Kumpulan Berita
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar pada 27-30 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Tambakberas, Jawa Timur, menjadi perhatian sejumlah tokoh dan aktivis NU. Mereka mendorong agar kepemimpinan PBNU periode mendatang diisi sosok yang berintegritas, independen, serta tidak terjebak kepentingan politik praktis.
Mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Hanief Saha Ghafur, mendorong penguatan institusi Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) menjelang Muktamar ke-35 NU yang digelar bulan depan. Penguatan AHWA ditujukan agar penunjukan pimpinan PBNU bukan sekadar pemilihan belaka, tetapi melalui proses seleksi yang ketat.
Para peserta juga menyoroti berbagai dinamika yang belakangan muncul di lingkungan NU. Mulai dari konflik internal di tingkat pengurus pusat yang berujung pada saling pemecatan hingga polemik terkait pelibatan unsur Zionis Israel dalam sejumlah kegiatan resmi organisasi. Berbagai persoalan tersebut dinilai perlu menjadi perhatian bersama demi menjaga marwah NU.
Urgensi pasangan ini kata dia, pada Muktamar NU ke-35 terletak pada kemampuannya menjawab tiga agenda strategis NU sekaligus.
Dirinya juga turut bahagia karena seluruh tahapan dan proses Muktamar berlangsung dengan lancar, aman, dan damai.
Gus Yahya berhasil menjadi Ketua Umum PBNU.
Tampak Presiden mengenakan pakaian jas berwarna abu-abu yang dipadukan dengan sarung berwarna hijau dalam kunjungan kerjanya kali ini.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin dipastikan hadir pada Pembukaan Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama