<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mengejar Target Produksi Migas Tak Lupakan Tekan Emisi Karbon, Begini Caranya</title><description>Upaya untuk mengejar target produksi minyak dan gas bumi (migas) terus dilakukan lantaran kebutuhan energi terus meningkat.</description><link>https://www.okezone.com/read/2021/12/08/620/2513746/mengejar-target-produksi-migas-tak-lupakan-tekan-emisi-karbon-begini-caranya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://www.okezone.com/read/2021/12/08/620/2513746/mengejar-target-produksi-migas-tak-lupakan-tekan-emisi-karbon-begini-caranya"/><item><title>Mengejar Target Produksi Migas Tak Lupakan Tekan Emisi Karbon, Begini Caranya</title><link>https://www.okezone.com/read/2021/12/08/620/2513746/mengejar-target-produksi-migas-tak-lupakan-tekan-emisi-karbon-begini-caranya</link><guid isPermaLink="false">https://www.okezone.com/read/2021/12/08/620/2513746/mengejar-target-produksi-migas-tak-lupakan-tekan-emisi-karbon-begini-caranya</guid><pubDate>Rabu 08 Desember 2021 11:30 WIB</pubDate><dc:creator>Ahmad Hudayanto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/12/08/620/2513746/mengejar-target-produksi-migas-tak-lupakan-tekan-emisi-karbon-begini-caranya-L3QEHLHrun.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kejar Produksi Migas Tak Lupakan Tekan Emisi Karbon (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb>https://img.okezone.com/okz/300/content/2021/12/08/620/2513746/mengejar-target-produksi-migas-tak-lupakan-tekan-emisi-karbon-begini-caranya-Rk3hfrilq3.jpg</thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/12/08/620/2513746/mengejar-target-produksi-migas-tak-lupakan-tekan-emisi-karbon-begini-caranya-L3QEHLHrun.jpg</image><title>Kejar Produksi Migas Tak Lupakan Tekan Emisi Karbon (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Upaya untuk mengejar target produksi minyak dan gas bumi (migas) terus dilakukan lantaran kebutuhan energi terus meningkat.

Di sisi lain Energi Baru Terbarukan (EBT) yang digadang-gadang bisa menggantikan peran energi fosil belum cukup untuk memenuhi kebutuhan energi dalam waktu dekat.

Belakangan ini isu transisi energi dalam rangka mencapai target Net Zero Emissions semakin gencar. Sektor hulu migas tentu jadi salah satu sorotan utama lantaran termasuk energi fosil yang hasilkan emisi karbon yang tinggi. Namun demikian, untuk di Indonesia ternyata tidak semudah itu meninggalkan migas.

Dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), target bauran energi tahun 2025 diperkirakan mencapai 25% untuk minyak dan gas 22% dari total kebutuhan yang diperkirakan mencapai 400 Million Tonnes of Oil Equivalent (MTOE).

Kemudian persentasenya menurun tahun 2050 untuk minyak 20% dan gas 24%. Akan tetapi dari sisi volume, kebutuhan energi meningkat hingga mencapai 1.000 MTOE. Ini membuktikan bahwa peran energi fosil berupa migas dalam pemenuhan kebutuhan energi masih sangat krusial.

Baca Juga: Sri Mulyani Butuh Anggaran Besar untuk Bebas Emisi Karbon 2060


Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menjelaskan bahwa saat ini dunia dihadapkan pada tantangan untuk mengendalikan pertumbuhan emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Targetnya pada 2030, 45% emisi GRK di level 2010 bisa terpangkas, setelah itu turun menjadi Net-Zero di 2050/2060.

&quot;Perusahaan-perusahaan minyak pun sudah beberapa punya target net zero emissions atau karbon netral di 2050,&quot; kata Fabby di Jakarta, Rabu (8/12/2021).

Menurut dia, salah satu emisi yang tinggi di industri migas adalah gas metana. SKK Migas dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dituntut untuk dapat menekankan upaya penurunan gas metana ini.&amp;nbsp;

&amp;ldquo;Metana punya Global Warming Potential sebesar 20x dari CO2. Jadi mengurangi gas metana, dari sudut pandang pengendalian emisi GRK sebenarnya lebih cost effective,&amp;rdquo; kata Fabby.

</description><content:encoded>JAKARTA - Upaya untuk mengejar target produksi minyak dan gas bumi (migas) terus dilakukan lantaran kebutuhan energi terus meningkat.

Di sisi lain Energi Baru Terbarukan (EBT) yang digadang-gadang bisa menggantikan peran energi fosil belum cukup untuk memenuhi kebutuhan energi dalam waktu dekat.

Belakangan ini isu transisi energi dalam rangka mencapai target Net Zero Emissions semakin gencar. Sektor hulu migas tentu jadi salah satu sorotan utama lantaran termasuk energi fosil yang hasilkan emisi karbon yang tinggi. Namun demikian, untuk di Indonesia ternyata tidak semudah itu meninggalkan migas.

Dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), target bauran energi tahun 2025 diperkirakan mencapai 25% untuk minyak dan gas 22% dari total kebutuhan yang diperkirakan mencapai 400 Million Tonnes of Oil Equivalent (MTOE).

Kemudian persentasenya menurun tahun 2050 untuk minyak 20% dan gas 24%. Akan tetapi dari sisi volume, kebutuhan energi meningkat hingga mencapai 1.000 MTOE. Ini membuktikan bahwa peran energi fosil berupa migas dalam pemenuhan kebutuhan energi masih sangat krusial.

Baca Juga: Sri Mulyani Butuh Anggaran Besar untuk Bebas Emisi Karbon 2060


Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menjelaskan bahwa saat ini dunia dihadapkan pada tantangan untuk mengendalikan pertumbuhan emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Targetnya pada 2030, 45% emisi GRK di level 2010 bisa terpangkas, setelah itu turun menjadi Net-Zero di 2050/2060.

&quot;Perusahaan-perusahaan minyak pun sudah beberapa punya target net zero emissions atau karbon netral di 2050,&quot; kata Fabby di Jakarta, Rabu (8/12/2021).

Menurut dia, salah satu emisi yang tinggi di industri migas adalah gas metana. SKK Migas dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dituntut untuk dapat menekankan upaya penurunan gas metana ini.&amp;nbsp;

&amp;ldquo;Metana punya Global Warming Potential sebesar 20x dari CO2. Jadi mengurangi gas metana, dari sudut pandang pengendalian emisi GRK sebenarnya lebih cost effective,&amp;rdquo; kata Fabby.

</content:encoded></item></channel></rss>
