Kumpulan Berita
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia Januari-Agustus 2025 mengalami surplus USD29,14 miliar.
Pemerintah berencana memberikan insentif PPh 21 DTP untuk sektor horeka di 2025. Ekonom menilai dampaknya kecil karena gaji pekerja rendah dan menyarankan kenaikan PTKP untuk meningkatkan daya beli masyarakat.
Kemenag mendapatkan indeks sangat memuaskan dari jamaah haji Indonesia pada tahun 2025.
Komisi IV DPR RI menyoroti lemahnya strategi ketahanan pangan nasional oleh Kementan. Mereka menekankan pentingnya kebijakan konkret untuk kesejahteraan petani, keuntungan pedagang, dan harga beras terjangkau bagi konsumen. Penurunan luas panen dan stagnasi produktivitas padi juga menjadi perhatian.
BPS memproyeksikan produksi beras nasional mencapai 31,04 juta ton hingga Oktober 2025, melampaui total produksi 2024. Optimalisasi lahan dan kondisi iklim mendukung peningkatan ini, mengukuhkan langkah Indonesia menuju swasembada beras dan cita-cita menjadi lumbung pangan dunia.
Ekspor batu bara Indonesia mengalami penurunan signifikan sebesar 21,74 persen secara kumulatif pada periode Januari hingga Juli 2025.
BPS mencatat kenaikan harga beras di tingkat penggilingan, grosir, dan eceran sepanjang Agustus 2025. Inflasi terjadi secara bulanan dan tahunan. NTP juga mengalami peningkatan.
Nilai Tukar Petani (NTP) Agustus 2025 naik 0,76% menjadi 123,57. Kenaikan ini didorong oleh harga gabah, kelapa sawit, jagung, dan bawang merah. Subsektor tanaman pangan mencatat kenaikan NTP tertinggi.