Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Deflasi Juli Dinilai Tak Wajar, Begini Faktanya

Fakhri Rezy, Jurnalis · Sabtu 08 Agustus 2020 06:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 07 620 2258813 deflasi-juli-dinilai-tak-wajar-begini-faktanya-nzLxtAzlTO.jpg Grafik ekonomi (Shutterstock)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis survei Indeks harga Konsumen (IHK) pada Juli 2020. Di mana, Juli 2020 mengalami deflasi 0,1%.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, inflasi kalender (Januari-Juli 2020) mencapai 0,98% dan adapun inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 1,54%.

Maka dari itu, Jakarta, Sabtu (8/8/2020), berikut fakta-fakta mengenai inflasi Juli 2020:

 Baca juga: Inflasi Juli Diprediksi 0,05% Dipicu Kenaikan Harga Emas

1. Deflasi Juli Dinilai Tak Wajar

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, deflasi terjadi di bulan kedua pasca-Lebaran Idul Fitri umumnya tidak wajar. Mengingat pada tahun lalu saja, deflasi terjadi di bulan ke tiga setelah Lebaran.

"Apakah wajar di bulan kedua sesudah Ramadan dan Lebaran malah deflasi. Coba kita lihat 2019, dua bulan sesudah Ramadan Lebaran terjadi deflasi, tidak. Dia (deflasi) terjadinya bulan ketiga," kata dia.

 Baca juga: BPS Catat Juli Terjadi Deflasi 0,10%

Dia mengatakan, ketidakwajaran ini terjadi lantaran kondisi pandemi Covid-19. Sehingga pergerakan inflasi tahun ini pun turut terpengaruh. "Seperti saya sampaikan pergekan inflasi tahun ini beda jauh dengan tahun sebelumnya karena covid," imbuh dia.

2. Inflasi Tahunan hingga Juli 2020 1,54%

inflasi tahunan pada Juli 2020 yang sebesar 1,54% merupakan yang terendah sejak 20 tahun lalu, atau tepatnya sejak Mei 2000. Pada periode itu inflasi tahunan 1,2%.

3. Inflasi Tahunan hingga Juli 2020 Terendah Sejak 20 Tahun

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, kondisi itu memang disebabkan rendahnya permintaan barang dari masyarakat akibat keberadaan pandemi Covid-19. Akibatnya terjadi penurunan harga di sejumlah barang.

"Inflasi tahunannya terendah sejak Mei 2000. Jadi pada bulan itu inflasi 1,2%. Wajar atau tidak karena memang 2020 ini situasinya tidak wajar," ujar Suhariyanto.

4. Andil Terbesar Deflasi Juli 2020

Berdasarkan kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan harga terbesar, yaitu makanan, minuman dan tembakau mengalami deflasi 0,73% dengan andilnya 0,19%.

"Ada beberapa komoditas yang penurunan harga cukup tajam sehingga menyumbang deflasi. Pertama, bawang merah menyumbang deflasi 0,11%, daging ayam ras 0,04% dan bawang putih 0,03%," kata Kepala BPS Suhariyanto.

5. Daerah yang Alami Deflasi dan Inflasi Tertinggi

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, deflasi tertinggi di Manokwari. Sedangkan deflasi terendah di Gunungsitoli, Bogor, Bekasi, Luwuk dan Bulukumba.

"Deflasi tinggi di Manokwari yaitu mencapai 1,09% karena ada penurunan harga bahan komoditas pangan lalu deflasi terendah Gunungsitoli, Bogor, Bekasi, Luwuk mencapai 0,01%," jelasnya.

Sementara itu, inflasi tertinggi di Timika yaitu mencapai 1,45% dan terendah di Banyuwangi dan Jember 0,01%. "Kenaikan tarif angkutan udara membuat inflasi tinggi di Timika," katanya.(rzy)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini