Kumpulan Berita
Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi menilai fenomena defisit APBN Kuartal I 2026 yang menyentuh Rp240,1 triliun atau sekitar 34 persen dari target tahunan sebagai bentuk strategi front-loading yang agresif. Namun, realisasi ini perlu disikapi dengan kewaspadaan tinggi guna menghindari risiko hard landing pada kuartal berikutnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir kuartal I-2026 mencatatkan defisit sebesar Rp240,1 triliun atau setara dengan 0,93 persen terhadap PDB.
Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi defisit APBN hingga 28 Februari 2026 tercatat sebesar Rp135,7 triliun atau setara dengan 0,53 persen.
Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Januari 2026 mencatatkan defisit sebesar Rp54,6 triliun.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM memastikan defisit APBN per Desember 2025 sebesar Rp695,1 triliun atau 2,92?ri Produk Domestik Bruto (PDB) tidak menjadi persoalan investor masuk ke Indonesia, atau tidak mengurangi minat investor asing untuk menanamkan modal.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan peringatan keras terhadap kinerja internal kementeriannya, khususnya Direktorat Jenderal Pajak (DJP) serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Hal ini menyusul realisasi defisit APBN 2025 yang melebar hingga 2,92 persen, mendekati batas maksimal legal sebesar 3 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 30 November 2025 mengalami defisit sebesar Rp560,3 triliun atau setara dengan 2,35 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 31 Oktober 2025 mengalami defisit sebesar Rp479,7 triliun atau setara dengan 2,02 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).