Kumpulan Berita
Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau tidak selalu dapat dilihat atau dicium, tetapi paparan partikel dan gas yang terkandung di dalamnya dapat memicu berbagai gangguan kesehatan.
Abu vulkanik tidak hanya berisiko mengganggu sistem pernapasan. Partikel halus yang terhirup juga dapat memicu peradangan pada pembuluh darah sehingga berpotensi meningkatkan risiko pembentukan gumpalan darah dan memperburuk penumpukan plak.
Paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang terbawa angin hingga Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat perlu diwaspadai, termasuk oleh ibu hamil.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat di wilayah yang terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau untuk sementara mengurangi aktivitas di luar rumah.
International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN) menjelaskan bahwa efektivitas perlindungan pernapasan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bahan masker dalam menyaring partikel. Bentuk dan ukuran masker yang sesuai dengan wajah juga menjadi faktor penting.
Abu vulkanik akibat erupsi gunung api dapat terbawa angin dan menyebar ke wilayah di luar kawasan sumber erupsi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta warga di sekitar Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mengungsi. Imbauan tersebut menyusul peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Sinabung yang kini berstatus Level III atau Siaga.
Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) memicu getaran yang dirasakan sejumlah warga di Kecamatan Labuan dan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, Sabtu (5/9/2026) pagi.