Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tantangan Berat MUI di Era Post-Truth dan Pentingnya Membumikan Nilai Islam Wasathiyah

Novie Fauziah, Jurnalis · Sabtu 08 Agustus 2020 11:56 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 08 620 2258961 tantangan-berat-mui-di-era-post-truth-dan-pentingnya-membumikan-nilai-islam-wasathiyah-0j44XfiTUY.jpg Wamenag Zainut Tauhid (Okezone.com/Arif)

JAKARTA – Wakil Menteri Agama juga Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH. Zainut Tauhid Sa'adi mengatakan, tantangan MUI ke depan tidaklah ringan, apalagi hidup di tengah era revolusi industri 4.0 dan era disrupsi.

"Maka terjadilah fenomena post-truth, yakni ketika situasi obyektif lebih sedikit pengaruhnya dibanding hal-hal yang mempengaruhi emosi dan kepercayaan personal dalam pembentukan opini publik," katanya di acara Milad ke 45 MUI yang diadakan secara virtual, Jumat 7 Agustus 2020 malam.

Baca juga:  Milad Ke-45, MUI Perkokoh Dakwah dan Toleransi

Menurutnya post-truth atau politik pasca-kebenaran ini menimbulkan berita-berita yang tidak valid atau hoax. Apalagi masyarakat banyak yang tidak tabayyun menanggapi berita yang belum tentu kebenarannya.

"Apalagi masyarakat kita cenderung menyukai judul berita atau informasi yang bersifat provokatif dan adu domba, dan malas melakukan verifikasi atau tabayyun," ujarnya.

"Bagaimanapun, kita di MUI perlu bersyukur karena telah menyadari fenomena ini, dan Komisi Fatwa telah mengeluarkan Fatwa MUI Nomor 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah melalui Media Sosial," ujar Zainut.

Baca juga:  Rais Aam PBNU: MUI Harus Merajut Benang Perbedaan Menjadi Pakaian Indah

Oleh karenanya, Kiai Zainut mengajak, agar mengamalkan nilai-nilai Islam wasathiyah atau pertengahan. Di mana umat Islam bisa mengamalkannya di kehidupan sehari-hari.

"Islam wasathiyah yang perlu terus kita praktikkan, kita pelihara, dan kembangkan, karena sebagai opsi terbaik yang dipilih untuk menjawab tantangan zaman baik dalam skala lokal, nasional, maupun global," terangnya.

 

Selain itu, Islam wasathiyah akan mengafirmasi sikap dan praktik keagamaan yang memiliki komitmen kebangsaan, penghormatan terhadap kearifan lokal, toleran, dan mengutamakan praktik beragama tanpa kekerasan.

"Dan saya meyakini, mempraktikkan Islam wasathiyah dapat mendukung kehidupan beragama yang sehat, harmonis dan rukun, sebagai modal sosial yang dibutuhkan dalam proses pembangunan bangsa," pungkasnya.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini