Kumpulan Berita
Pasien gagal ginjal di Indonesia lebih mengenal terapi hemodialisis (HD) atau cuci darah dibandingkan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD).
Penyakit gagal ginjal sering kali tidak disadari gejalanya oleh pasien. Penyakit ini biasanya baru diketahui saat kondisi fisik menurun dan ternyata sudah berada di stadium akhir atau pasien harus menjalani dialisis (cuci darah).
Selama ini banyak orang menganggap transplantasi ginjal adalah langkah paling akhir untuk pasien gagal ginjal. Biasanya, penderita gagal ginjal akan menjalani cuci darah selama bertahun-tahun jika tidak memilih transplantasi ginjal.
Jumlah pasien gagal ginjal yang harus menjalani cuci darah di Indonesia terus mengalami peningkatan.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono, memastikan bahwa status kepesertaan PBI BPJS Kesehatan milik para pasien cuci darah yang sebelumnya sempat ditolak oleh rumah sakit kini telah kembali aktif. Dengan reaktivasi tersebut, pasien sudah bisa kembali mendapatkan layanan cuci darah tanpa hambatan pembiayaan.
Wamenkes: Rumah Sakit Tidak Boleh Menolak Pasien Cuci Darah BPJS PBI yang Sedang Reaktivasi
Pasien gagal ginjal memiliki harapan hidup terbatas dengan cuci darah. Transplantasi ginjal menawarkan kualitas hidup lebih baik, memungkinkan pasien beraktivitas normal. Namun, donor ginjal di Indonesia masih rendah, memerlukan edukasi publik berkelanjutan.
Dia terpaksa mengandalkan mi instan sebagai makanan sehari-hari, hingga akhirnya satu tahun kemudian ia didiagnosa mengalami gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah secara rutin.