Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Atensi KSP Moeldoko Perjuangkan Nasib Petani Kecil

Antara, Jurnalis · Selasa 12 Oktober 2021 18:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 12 620 2485253 atensi-ksp-moeldoko-perjuangkan-nasib-petani-kecil-qeHfwAp9gl.jpg KSP Moeldoko/ Okezone

JAKARTA - Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko beberapa waktu lalu berdialog dengan petani garam Desa Rawaurip, Pangenan, di Cirebon, Jawa Barat, Jumat, untuk mendengarkan persoalan yang dialami petani garam di lapangan.

(Baca juga: Diperiksa Bareskrim, Moeldoko Dicecar 20 Pertanyaan Terkait Laporan terhadap ICW)

Sebagaimana siaran pers Kantor Staf Presiden (KSP) yang diterima di Jakarta, pada kesempatan tersebut petani menyampaikan keluhan tentang harga garam yang anjlok.

Moeldoko mengatakan Pemerintah Pusat saat ini sedang melakukan kajian terkait impor garam industri, di mana nantinya impor tersebut tidak lagi melalui pihak ketiga, namun langsung ke industri penggunanya.

"Kita konsen (terkait permasalahan garam rakyat), untuk itu impor tidak akan ke pihak ketiga, tapi langsung ke industri penggunanya," kata Moeldoko dilansir Antara.

Ia mengatakan dari hasil dialog dengan para petambak, harga garam masih menjadi isu yang tidak kunjung selesai, apalagi ketika adanya keran impor.

(Baca juga: Moeldoko : Waspada, Paham Radikal Sudah Menyusup di Tengah Masyarakat)

Namun lanjut Moeldoko, Indonesia memang harus mengandalkan impor garam industri, karena produksi petambak masih sangat sedikit dibanding dengan kebutuhannya.

Kepedulian Moeldoko kepada petambak garam di Cirebon, diapresiasi oleh Pengamat Birokrasi Varhan Abdul Aziz.

Varhan menegaskan, bahwa apa yang dilakukan Moeldoko tersebut sejatinya memang sepatutnya dilakukan para pejabat publik. Menjadi seorang pejabat publik, menurut Varhan meniscayakan sikap altruisme atau kesediaan untuk menjadikan kepentingan rakyat banyak sebagai prioritas, dibanding keperluan pribadi.

Suksesnya karir pejabat publik, menurut Varhan, seringkali berkaitan erat dengan pandangan dunia atau world view-nya dalam melihat dan memperlakukan rakyat banyak. Manakala seorang pejabat publik melihat rakyat hanya sebagai objek kebijakan yang harus mematuhi aturan yang lazimnya datang dari atas (top-down), bisa dipastikan dirinya tidak akan bisa mencapai kesuksesan hakiki.

“Mungkin target programnya tercapai, tetapi urusan dengan rakyat tidak bisa terlampau disederhanakan dengan pencapaian angka-angka target, melainkan harus bisa mengambil hati rakyat agar mereka juga merasa diperlakukan sebagai manusia, bukan semata mesin peraih target program,” kata Varhan, yang juga Wakil Sekretaris Jenderal Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lumbung Informasi Rakyat (Lira) itu.

Moeldoko yang dalam banyak kesempatan menunjukkan kesediaan untuk mendengarkan segala curhat dan keluhan rakyat kecil, menurutnya, adalah pejabat publik negeri ini yang layak diteladani.

Menurut Varhan, secara sederhana negara demokratis pun bisa dibilang sebagai negara yang ‘mendengar’ rakyat. Sebab di negara yang menganut prinsip demokrasi, aspirasi rakyat yang disampaikan dalam beragam bentuk ekspresi di ruang publik, termasuk curhat kepada pejabat, bukan angin lalu melankan masukan yang mempertajam langkah menuju tercapainya tujuan.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini