi pengawasan di jalanan, di era pembatasan dan pengurangan akses,&quot; urai Jasra kepada wartawan, Selasa (28/9/2021).

Hal ini terbukti dengan Survey KPAI terhadap pekerja anak di masa pandemi Covid 19 yang meningkat, dari survey ini terkonfirmasi beban keluarga menjadi pemicu memperkerjakan anak.

Baca Juga: KPAI Soroti Kasus Bocah Bunuh Diri di Sleman, Orangtua Harus Peka Psikis Anak

Data pengaduan KPAI juga mencatat selama pandemi, dominasi pengaduan tentang situasi  dan  kondisi anak di keluarga mulai dari anak terlantar sampai di lacurkan. Artinya situasi ini yang di alami bayi silver 10 bulan, karena kurangnya pengawasan orang tua selama pandemi, hal ini terbukti dari pernyataan sang ibunda bayi yang merasa telah menitipkan anaknya ke tetangga dan tidak tahu bila di eksploitasi di jalanan menjadi bayi silver, apakah benar seperti itu? Tentu perlu di gali lebih dalam.

Sebenarnya  kisah bayi silver, anak silver, remaja silver sudah sering kita saksikan. Mengecat seluruh tubuh dengan silver awalnya di gunakan untuk mengalang kepedulian, dengan seolah olah beratraksi budaya, namun belakangan menjadi tren meminta minta di jalan. Padahal ada larangan mengemis di jalan, bahkan yang memberi bisa dapat hukuman.

&quot;Namun kisah serupa bayi silver dengan modus mengemis, juga kita saksikan di jalanan. Semenjak pemerintah melarang mereka di jalan, dan bahkan yang memberi di jalan kena resiko sanksi,  mereka tidak kehabisan akal, dengan merubah pola, agar seolah olah bukan mengemis. Ada lebih memilih keluar malam hari, karena minim petugas yang mengawasi,&quot; tegasnya.

Seperti anak anak yang seolah olah menjual tissue atau buku, tapi setelah mendekat ke pembelinya mereka bilang butuh makan atau meminta sedikit uang.

Ada juga mereka yang menepi di pinggir jalan dengan gerobak atau biasa kita sebut manusia gerobak, mereka hanya memakirkan gerobaknya dan membawa sejumlah anggota keluarga, yang menimbulkan empati bagi yang melewati mereka.

</description><content:encoded>JAKARTA - Kadiswasmonev KPAI Jasra Putra mengatakan, siapa yang tidak miris, melihat bayi 10 bulan di cat silver, yang merupakan cat sablon dicampur minyak goreng atau minyak tanah.

Jasra mengomentari adanya fenomen 'Manusia Silver' yang dilakoni oleh seorang ibu dan bayi di kawasan Tangerang Selatan, Banten.

&quot;Bayi butuh dukungan khusus dan berkebutuhan khusus dalam tumbuh kembangnya, harus ditutup pori pori kulitnya demi uang yang tidak seberapa, sedangkan resiko tinggi menanti bayi tersebut. Apa di benak orang tuanya, yang tiap hari mendapat setoran 20ribu demi tetangganya, setelah bayinya di eksploitasi di jalanan. Tentu sangat tidak masuk ke daya nalar atau rasionalitas kita. Tapi di masa pandemi, kisah ini terjadi. Tentu tidak mudah, menjalankan fungsi pengawasan di jalanan, di era pembatasan dan pengurangan akses,&quot; urai Jasra kepada wartawan, Selasa (28/9/2021).

Hal ini terbukti dengan Survey KPAI terhadap pekerja anak di masa pandemi Covid 19 yang meningkat, dari survey ini terkonfirmasi beban keluarga menjadi pemicu memperkerjakan anak.

Baca Juga: KPAI Soroti Kasus Bocah Bunuh Diri di Sleman, Orangtua Harus Peka Psikis Anak

Data pengaduan KPAI juga mencatat selama pandemi, dominasi pengaduan tentang situasi  dan  kondisi anak di keluarga mulai dari anak terlantar sampai di lacurkan. Artinya situasi ini yang di alami bayi silver 10 bulan, karena kurangnya pengawasan orang tua selama pandemi, hal ini terbukti dari pernyataan sang ibunda bayi yang merasa telah menitipkan anaknya ke tetangga dan tidak tahu bila di eksploitasi di jalanan menjadi bayi silver, apakah benar seperti itu? Tentu perlu di gali lebih dalam.

Sebenarnya  kisah bayi silver, anak silver, remaja silver sudah sering kita saksikan. Mengecat seluruh tubuh dengan silver awalnya di gunakan untuk mengalang kepedulian, dengan seolah olah beratraksi budaya, namun belakangan menjadi tren meminta minta di jalan. Padahal ada larangan mengemis di jalan, bahkan yang memberi bisa dapat hukuman.

&quot;Namun kisah serupa bayi silver dengan modus mengemis, juga kita saksikan di jalanan. Semenjak pemerintah melarang mereka di jalan, dan bahkan yang memberi di jalan kena resiko sanksi,  mereka tidak kehabisan akal, dengan merubah pola, agar seolah olah bukan mengemis. Ada lebih memilih keluar malam hari, karena minim petugas yang mengawasi,&quot; tegasnya.

Seperti anak anak yang seolah olah menjual tissue atau buku, tapi setelah mendekat ke pembelinya mereka bilang butuh makan atau meminta sedikit uang.

Ada juga mereka yang menepi di pinggir jalan dengan gerobak atau biasa kita sebut manusia gerobak, mereka hanya memakirkan gerobaknya dan membawa sejumlah anggota keluarga, yang menimbulkan empati bagi yang melewati mereka.

</content:encoded></item></channel></rss>
