Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

5 Fakta Defisit RAPBN 2021 Jadi 5,2%, Jokowi Minta Sri Mulyani Fokus

Feby Novalius, Jurnalis · Minggu 02 Agustus 2020 10:25 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 01 620 2255464 5-fakta-defisit-rapbn-2021-jadi-5-2-jokowi-minta-sri-mulyani-fokus-YZLjdJgGby.jpg Presiden Joko Widodo. (Foto: Okezone.com/Setkab)

JAKARTA - Pemerintah memutuskan untuk memperlebar defisit Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) 2021 sebesar 5,2% dari PDB. Di mana sebelumnya, defisit sudah dinaikan dari 4,17% menjadi 4,7%.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun meminta jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju mencermati hal tersebut. Dirinya meminta ada prioritas dalam pengelolaan APBN tahun depan.

Okezone pun merangkum melebarnya defisit APBN 2021 sebesar 5,2%, Minggu (2/8/2020):

1. Hati-Hati kata Jokowi

Presiden Joko Widodo meminta agar angka-angka ekonomi makro untuk tahun 2021 harus betul-betul dikalkulasi dengan cermat. Hal ini disampaikan dalam rapat terbatas terkait rancangan postur APBN tahun 2021.

“Hati-hati. Harus optimis tapi juga harus realistis dengan mempertimbangkan kondisi dan proyeksi terkini,” katanya.

2. APBN 2021 Haru Fokus Pulihkan Ekonomi

Jokowi ingin agar di 2021 difokuskan pada pembiayaan percepatan pemulihan ekonomi dan sekaligus penguatan transformasi di berbagai sektor.

“Terutama transformasi di bidang kesehatan, pangan energi, pendidikan dan juga percepatan transformasi digital,” pungkasnya.

3. Demi Rp179 Triliun

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan bahwa dengan pelebaran defisit menjadi 5,2% dalam RAPBN 2021, maka cadangan belanja yang dimiliki pemerintah sebesar Rp179 triliun. Dia mengatakan bahwa hal ini akan digunakan untuk belanja-belanja yang mendukung pemulihan ekonomi tahun depan.

“Kita akan memiliki cadangan belanja sebesar Rp179 triliun. Yang presiden akan tetapkan prioritas belanja untuk betul-betul mendukung pemulihan ekonomi nasional tahun depan,” katanya.

4. Fokus Sri Mulyani

Kemenkeu dan Bappenas sudah dapat banyak tambahan usulan belanja dari seluruh kementerian/lembaga. Dia mengatakan, Presiden Jokowi memintanya untuk memfokuskan kembali belanja-belanja tersebut agar benar-benar dapat memulihkan perekonomian Indonesia.

“Bisa dilakukan untuk pulihkan ekonomi dan ciptakan kesempatan kerja. Serta kurangi kemiskinan secara lebih cepat. Untuk mengejar lagi dampak covid tahun ini yang tingkatkan jumlah pengangguran atau kemiskinan,” tutur Sri Mulyani.

5. Dari 4,17% Jadi 5,2%

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan dalam pembicaraan awal bersama DPR terkait RAPBN 2021, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan antara 4,5% hingga 5,5%. Sementara pada rancangan awal pembicaraan dengan DPR, defisit diproyeksikan 4,17% dari PDB.

“Seperti diketahui DPR telah menyampaikan bahwa mereka menerima rancangan defisit awal sebesar 4,17% dari PDB. Namun dari catatan kesimpulan awal tersebut DPR juga mengindikasi defisit untuk tahun depan bisa dinaikan menjadi 4,7% dari PBD,” ungkapnya.

Namun meski begitu pemerintah memutuskan untuk memperlebar lagi defisit di tahun depan. “Di dalam sidang kabinet pagi ini bapak Presiden memutuskan bahwa kita akan memperbesar defisit menjadi 5,2% dari PDB. Jadi lebih tinggi lagi dari desain awal yang sudah disepakati dan ada catatan DPR lebih tinggi dari 4,7%,” katanya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini