<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Akses Air Bersih Bisa Jadi Kunci Atasi Stunting di Kawasan Pedesaan   </title><description>Tingkat prevalensi stunting di kawasan Kapuas Hulu sendiri masih di atas rata-rata nasional, yaitu sebanyak 24 persen.</description><link>https://www.okezone.com/read/2022/08/24/620/2653722/akses-air-bersih-bisa-jadi-kunci-atasi-stunting-di-kawasan-pedesaan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://www.okezone.com/read/2022/08/24/620/2653722/akses-air-bersih-bisa-jadi-kunci-atasi-stunting-di-kawasan-pedesaan"/><item><title>Akses Air Bersih Bisa Jadi Kunci Atasi Stunting di Kawasan Pedesaan   </title><link>https://www.okezone.com/read/2022/08/24/620/2653722/akses-air-bersih-bisa-jadi-kunci-atasi-stunting-di-kawasan-pedesaan</link><guid isPermaLink="false">https://www.okezone.com/read/2022/08/24/620/2653722/akses-air-bersih-bisa-jadi-kunci-atasi-stunting-di-kawasan-pedesaan</guid><pubDate>Rabu 24 Agustus 2022 16:32 WIB</pubDate><dc:creator>Novie Fauziah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/08/24/620/2653722/akses-air-bersih-bisa-jadi-kunci-atasi-stunting-di-kawasan-pedesaan-RDHJipa90M.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Anak Stunting. (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb>https://img.okezone.com/okz/300/content/2022/08/24/620/2653722/akses-air-bersih-bisa-jadi-kunci-atasi-stunting-di-kawasan-pedesaan-TsqWVJNH61.jpg</thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/08/24/620/2653722/akses-air-bersih-bisa-jadi-kunci-atasi-stunting-di-kawasan-pedesaan-RDHJipa90M.jpg</image><title>Ilustrasi Anak Stunting. (Foto: Shutterstock)</title></images><description>AKSES air bersih dan sanitasi di kawasan pedesaan Indonesia, terbilang  masih menjadi tantangan tersendiri. Khususnya bagi mereka yang cukup jauh dari perkotaan, seperti di kawasan Desa Sentabai, Kalimantan Barat (Kalbar). Hal ini pun berpengaruh terhadap jumlah stunting di daerah itu.

Menurut data Badan Pusat Statistik, kurang dari 80 persen penduduk memiliki akses terhadap layanan sumber air minum yang layak. Kondisi ini secara tidak langsung dapat memengaruhi asupan gizi anak, sehingga menyebabkan anak sering sakit dan tidak dapat menyerap asupan nutrisi dengan optimal.

Hal tersebut dapat menyebabkan kekurangan gizi kronis pada anak atau sering disebut dengan stunting. Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Sudarso mengatakan, bahwa pada 2019 sebesar 32 persen kasus stunting terjadi di kabupaten tersebut.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOC8wOS8xLzE1MTY4OC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
BACA JUGA:Remaja Kunci Percepatan Penurunan Stunting, Apa Alasannya?

&quot;Tahun ini, angka tersebut mengalami penurunan menjadi 31 persen,&quot; katanya kepada MNC Portal saat melakukan sosialisasi sanitasi dan instalasi air di Dusun Jentu, Desa Sentabai, Kalbar.

Lebih lanjut dia mengatakan, tingkat prevalensi stunting di kawasan Kapuas Hulu sendiri masih di atas rata-rata nasional, yaitu sebanyak 24 persen. Maka dengan adanya bantuan dan sosialisasi tersebut diharapkan dapat lebih menurunkan angka stunting di Kalbar. &quot;Kita harus melakukan berbagai intervensi ke masyarakat untuk menurunkan angka stunting di Kapuas Hulu,&quot; ujarnya.

Sementara itu  Deputy CEO Perkebunan Sinar Mas (PSM) Kalimantan Barat, Benny Setiawan menambahkan, untuk mencegah meningkatnya stunting, salah satunya bisa dilakukan dengan peningkatan kesehatan ibu dan anak melalui ketahanan pangan, yakni menyediakan peralatan bercocok tanam.</description><content:encoded>AKSES air bersih dan sanitasi di kawasan pedesaan Indonesia, terbilang  masih menjadi tantangan tersendiri. Khususnya bagi mereka yang cukup jauh dari perkotaan, seperti di kawasan Desa Sentabai, Kalimantan Barat (Kalbar). Hal ini pun berpengaruh terhadap jumlah stunting di daerah itu.

Menurut data Badan Pusat Statistik, kurang dari 80 persen penduduk memiliki akses terhadap layanan sumber air minum yang layak. Kondisi ini secara tidak langsung dapat memengaruhi asupan gizi anak, sehingga menyebabkan anak sering sakit dan tidak dapat menyerap asupan nutrisi dengan optimal.

Hal tersebut dapat menyebabkan kekurangan gizi kronis pada anak atau sering disebut dengan stunting. Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Sudarso mengatakan, bahwa pada 2019 sebesar 32 persen kasus stunting terjadi di kabupaten tersebut.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wOC8wOS8xLzE1MTY4OC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
BACA JUGA:Remaja Kunci Percepatan Penurunan Stunting, Apa Alasannya?

&quot;Tahun ini, angka tersebut mengalami penurunan menjadi 31 persen,&quot; katanya kepada MNC Portal saat melakukan sosialisasi sanitasi dan instalasi air di Dusun Jentu, Desa Sentabai, Kalbar.

Lebih lanjut dia mengatakan, tingkat prevalensi stunting di kawasan Kapuas Hulu sendiri masih di atas rata-rata nasional, yaitu sebanyak 24 persen. Maka dengan adanya bantuan dan sosialisasi tersebut diharapkan dapat lebih menurunkan angka stunting di Kalbar. &quot;Kita harus melakukan berbagai intervensi ke masyarakat untuk menurunkan angka stunting di Kapuas Hulu,&quot; ujarnya.

Sementara itu  Deputy CEO Perkebunan Sinar Mas (PSM) Kalimantan Barat, Benny Setiawan menambahkan, untuk mencegah meningkatnya stunting, salah satunya bisa dilakukan dengan peningkatan kesehatan ibu dan anak melalui ketahanan pangan, yakni menyediakan peralatan bercocok tanam.</content:encoded></item></channel></rss>
