Kumpulan Berita
Bank Indonesia (BI) buka suara mengenai peluang penyesuaian suku bunga acuan BI-Rate usai Rupiah melemah ke Rp18.000.
Nilai tukar Rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus psikologis baru di level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Selasa (29/9/2026).
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan alasan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75 persen pada September 2026.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan bahwa arah percepatan digitalisasi nasional harus berorientasi pada penciptaan dampak nyata bagi perekonomian, alih-alih sekadar berfokus pada kemudahan transaksi keuangan.
BI memperluas QRIS Antarnegara ke Timor Leste dan Hong Kong. Sistem pembayaran lintas negara tersebut ditargetkan mulai diluncurkan pada tahun depan.
BI mencatat fasilitas kredit perbankan yang telah disetujui namun belum ditarik oleh debitur (undisbursed loan) masih bertahan di level tinggi, yakni mencapai sekitar Rp2.548 triliun per Juli 2026.
BI masih mencetak uang Rp100.000 yang memuat tanda tangan Perry Warjiyo serta Purbaya Yudhi Sadewa.
Obligasi yang diterbitkan pemerintah pada 1998 tersebut dirancang sebagai instrumen penyelamatan sektor perbankan dan dibeli langsung oleh bank sentral.