Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pandemi Bikin Orang Merasa Kesepian, Gangguan Mental?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 02 November 2020 14:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 02 620 2302789 pandemi-bikin-orang-merasa-kesepian-gangguan-mental-MkJjKXrftE.jpg Ilustrasi (Foto : Independent)

Tidak hanya secara fisik, pandemi Covid-19 secara tidak langsung telah berdampak terhadap kesehatan mental. Pandemi mengurangi interaksi sosial guna membatasi ruang gerak orang sebagai salah satu upaya menyebaran Covid-19.

Kondisi tersebut bisa menjadi pintu seseorang mengalami depresi. Ya, salah satunya karena dia merasa tidak punya peran dalam hidupnya, berbeda seperti saat sebelum pandemi.

Kehilangan perasaan memiliki peran dalam lingkungan sosial ini yang membuat kesepian bisa mengarah ke gangguan kesehatan mental.

"Kesepian itu bisa terjadi paling gampangnya karena seseorang ngerasa kurang interaksi dalam hal sosial. Dia ngerasa sepi sebenarnya karena lagi ngerasa krisis dengan eksistensinya, lagi ngerasa enggak punya peran dalam hidup, dalam dunia psikologi disebut HDR (Harga Diri Rendah)," papar Psikolog Klinis Dewasa M. Ari Wibowo, dalam Live Instagram #NgobrolBarengPiiluss, beberapa waktu lalu.

Tapi, merasa kesepian tidak selalu berkonotasi negatif. Ya, ada momen seseorang memang harus mengambil ruang sendiri untuk menstabilkan dirinya atau untuk men-charger kesehatan mentalnya.

Gangguan Kecemasan

Sebab, tidak bisa dipungkiri, ada beberapa orang yang mungkin merasa terlalu bising dengan kehidupan ini. Nah, dengan masuk ke dalam ruang sendiri, dia seperti melakukan 'charging' dirinya supaya lebih waras. Lantas, apa yang bisa membedakan kesepian itu dinilai negatif dan sebaliknya?

Baca Juga : Justin Bieber Nyaris Bunuh Diri Akibat Kesepian, Apa Solusinya?

Pertama, kata Ari, apakah saat Anda merasa kesepian, Anda merasa nyaman atau tidak. Jadi, sepi itu dimaknai dengan perasaan enggak nyaman.

"Nah, ketika Anda sendiri, benar-benar enggak ada orang, terus Anda merasa enggak nyaman, itu ada yang Anda hindarin, itu indikasi kesepian yang bermasalah," papar Ari.

Dilihat dalam kacamata klinis, kondisi tersebut bisa dikenali dengan misalnya Anda kehilangan minat pada hal yang Anda sukai. Misalnya, Anda pencinta drama Korea.

Jika biasanya Anda usai nonton ada perasaan puas, lega, atau bahagia, nah ketika Anda depresi, perasaan menyenangkan itu hilang. Tergantikan dengan biasa saja atau malah membosankan, bahkan tidak membuat Anda bahagia sama sekali. "Ini salah satu ciri depresi," tegasnya.

Lalu, apakah saat Anda merasa kesepian, mood depreseif sentimentil itu muncul. Jika berlangsung terus menerus dalam dua minggu, itu juga bisa dikaitkan dengan gejala depresi.

"Namun, yang harus saya tegaskan di sini, diagnosis sendiri atau self diagnose itu tidak diperbolehkan. Dalam mendiagnosis kesehatan mental, yang berhak melakukannya itu psikolog dan psikiater, jadi tidak sembarangan juga melabelkan kondisi," papar Ari.

Rileks

Sementara itu, bagaimana dengan kesepian yang menyenangkan?

Itu dapat dikenali jika Anda merasa sendiri tanpa orang lain dan Anda merasa aman dan nyaman. Ini tidak dianggap masalah. Apalagi ketika orang disekitar Anda pun merasa tidak ada yang berubah saat Anda merasa kesepian.

Tapi, ada catatan lagi, sambung Ari, kadang orang bilang dia baik-baik saja, padahal aslinya dia sedang menghindari sesuatu. Kalau sudah begini perlu dilakukan analisis lebih lanjut.

"Intinya, ya, kalau memang Anda nyaman dan merasa nikmat di saat kesepian, ya, itu bukan masalah. Terlebih ketika dalam situasi kesepian itu Anda malah melakukan introspeksi atau memberbaiki diri dalam upaya menjadi manusia bertumbuh," papar Ari.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini