Share
Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tak Pernah Ada Dua Varian Covid-19 yang Sama Kuat di Sebuah Wilayah

Tim Okezone, Jurnalis · Kamis 07 April 2022 13:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 07 620 2574844 tak-pernah-ada-dua-varian-covid-19-yang-sama-kuat-di-sebuah-wilayah-sQBWIlnkYv.jpg Ilustrasi Varian Omicron. (Foto: Shutterstock)

BERDASARKAN hasil dari Genome Sequencing, varian Omicron menjadi varian yang mendominasi kasus penyebaran. Varian tersebut mencatatkan angka 96 persen, sedangkan sisanya yang 4 persen adalah varian lain.

Memang, tidak pernah ada dua varian Covid-19 yang sama-sama dominan di suatu tempat atau di suatu negara. Salah satu varian pasti akan mendominasi persebaran Covid-19 di sebuah wilayah.

dr. RA. Adaninggar PN, Sp.PD, dokter spesialis penyakit dalam menjelaskan bahwa varian yang lebih cepat menular akan mendominasi di suatu daerah atau negara dan ini terjadi pada Omicron. Saat ini, di seluruh dunia termasuk di Indonesia sudah didominasi oleh Omicron.

Adapun gejalanya, berdasarkan kasus yang dihadapi dr. Ning sehari-hari, sebenarnya tidak ada yang bisa membedakannya. Baik varian Delta maupun Omicron dapat menyebabkan anosmia, hanya saja tidak sebanyak yang dialami penderita Delta.

Untuk Omicron, gejala umum yang dialami adalah infeksi saluran pernapasan atas seperti sakit tenggorokan dan batuk pilek. Sementara itu, mereka yang dirawat di rumah sakit akibat Omicron tetap mengalami gejala yang sama seperti pasien dengan varian sebelumnya, yakni badai sitokin dan pneumonia.

"Oleh karena itu, apa pun variannya, kita tidak dapat mengatakan bahwa varian ini tidak lebih berbahaya dari Delta," ujar dr. Ning dalam keterangan resmi Good Doctor Technology Indonesia seperti dilansir dari Antara.

dr. Ning juga menjelaskan perihal subvarian Omicron yang disebut sebagai Siluman (BA.2 atau Son of Omicron). Menurutnya, virus akan terus bermutasi membentuk varian dan varian juga akan membentuk subvarian.

Hal tersebut dianggap biasa karena ini merupakan sifat alami dari virus. Seperti varian Delta yang juga memiliki puluhan subvarian. Subvarian Siluman (BA.2) cukup menghebohkan karena di beberapa negara yang kasus Omicronnya sudah lebih dulu tinggi, menduga bahwa BA.2 menjadi salah satu penyebab yang menghambat penurunan kasus.

Dari beberapa penelitian terbukti bahwa BA.2 bersifat dua setengah kali lipat lebih menular dibandingkan BA.1. Namun, secara penelitian di laboratorium, tingkat keparahan akibat subvarian BA.2 ini mirip Delta, jadi lebih banyak di paru-paru daripada di saluran pernapasan atas seperti BA.1.

"Yang ditakutkan adalah apabila mirip Delta berarti lebih cepat menular dan menyebabkan gejala yang parah karena berada di paru-paru. Akan tetapi, penelitian di laboratorium itu belum terbukti di dunia nyata sampai sekarang," kata dr. Ning.

Salah satu bentuk pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan vaksinasi. Sebab vaksin terbukti efektif mencegah gejala berat dan kematian. Selain vaksin, protokol kesehatan juga tetap wajib dijalankan untuk mencegah penularan Covid-19. Sebab penularan dapat menimbulkan varian baru dan siklus itu akan terus berlanjut.

"Protokol kesehatan dan vaksinasi merupakan harga mati untuk mencegah penularan Covid-19 karena penularan dapat menimbulkan varian baru sehingga siklusnya akan terus seperti itu. Akibatnya, kita tidak akan berada dalam kondisi endemis," katanya.

Menurut data vaksinasi Covid-19 Nasional Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tanggal 28 Maret 2022 Pukul 18.00 WIB, penerima vaksinasi dosis pertama sudah mencapai 195.992.326 dosis (94,11 persen), dosis kedua mencapai 158.062.017 dosis (75,89 persen), dan dosis ketiga sebesar 20.297.770 dosis (9,75 persen).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini