Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Industri Properti Sulit Cepat Bangkit jika Indonesia Resesi

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 25 September 2020 11:16 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 25 620 2283508 industri-properti-sulit-cepat-bangkit-jika-indonesia-resesi-jKnCa3ZGsR.jpg Industri Properti Lesu di Tengah Wabah Virus Corona. (Foto: Okezone.com/CTBUH)

JAKARTA - Resesi ekonomi mempengaruhi berbagai industri di Tanah Air. Tak terkecuali pada sektor properti yang kinerjanya sangat berpengaruh pada kondisi perekonomian.

Menurut Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto, saat ekonomi mengalami resesi, pengaruhnya terhadap penjualan properti. Sebab, pelemahan ekonomi membuat daya beli masyarakat berkurang.

Baca Juga: Resesi, Ekonomi RI 2020 Diprediksi Minus 2%

Masyarakat pun cenderung menunda belanja kebutuhan yang dianggap kurang penting. Biasanya masyarakat cenderung membeli bahan pokok atau menyimpan uangnya.

“Dengan kondisi ekonomi saat ini, daya beli masyarakat semakin berkurang, dan masyarakat cenderung lebih selektif dalam melakukan pembelian, kebutuhan pokok akan lebih diutamakan, dan hal ini akan berdampak pada properti juga,” ujarnya kepada Okezone, Jumat (25/9/2020).

Menurut Ferry, jika memang ekonomi mengalami resesi akan semakin sulit untuk industri properti bisa rebound. Bahkan akan membutuhkan banyak waktu untuk ekonomi bisa kembali seperti posisi semula.

“Berarti properti sulit untuk pindah ke kondisi semula, dan ini berarti masih membutuhkan lebih banyak waktu untuk pulih,” jelasnya.

Baca Juga: Indonesia Resesi, Tak Sedalam Malaysia hingga Singapura

Menurut Ferry, ekonomi RI sendiri sudah banyak diprediksi akan mengalami resesi. Apalagi dengan adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta.

“Tanpa PSBB, kami menilai kemungkinan pada akhir 2020 pertumbuhan atau tren akan menurun, karena pertumbuhan properti sejalan dengan produk domestik bruto (PDB). Jika PDB pada akhir tahun diperkirakan akan anjlok hingga minus 2,7% (menurut Oxford Economics), berarti properti sulit untuk pindah ke kondisi semula, dan ini berarti masih membutuhkan lebih banyak waktu untuk pulih,” kata Ferry.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini