Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ekspor Perikanan Melonjak 7,9% di Tengah Covid-19

Aditya Pratama, Jurnalis · Kamis 19 November 2020 12:41 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 19 620 2312277 ekspor-perikanan-melonjak-7-9-di-tengah-covid-19-4ZLSEEEZcr.jpg Menteri KKP Edhy Prabowo Sebut Ekspor Perikanan Tidak Terdampak Pandemi. (Foto: Okezone.com/KKP)

JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyampaikan bahwa pandemi Covid-19 memberikan dampak positif terhadap kinerja ekspor sektor perikanan. Ekspor perikanan naik 7,92% sepanjang Januari-September 2020.

Berbanding terbalik dengan kinerja ekspor, nilai impor Januari-September 2020 tercatat USD0,33 miliar atau turun 6,66% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: China Masih Tujuan Ekspor Indonesia, Nih Daftar Barangnya

"Melihat kinerja ekspor dari perikanan di tengah pandemi Covid-19 kita patut bersyukur karena nilai ekspor Januari-September 2020 mencapai USD3,67 miliar, naik 7,92% dibanding periode lalu," ujar Edhy dalam webinar Jakarta Food Security Summit (JFSS) 5, Kamis (19/11/2020).

Politikus Partai Gerindra ini menjelaskan, pangsa pasar utama produk ekspor hasil perikanan sampai September 2020 dilihat dari besaran negara dari yang tertinggi adalah Amerika Serikat 40,82%, China 15,41%, Jepang 11,76%, negara ASEAN 11,67% dan Uni Eropa 5,75%.

Baca Juga: Ekspor Logam Mulia hingga Perhiasan Anjlok 20%

Sementara itu, dilihat komoditas nilai ekspor yang terbesar adalah udang 39,78%%, tuna/akalang/tongkol 14,07%, cumi/sotong/gurita 8,8%, rajungan/kepiting 7,13%, dan rumput laut 5,51%.

Meskipun ekspor mengalami peningkatan, Edhy menyebut masih banyak tantangan yang akan dihadapi ke depannya, seperti beberapa produk perikanan Indonesia dinilai belum memenuhi standar kualitas pasar Jepang, masih tingginya tarif bea masuk untuk produk perikanan ke Jepang dan Uni Eropa, hingga Amerika Serikat yang semakin memperketat kriteria dan kualitas produk impor seperti jaminan keamanan produk perikanan.

"Potensi diversifikasi tujuan pasar non tradisional Afrika, Timur Tengah, Rusia dan Amerika Latin masih mengalami hambatan mengingat Indonesia belum mempunyai comprehensive economic partnership agreement sehingga akses pasar ke kawasan tersebut belum terbuka secara maksimal," ucapnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini