Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

5 Fakta Indonesia Menuju Resesi, Nomor 3 Peringatan Keras

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis · Sabtu 26 September 2020 07:10 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 25 620 2283858 5-fakta-indonesia-menuju-resesi-nomor-3-peringatan-keras-4hgth6M8Iw.jpeg Virus Corona (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA - Perekonomian Indonesia dalam bayang-bayang resesi pada kuartal III-2020. Ekonomi RI diprediksi minus 2,9% pada kuartal III 2020.

Ekonomi Indonesia akan resesi karena pada kuartal II-2020, ekonomi Indonesia minus 5,32%. Pengertian resesi adalah pertumbuhan ekonomi dua kuartal berturut-turut mengalami minus.

Meski ekonomi Indonesia minus 5,32% pada kuartal II-2020, kontraksi ekonomi Indonesia yang disebabkan Covid-19 tidak lah begitu parah jika dibandingkan negara lain. Apalagi pada kuartal I-2020, ekonomi Indonesia masih tumbuh positif 2,97%.

Berikut adalah fakta mengenai ancaman resesi yang dirangkum Okezone, Sabtu (25/9/2020).

Baca juga: Revisi Lagi, Ekonomi Indonesia 2020 Diproyeksi Minus 1,7%

1. Ekonomi Negatif hingga Akhir Tahun

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memperkirakan ekonomi Indonesia bakal tetap tumbuh negatif hingga kuartal IV-2020. Menurut kemungkinan terburuknya, pertumbuhan ekonomi nasional 2020 bisa mencapai minus 1%. 

Artinya, dalam kuartal III dan IV, ekonomi Indonesia akan mengalami negatif. Hal ini seiring, kontraksi perekonomian yang terjadi di setiap negara selama masa pandemi Covid-19 saat ini.

Baca juga: Sri Mulyani: Semua Negara Bakal Resesi

2. Pendapatan dan Belanja Turun

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi belanja negara sampai akhir Agustus 2020 sebesar Rp1.534,66 triliun atau sekitar 56,03% dari pagu dalam Perpres 72/2020. Sedangkan, realisasi pendapatan daerah mencapai Rp661,84 triliun atau 62,74% per Agustus 2020. Sementara belanja daerah mencapai Rp533,73 triliun. 

Sementara itu, belanja negara tersebut meliputi realisasi belanja pemerintah pusat sebesar Rp977,31 triliun dan realisasi Transfer ke Daerah dan Dana Desa sebesar Rp557,35 triliun.

3. Resesi Bisa Berlanjut

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira meminta pemerintah untuk fokus terhadap penanganan wabah. Sebab, solusi terbaik agar resesi tak berlanjut ke tahun 2021, yaitu dengan menekan angka kenaikan kasus baru Covid-19 di Tanah Air.

“Jadi kalau penanganan bagus, kita akan bisa rebound lagi lebih cepat. Kita tidak melanjutkan lagi resesi di tahun 2021,” kata Bhima.

4. Ekonomi 2020 Minus 1,7%

Kemenkeu merevisi perkiraan angka pertumbuhan ekonomi tahun 2020. Di mana, awalnya minus 1,1% hingga positif 0,2% menjadi minus 1,7% sampai minus 0,6%.

Hal ini seiring dengan virus covid-19 masih menekan ekonomi Indonesia hingga 2020. Kalkulasinya, ekonomi Indonesia pada kuartal I-2020 sebesar 2,97% dan kuartal II-2020 minus 5,32%.

5. Semua Negara Resesi

Sri Mulyani memproyeksi semua negara akan mengalami resesi. Sri Mulyani mengatakan pandemi covid-19 memberikan tekanan terhadap ekonomi semua negara. Dampak dari pandemi ini membuat ekonomi di seluruh negara mengalami penurunan.

“Seperti negara Eropa, Italia, Prancis sudah negatif. Jadi kalau kuartal ketiga forecast negatif mereka bisa tiga kuartal berturut-turut negatif. Spanyol, UK, dan juga negara ASEAN di sekitar kita Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand diperkirakan kuartal ketiga masih akan mengalami tekanan kontraksi yang cukup dalam," ujar Sri Mulyani.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini