Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pahit Getir Sisca Soewitomo, sang Ratu Boga Indonesia

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 06 Agustus 2020 11:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 06 620 2257798 pahit-getir-sisca-soewitomo-sang-ratu-boga-indonesia-xJi9G3ELQ0.jpg Sisca Soewitomo. (Foto: Instagram @sisca.soewitomo)

NAMA Sisca Soewitomo mendadak hangat diperbincangkan netizen Indonesia, setelah menyatakan bakal pensiun dari dunia kuliner Tanah Air. Tapi rupanya hal itu cuma prank semata loh, Okezoners

Sebelumnya, Sisca Soewitomo menyatakan bahwa dirinya melakukan gantung panci. Namun pada Kamis (6/8/2020), dia mengklarifikasi semuanya. 

Baca Juga: 5 Makanan Pereda Asam Lambung, Tak Perlu Minum Obat

"Sahabat-sahabatku tercinta, setelah puluhan tahun saya di dunia kuliner dan ribuan resep yang sudah saya ciptakan, ini mungkin saat yang tepat untuk gantung panci..," tulis Sisca.

Unggahan itu sontak mencuri perhatian sejumlah pihak. Tak sedikit netizen yang merasa sedih ketika mengetahui chef idola mereka akan pensiun.

 sisca

Bukan tanpa alasan, kontribusi Sisca dalam perkembangan industri kuliner Tanah Air memang tidak terbantahkan lagi. Selain menelurkan ratusan buku resep Nusantar, Sisca juga rutin mempromosikan kuliner Indonesia di kancah internasional.

Namun, ada beberapa fakta menarik yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia tentang sosok wanita yang dijuluki Ratu Boga itu. Dia tidak hanya mampu menciptakan berbagai menu yang lezat, tetapi juga melahirkan chef-chef di Tanah Air.

Sebut saja almarhum Muchtar Alamsyah atau yang lebih populer disapa Chef Tatang, Rudy Choiruddin, Deddy Rustandi, dan Haryanto Makmoer. Mereka adalah murid-murid yang matang, digembleng ilmu kebogaan oleh wanita jebolan Akademi Pariwisata Trisakti ini.

Kala industri kuliner belum booming seperti saat ini, dia sudah lebih dulu malang melintang dan kenyang mengenyam teori, serta praktik kebogaan. Sehingga, pantas jika Sisca disebut sebagai ratu boga Indonesia.

Di kampus lah Sisca memulai kariernya. Di sana dia menuai titik kepopulerannya.

 sisca

"Ini semua berjalan karena latar belakang. Saya ini kan generasi lama, waktu saya kecil pada 1955-1956, tinggal di Surabaya, belum banyak toko kue dan restoran, sehingga harus masak sendiri di rumah," tukas dia kepada Okezone beberapa waktu lalu.

Pada saat itu, Sisca belajar memasak karena sering melihat ibu atau nenek menyiapkan berbagai jenis makanan. Dari situlah dia senang memasak. Saat duduk di kelas 1 SD, Sisca sudah mampu memasak makanan sejenis donat.

Baca Juga: Diisukan Pensiun, Sisca Soewitomo: Terima Kasih Perhatiannya Masyarakat Indonesia

"Dahulu itu belum ada pengembang makanan, tetapi dari ragi yang buat tape," dia menambahkan.

Kemahirannya terus berkembang. Saat SMP Sisca mampu memasak semacam kue bolu beraroma kayu manis, bernama kue ontbijtkoek. Dia memberanikan diri untuk menjual makanan produksinya. Respons atas makanan buatannya pun baik. "SMP saya sudah bisa memasak, dan memperoleh hasil dari kerja saya sendiri," ujarnya.

Kendati sudah memiliki potensi memasak, dia memilih melanjutkan sekolah SMA bukan sekolah kejuruan boga. Lulus SMA, Sisca pindah ke Jakarta untuk melanjutkan studi di bangku kuliah dan memilih fakultas kedokteran sebagai jurusan kuliah. Ya, dia awalnya memang berkeinginan menjadi dokter. Cita-citanya itu kandas di tengah jalan lantaran pada semester kedua, dia memutuskan untuk tidak melanjutkan studinya.

"Saya menikah. Tetapi saya harus membuat sesuatu untuk menambah penghasilan keluarga. Saya pun kuliah lagi, di Trisakti. Dulu ada dua jurusan, yakni perhotelan dan seni rupa. Saya memilih perhotelan, karena saya berpikir tidak perlu capek-capek belajar. Saat itu saya sudah punya dua orang anak. Saya bisa kuliah sambil membesarkan anak," ujar dia.

Menempuh pendidikan di Trisakti, menurut dia banyak mendapatkan berkah. Pada 1974, dia sudah mulai bekerja sebagai field personnel atau pekerja lapangan dalam Pacific Asia Travel Association (PATA) Conference, selama dua minggu.

Baca Juga: Nostalgia Resep Mi Rebus Jawa ala Sisca Soewitomo yang Baru Pensiun

"Saya berhasil lolos, karena saya dulu bisa berbahasa Inggris. Bapak saya dulu kan pegawai Bea Cukai, banyak tamu asing. Jadi saya sudah terbiasa membaca buku dan berbahasa asing," cerita dia sambil tertawa.

Semasa kuliah, dia mendapatkan kesempatan emas menjadi asisten dosen dan berhasil mendapatkan beasiswa American Institute of Baking di Manhattan, Kansas, Amerika Serikat (AS). Di sana dia belajar berbagai macam makanan, seperti roti.

Sepulang dari Negeri Paman Sam, kemahirannya di bidang kuliner semakin tajam. Kariernya di bidang pendidikan boga kian melejit, namanya pun semakin dikenal. "Jabatan saya banyak sekali, tetapi pada 1991 saya justru mengundurkan diri," imbuh dia.

Di saat kariernya sebagai civitas akademika gemilang, dia justru memilih bekerja di sebuah majalah wanita sebagai manager non-redaksi. Dia pun terus berpetualang dengan berbagai profesi di industri boga. "Saya bekerja di pabrik makanan beku, sebagai manager development product. Saya memproduksi nugget dan dimsum, pada 1995-an," cerita dia.

Pada 1997, Sisca memasuki industri siaran televisi. Ada salah satu televisi swasta yang menawari dirinya untuk mengisi program Aroma.

"Saya tidak grogi, karena saya sudah sering demo masak," ujarnya sambil terkekeh. "Pada 1999, saya mulai menerbitkan buku. Saya sudah membuat 104 judul buku resep. 15 di antaranya dibeli Malaysia," tutur wanita yang memiliki suara yang khas.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini