Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Semakin Banyak Positif Covid-19 di Indonesia, Potensi Mutasi Makin Meningkat

Antara, Jurnalis · Senin 24 Mei 2021 16:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 24 620 2414749 semakin-banyak-positif-covid-19-di-indonesia-potensi-mutasi-makin-meningkat-gEwORf8DsA.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SETIAP virus masuk ke dalam tubuh manusia memang akan mereplikasi diri, termasuk virus Covid-19. Pada prosesnya, bisa terjadi kesalahan sehingga menjadi berbeda dari virus awalnya.

Mutasi virus tersebut kemudian memunculkan varian baru seperti pada kasus Covid-19, seiring penularan virus ke orang-orang. Lalu, apakah varian virus ini lebih kuat dari virus aslinya?

Dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi (paru) RSUP Persahabatan, Dr. dr. Erlina Burhan, mengatakan ada dua kemungkinan, biasa saja atau lemah atau kuat.

Menurutnya, apabila variasi yang terbentuk meningkatkan risiko terhadap manusia yakni meningkatkan transmisi atau penularan, virulensi atau menimbulkan keparahan lebih daripada non-varian dan menurunkan efektivitas tatalaksana serta vaksin, maka dia tergolong variants of concern atau perhatian khusus.

"Tiga hal ini, item yang diaplikasikan kalau satu varian ada. Kalau salah satu ada maka masuk ke variants of concern," kata Erlina.

"Jadi, semakin banyak infeksi pada suatu populasi, semakin banyak penularan, maka copy paste virus selalu ada, artinya potensi mutasi akan terus meningkat," jelasnya.

Saat ini setidaknya ada tiga varian yang masuk kategori variants of concern yakni B117, B1351, dan P1. Varian B117 asal Inggris dilaporkan meningkatkan transmisi atau penyebaran, sementara B1351 asal Afrika Selatan selain bisa menimbulkan dampak penularan, juga berdampak menurunkan efektivitas vaksin, demikian juga varian P1 dari Brazil.

Terkait vaksin, data menunjukkan efektivitas vaksin Novavax terhadap B1351 mengalami penurunan sampai 49 persen, padahal vaksin ini memiliki efikasi sampai 95,6 persen terhadap varian umum corona.

Penurunan efektivitas juga terjadi pada vaksin Johnson & Johnson (J&J) menjadi 57 persen. Vaksin ini sebenarnya dikatakan 66 persen efektif terhadap Covid-19 secara umum.

Sementara pada vaksin AstraZeneca disebutkan juga terjadi penurunan namun para ahli belum bisa mengambil kesimpulan karena menunggu beberapa hasil penelitian lainnya.

"Yang justru menjadi perhatian yakni varian asal Afrika B1351, dikatakan proteksi vaksin AstraZeneca rendah karena efikasinya turun signifikan terutama proteksi pada tingkat ringan dan sedang. Untuk yang berat belum ada hasilnya. P1 terhadap Novovax, sedikit penurunan tetapi masih memenuhi kriteria yang direkomendasikan WHO," ujar Erlina.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini