Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berpikir Negatif ke Orang Lain Jadi Tanda Mental Anda Terganggu?

Tim Okezone, Jurnalis · Senin 08 November 2021 13:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 08 620 2498408 berpikir-negatif-ke-orang-lain-jadi-tanda-mental-anda-terganggu-2ABi10JbUI.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

ORANG Indonesia memang dikenal sangat dermawan dan senang membantu sesama. Bahkan, Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2021 menyebut Indonesia sebagai negara paling dermawan di dunia.

Bukan hanya menyumbang, orang Indonesia memang rajin memberi perhatian pada sebuah masalah. Meskipun, tidak semua orang memberikan perhatian secara positif pada orang lain.

Meski demikian, Psikolog klinis fungsional di RSUP Dr. Sardjito, DR. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si., mengatakan, mereka memberikan perhatian yang positif pada orang lain, sebenarnya Anda sehat secara mental.

"Ketika kita bisa memberikan perhatian yang positif pada orang lain, kita sebetulnya sehat mental. Karena kalau kita tidak sehat mental akan sulit memberikan perhatian positif yang tulus," kata dia seperti dilansir dari Antara.

Menurut Indria yang menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia itu, orang sehat secara mental berdasarkan definisi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), salah satunya menyadari kemampuannya atau mengetahui kelebihan dan kekurangannya.

"Mereka bersedia mengembangkan potensi yang ada dan juga mengatasi kekurangan-kekurangannya. Dengan kondisi itu mampu mengatasi tekanan kehidupan," tutur dia.

Tanda lainnya, mampu bekerja secara produktif yang tak terbatas pada menghasilkan uang. Produktif di sini mencakup hal kecil atau menghasilkan sesuatu, termasuk bisa menyenangkan orang lain.

Selain itu, orang sehat mental juga bisa ditandai mampunya dia berkontribusi di dalam kelompoknya. Kontribusi ini luas yakni bisa sekedar memberikan perhatian atau membantu teman. Di sisi lain, Indria juga mengatakan, orang juga perlu meregulasi diri, menjaga emosionalitas positif dan kesejahteraan subjektifnya seperti rasa damai dan rasa tenang.

Jujur dengan perasaan diri dan berkata pada orang lain pun diperlukan, walau ini tak mudah. Ada orang-orang tertentu yang bisa dipercaya untuk menyampaikan apa yang dirasakan.

Pada masa kini, anak-anak muda terbiasa menuliskan isi hati bahkan kondisinya di media sosial. Indria mengingatkan, adanya batasan hal-hal yang bisa dibawa ke ranah publik dan tidak, agar tidak justru menimbulkan sesuatu tak diinginkan.

"Respon yang diberikan tidak membuat kondisi lebih baik tetapi justru sebaliknya. Ini kadang terjadi. Ada hal-hal yang perlu kita keep dan berhati-hati kepada siapa kita menyampaikan hal itu," demikian pesan Indria.

Sekadar informasi, sepanjang 2020 Indonesia mencatatkan total skor sebesar 69 atau naik dari skor sebelumnya sebesar 59 pada 2018 di CAF World Giving Index 2021. Jika dibandingkan dengan negara lain, sebagian besar negara barat turun peringkat karena terdampak pandemi Covid-19.

Stres

Misalnya saja, Amerika yang jatuh ke peringkat 19 dunia dari sebelumnya konsisten berada di posisi 5 besar. Pada laporan tersebut, lebih dari 8 orang dari 10 orang Indonesia menyumbangkan uangnya dan tingkat sukarelawan negara lebih banyak dari tiga kali rata-rata global.

Faktor terbesar yang mendorong masyarakat Indonesia menyumbangkan uangnya karena didorong kewajiban berzakat. Dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa pembayaran Zakat secara global sangat tinggi pada 2020.

Di Indonesia, ada seruan dari otoritas agama agar masyarakat berzakat sebagai upaya membantu orang-orang yang mengalami kemerosotan ekonomi akibat pandemi.

Di masa pandemi Covid-19, Indonesia juga menjadi negara dengan tingkat sukarelawan tertinggi. Menurut Charities Aid Foundation, hal ini menunjukkan antusiasme Indonesia senantiasa melakukan gotong royong menghadapi masa-masa sulit.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini