Share
Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengembangan Hulu Industri Panel Surya Berpotensi Serap Banyak Tenaga Kerja

Tim Okezone, Jurnalis · Kamis 24 Maret 2022 12:14 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 24 620 2567035 pengembangan-hulu-industri-panel-surya-berpotensi-serap-banyak-tenaga-kerja-3b3tagtobZ.jpg PLTS Atap (Foto: Dokumentasi Ditjen EBTKE)

JAKARTA – Faktor negative cycle dinilai menjadi penyebab tidak berkembangnya industri solar PV di Indonesia. Negative cycle yang terjadi akibat ada limited capacity sehingga low economic scale tidak tercapai.

“Kalau industri ini mau ditumbuhkan di hulunya, ada peluang bisnis, menyerap tenaga kerja, dan meningkatkan kemampuan nasional,” kata Ketua Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APMSI) Linus Andor Maulana pada webinar yang digelar, Jakarta, Kamis (24/3/2022).

Baca Juga: Bukit Asam-Jasa Marga Bangun PLTS di Tol Bali Mandara

Menurut Linus, di Indonesia banyak tambang kuarsit untuk dikembangkan. Namun untuk itu perlu investasi yang cukup besar. Untuk penambangan dan pengolahan konsentrat kuarsit dan dikembangkan menjadi kuarsa murni diperlukan investasi USD160 juta. Reduksi dan pemurnian dari kuarsa murni ke metalurgical grade investasinya USD455 juta.

“Dan untuk menjadi produk elektronika dan chemical, solar cell dibutuhkan investasi USD250 juta,” kata dia.

Linus menambahkan dalam pengembangan industri solar PV agar dapat berkesinambungan perlu strategic partnership dengan join investment dalam pembangunan pabrik, melakukan transfer technology, supply raw material, dan dapat memberikan akses untuk global supply chain.

Direktur Utama Pertamina NRE Danif Danusaputro mengatakan PLTS yang sudah dipasang Pertamina NRE kebanyakan berada di lingkungan Pertamina. “200 MW target terpasang tahun ini. kebanyakan adalah rooftop,” kata Danif.

Dia menambahkan dari sisi benefit, seharusnya ini sesuatu yang mudah untuk dijual, terutama untuk sister company Pertamina NRE. “Key challenge dari sisi affordability, grid connectivity, regulatory barriers, dan access to financing. Regulatory barrier, menurut saya Indonesia masih single buyer, menjadi challengen untuk pemain di renewable,” kata Danif.

Direktur Aneka EBT Kementerian ESDM Andriah Feby Misna, mengatakan, untuk sektor energi pemanfaatan EBT menjadi hal yang sangat kritikal untuk transisi energi. Pada 2060 pemanfaatan pembangkit 60% akan berasal dari energi surya.

PLTS menjadi salah satu prioritas untuk jangka pendek. Potensinya cukup besar dan waktu kontruksinya cukup pendek membuat PLTS menjadi prioritas.

“Kalau bicara PLTS atap yang menjadi salah satu program untuk mencapai target 23 persen, maka pada 2025 ditargetkan terpasang 3,6 GW. 2025 harapan kami sektor industri mempunya peran cukup tinggi untuk mengimplementasikan PLTS atap,” kata Feby.

Perkembangan PLTS atap tercatat signifikan. Pada dua bulan pertama 2022, ada 5.321 pelanggan baru dan kapasitas 59,84 MWp atau sebesar 13,3 persen dari target 2022.

Berdasarkan sebaran lokasinya, pelanggan PLTS atap maypritas berada di wilayah Jawa dan Bali. Berdasarkan kategori pelanggan, jumlah pelanggan PLTS atap paling tinggi berasal dari pelanggan rumah tangga, yakni sekitar 4.175 pelanggan.

“Berdasarkan kapasitas PLTS atap, paling tinggi berasal dari pelanggan industri 17,7 MW. Ini kami harapkan bisa terus didorong ke depannya,” kata Feby.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini