<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>IDAI Sesalkan Informasi Hoax Berujung KLB Polio di Aceh   </title><description>Penyebab munculnya kasus polio di Pidie, Aceh adalah beredarnya informasi hoax di masyarakat sana.</description><link>https://www.okezone.com/read/2022/11/21/620/2712000/idai-sesalkan-informasi-hoax-berujung-klb-polio-di-aceh</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://www.okezone.com/read/2022/11/21/620/2712000/idai-sesalkan-informasi-hoax-berujung-klb-polio-di-aceh"/><item><title>IDAI Sesalkan Informasi Hoax Berujung KLB Polio di Aceh   </title><link>https://www.okezone.com/read/2022/11/21/620/2712000/idai-sesalkan-informasi-hoax-berujung-klb-polio-di-aceh</link><guid isPermaLink="false">https://www.okezone.com/read/2022/11/21/620/2712000/idai-sesalkan-informasi-hoax-berujung-klb-polio-di-aceh</guid><pubDate>Senin 21 November 2022 19:15 WIB</pubDate><dc:creator>Kevi Laras</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/11/21/620/2712000/idai-sesalkan-informasi-hoax-berujung-klb-polio-di-aceh-UMHAsVpC8Z.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Vaksin Polio. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb>https://img.okezone.com/okz/300/content/2022/11/21/620/2712000/idai-sesalkan-informasi-hoax-berujung-klb-polio-di-aceh-E22G6046Fy.jpg</thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/11/21/620/2712000/idai-sesalkan-informasi-hoax-berujung-klb-polio-di-aceh-UMHAsVpC8Z.jpg</image><title>Ilustrasi Vaksin Polio. (Foto: Reuters)</title></images><description>KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) di Aceh, setelah ditemukannya satu kasus Polio. Kabar ini cukup mengejutkan, mengingat Indonesia sudah bebas polio lebih dari satu dekade.

Penyebab munculnya kasus polio di Pidie, Aceh adalah beredarnya informasi hoax di masyarakat sana. Vaksin polio dianggap membawa masalah, sehingga orangtua memutuskan tidak mengimunisasi anaknya.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Piprim Yanuarso menjelaskan bahwa peran media sosial cukup besar dalam menentukan tinggi-rendahnya cakupan vaksinasi. Sayangnya, di media sosial banyak informasi keliru dan ini memengaruhi keputusan orangtua memvaksin anaknya.

&quot;Isu tidak benar soal vaksin banyak di media sosial, seperti di TikTok, Instagram. Isu tidak bertanggung jawab itu mudah menyebar, dan ini jadi salah satu faktor terbesar rendahnya cakupan vaksinasi,&quot; terang dr Piprim pada awak media, belum lama ini.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8yMC8xLzE1NzIzNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
BACA JUGA:28 November, Kemenkes Gelar Vaksinasi Polio Serentak di Aceh 

Terkait dengan vaksin polio, informasi keliru yang banyak tersebar adalah vaksin ini bisa menyebabkan demam pada anak. Tak hanya itu, vaksin dianggap bisa sebabkan autis hingga ganggu kesehatan tubuh lainnya.

Padahal, hal tersebut tidak benar. Disampaikan Kementerian Kesehatan bahwa vaksin polio tidak berbahaya seperti yang banyak beredar di media sosial.

&quot;Imunisasi polio sangat aman dan efektif. Penggunaannya disetujui dan diawasi oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan sudah digunakan sejak 1980-an di Indonesia,&quot; terang Kemenkes dalam pernyataan resmi yang diterima MNC Portal, Senin (21/11/2022).</description><content:encoded>KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) di Aceh, setelah ditemukannya satu kasus Polio. Kabar ini cukup mengejutkan, mengingat Indonesia sudah bebas polio lebih dari satu dekade.

Penyebab munculnya kasus polio di Pidie, Aceh adalah beredarnya informasi hoax di masyarakat sana. Vaksin polio dianggap membawa masalah, sehingga orangtua memutuskan tidak mengimunisasi anaknya.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Piprim Yanuarso menjelaskan bahwa peran media sosial cukup besar dalam menentukan tinggi-rendahnya cakupan vaksinasi. Sayangnya, di media sosial banyak informasi keliru dan ini memengaruhi keputusan orangtua memvaksin anaknya.

&quot;Isu tidak benar soal vaksin banyak di media sosial, seperti di TikTok, Instagram. Isu tidak bertanggung jawab itu mudah menyebar, dan ini jadi salah satu faktor terbesar rendahnya cakupan vaksinasi,&quot; terang dr Piprim pada awak media, belum lama ini.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8yMC8xLzE1NzIzNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
BACA JUGA:28 November, Kemenkes Gelar Vaksinasi Polio Serentak di Aceh 

Terkait dengan vaksin polio, informasi keliru yang banyak tersebar adalah vaksin ini bisa menyebabkan demam pada anak. Tak hanya itu, vaksin dianggap bisa sebabkan autis hingga ganggu kesehatan tubuh lainnya.

Padahal, hal tersebut tidak benar. Disampaikan Kementerian Kesehatan bahwa vaksin polio tidak berbahaya seperti yang banyak beredar di media sosial.

&quot;Imunisasi polio sangat aman dan efektif. Penggunaannya disetujui dan diawasi oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan sudah digunakan sejak 1980-an di Indonesia,&quot; terang Kemenkes dalam pernyataan resmi yang diterima MNC Portal, Senin (21/11/2022).</content:encoded></item></channel></rss>
