Kumpulan Berita
Inisiatif tersebut dijalankan di 58 lokasi di seluruh Indonesia dengan melibatkan 2.470 masyarakat.
Sinergi yang tercipta dalam proyek waste to energy antara pemerintah pusat, daerah, serta investor menjadi fondasi keberlanjutan
CEO Danantara, Rosan Roeslani mengatakan proyek Waste to Energy (WTE) atau pengelolaan sampah menjadi energi siap memasuki tahap tender pada pekan depan.
Pemerintah tetapkan 3 syarat utama bagi Pemda untuk menjalankan proyek PSEL: ketersediaan lahan, volume sampah minimal 1.000 ton per hari, dan kemampuan anggaran. 10 daerah prioritas telah ditetapkan untuk proyek ini.
Danantara siap membangun PLTSa di Jakarta, Makassar, Bali, dan kota lain. Proyek strategis ini didanai obligasi dan akan melibatkan PLN sebagai pembeli listrik. Prioritas utama adalah daerah dengan produksi sampah tertinggi. Target minimal kapasitas adalah 1.000 ton/hari dan menghasilkan 20 MW.
Danantara akan membangun PLTSa di daerah penghasil sampah 1.000 ton per hari. Langkah ini diharapkan mengurangi tumpukan sampah dan meningkatkan investasi PLTSa. PLN wajib membeli listrik dari PLTSa, menjamin iklim investasi yang baik.
Pemerintah mempercepat pengendalian sampah nasional demi target 100% sampah terkendali pada 2029. KLHK menggandeng berbagai pihak untuk inovasi dan solusi berkelanjutan. Larangan open dumping, sistem controlled landfill, dan kewajiban pengolahan sampah industri adalah langkah utama.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan proyek Waste to Energy rampung dalam 18 bulan dengan memangkas waktu administrasi. Pembahasan juga mencakup ketahanan pangan, koperasi desa, dan stabilisasi harga pangan.