<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mengenal Perbedaan Stres dan Cemas, Mana yang Lebih Berbahaya?   </title><description></description><link>https://www.okezone.com/read/2021/11/15/620/2501923/mengenal-perbedaan-stres-dan-cemas-mana-yang-lebih-berbahaya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://www.okezone.com/read/2021/11/15/620/2501923/mengenal-perbedaan-stres-dan-cemas-mana-yang-lebih-berbahaya"/><item><title>Mengenal Perbedaan Stres dan Cemas, Mana yang Lebih Berbahaya?   </title><link>https://www.okezone.com/read/2021/11/15/620/2501923/mengenal-perbedaan-stres-dan-cemas-mana-yang-lebih-berbahaya</link><guid isPermaLink="false">https://www.okezone.com/read/2021/11/15/620/2501923/mengenal-perbedaan-stres-dan-cemas-mana-yang-lebih-berbahaya</guid><pubDate>Senin 15 November 2021 12:19 WIB</pubDate><dc:creator>Tim Okezone</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/11/15/620/2501923/mengenal-perbedaan-stres-dan-cemas-mana-yang-lebih-berbahaya-mc9dmhD09A.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb>https://img.okezone.com/okz/300/content/2021/11/15/620/2501923/mengenal-perbedaan-stres-dan-cemas-mana-yang-lebih-berbahaya-ZBFqQgFRvV.jpg</thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/11/15/620/2501923/mengenal-perbedaan-stres-dan-cemas-mana-yang-lebih-berbahaya-mc9dmhD09A.jpg</image><title>Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)</title></images><description>PANDEMI Covid-19 memang bisa membuat seseorang mengalami stres, apalagi ketika mereka terpapar Covid-19. Tapi, ada juga mereka yang memiliki kekhawatiran berlebihan terhadap segala sesuatau.

Lantas, apa bedanya stres dengan cemas? Biasanya stres terjadi karena sebagian besar berasal dari faktor eksternal. Sedangkan kecemasan, biasanya terjadi karena faktor internal.

Memang, stres dan kecemasan (anxiety) sering dianggap sebagai hal yang sama, padahal keduanya memiliki perbedaan meski sama-sama berdampak pada fisik dan mental.

Psikolog klinis India dan pendiri Talk To Me, Narendra Kinger mengatakan meskipun seseorang dapat memicu timbulnya stres dari dalam diri sendiri melalui self-talk negatif, sikap pesimis, atau kebutuhan untuk perfeksionisme, namun tetap lebih banyak berasal dari faktor eksternal.

&quot;Terlalu banyak tanggung jawab atau proyek kerja berisiko tinggi biasanya dapat memicu respons stres. Kecemasan, di sisi lain, sebagian besar bersifat internal dan tergantung pada bagaimana Anda bereaksi terhadap stres,&quot; ujar Kinger seperti dilansir Antara dari Indian Express.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMS8xMC8xLzE0MTUyMy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Pada banyak kasus, seseorang yang telah berhasil menghilangkan masih memungkinkan untuk merasa kewalahan atau tertekan. Perasaan inilah yang disebut sebagai kecemasan.

&quot;Ini adalah reaksi atau respons yang berlebihan terhadap situasi tertentu. Jika kekhawatiran dan kesusahan yang Anda rasakan dalam situasi tertentu tidak biasa, berlebihan, atau berlangsung lebih lama daripada kebanyakan orang lain, itu mungkin kecemasan bukan stres,&quot; kata Kinger.

Dr Karthiyayini Mahadevan, Kepala Kesehatan dan Kesejahteraan di Columbia Pacific Communities menjelaskan, kecemasan merupakan reaksi psikologis terhadap setiap perubahan yang terjadi. Reaksi ini umumnya muncul dari rasa takut sebagai respons keadaan yang tidak terkondisi atau di luar ekspektasi.

&quot;Reaksi luar biasa terhadap stres membawa kecemasan pada tingkat emosional. Stres sangat penting untuk menjaga percikan kehidupan sementara kecemasan menghabiskan hidup,&quot; kata Mahadevan.
</description><content:encoded>PANDEMI Covid-19 memang bisa membuat seseorang mengalami stres, apalagi ketika mereka terpapar Covid-19. Tapi, ada juga mereka yang memiliki kekhawatiran berlebihan terhadap segala sesuatau.

Lantas, apa bedanya stres dengan cemas? Biasanya stres terjadi karena sebagian besar berasal dari faktor eksternal. Sedangkan kecemasan, biasanya terjadi karena faktor internal.

Memang, stres dan kecemasan (anxiety) sering dianggap sebagai hal yang sama, padahal keduanya memiliki perbedaan meski sama-sama berdampak pada fisik dan mental.

Psikolog klinis India dan pendiri Talk To Me, Narendra Kinger mengatakan meskipun seseorang dapat memicu timbulnya stres dari dalam diri sendiri melalui self-talk negatif, sikap pesimis, atau kebutuhan untuk perfeksionisme, namun tetap lebih banyak berasal dari faktor eksternal.

&quot;Terlalu banyak tanggung jawab atau proyek kerja berisiko tinggi biasanya dapat memicu respons stres. Kecemasan, di sisi lain, sebagian besar bersifat internal dan tergantung pada bagaimana Anda bereaksi terhadap stres,&quot; ujar Kinger seperti dilansir Antara dari Indian Express.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMS8xMC8xLzE0MTUyMy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Pada banyak kasus, seseorang yang telah berhasil menghilangkan masih memungkinkan untuk merasa kewalahan atau tertekan. Perasaan inilah yang disebut sebagai kecemasan.

&quot;Ini adalah reaksi atau respons yang berlebihan terhadap situasi tertentu. Jika kekhawatiran dan kesusahan yang Anda rasakan dalam situasi tertentu tidak biasa, berlebihan, atau berlangsung lebih lama daripada kebanyakan orang lain, itu mungkin kecemasan bukan stres,&quot; kata Kinger.

Dr Karthiyayini Mahadevan, Kepala Kesehatan dan Kesejahteraan di Columbia Pacific Communities menjelaskan, kecemasan merupakan reaksi psikologis terhadap setiap perubahan yang terjadi. Reaksi ini umumnya muncul dari rasa takut sebagai respons keadaan yang tidak terkondisi atau di luar ekspektasi.

&quot;Reaksi luar biasa terhadap stres membawa kecemasan pada tingkat emosional. Stres sangat penting untuk menjaga percikan kehidupan sementara kecemasan menghabiskan hidup,&quot; kata Mahadevan.
</content:encoded></item></channel></rss>
