Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dampak Ekonomi RI Ketika Joe Biden Jadi Presiden AS, Ini 4 Faktanya

Taufik Fajar, Jurnalis · Senin 16 November 2020 08:19 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 15 620 2309985 dampak-ekonomi-ri-ketika-joe-biden-jadi-presiden-as-ini-4-faktanya-XDLlJZIwOD.jpg Joe Biden (Foto: Reuters)

JAKARTA - Joe Biden unggul dalam pemilihan Presiden AS (Pilpres AS). Hal ini pastinya akan berdampak kepada kebijakan yang mempengaruhi dunia.

Kemenangan ini tentunya juga akan berdampak terhadap perubahan peta perekonomian dunia, salah satu topik utama yang menjadi sorotan dengan terpilihnya Biden adalah terkait perang dagang dengan Tiongkok yang telah berjalan beberapa tahun terakhir selama pemerintahan Trump.

Perang dagang ini secara tidak langsung menekan kinerja ekspor dan impor dunia, termasuk perekonomian Indonesia. Dalam hal ini, Biden sendiri diproyeksikan beberapa pengamat akan mengurangi tensi hubungan dagang dengan Tiongkok.

Berikut adalah fakta dampak terpilihnya Joe Biden ke ekonomi Indonesia yang dirangkum Okezone, Senin (16/11/2020):

Baca Juga: RCEP Ditandatangani, Mendag: Momen Bersejarah bagi Indonesia

1. Indonesia Harus Gerak Cepat Perbaiki Kerja Sama di Bidang Ekonomi

Praktisi dan Pengajar Hubungan International Synergy Policies Dinna Prapto Raharja menegaskan bahwa Indonesia harus bergerak cepat memperbaiki kerja sama di bidang ekonomi dengan Amerika Serikat.

Hal ini terkait dengan terpilihnya Joe Biden sebagai presiden dan memiliki sejumlah agenda perekonomian yang berbeda dengan pendahulunya.

 

2. Tergantung dengan Kesigapan dan Kegesitan Pemerintah Indonesia

Dinna mengatakan, dampak terpilihnya Joe Biden terhadap perekonomian Indonesia itu bergantung dengan kesigapan dan kegesitan pemerintah Indonesia untuk mendesak AS agar memperhatikan narasi yang selama ini diangkat Indonesia.

Menurutnya, selama kepemimpinan Donald Trump, Indonesia berusaha untuk survive agar tidak surut oleh permainan transaksi AS, tapi di satu sisi setidaknya Indonesia dapat beberapa keuntungan seperti pemberian perpanjangan fasilitas Generalized System of Preferences (GSP).

"Tapi nanti pada masa Biden ketika semuanya masuk lagi ke dalam lembaga dan relasi dengan sekutu ini menguat berarti yang sangat perlu kita lakukan cepat itu adalah narasi pertumbuhan ekonomi yang narasinya tidak melulu dagang dan investasi, karena itu sebenarnya secara global belum menjadi kekuatan Indonesia," ujar Dinna dalam acara Market Review IDX Channel.

3. Indonesia Lebih Didominasi Produk Impor dari AS

Praktisi dan Pengajar Hubungan International Synergy Policies Dinna Prapto Raharja dari segi perdagangan, di mana Indonesia lebih didominasi produk impor dari AS meskipun mencatatkan sedikit surplus untuk barang ekspor ke AS.

"Tapi AS tetap merupakan pengimpor produk terbesar khususnya untuk pertanian seperti kedelai, kapas, gandum, susu, biji bijian, belum lagi untuk jasa keuangan dan merk AS. Sementara produk kita kesana belum bisa dikatakan cukup punya value tinggi untuk ke depannya. Jadi, kalau kita hanya bergantung pada jenis-jenis produk tersebut maka tantangannya di volume," katanya.

4. Penguatan Narasi Dalam Kerja Sama di Bidang Ekonomi

Oleh karena itu, Dinna menyebut pentingnya penguatan narasi dalam kerja sama di bidang ekonomi. Dia mencontohkan narasi demokrasi dimana Biden akan mengadakan Summit Democration sesudah dia dilantik.

"Demokrasi ini juga jadi salah satu citra yang selama ini membuat dunia tertarik bekerja sama dengan kita, bagaimana kita membingkis pertumbuhan ekonomi dalam kerangka demokrasi, kemudian dalam rangka HAM yang sifatnya pemberdayaan, bukan memojokkan," ucapnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini