Kumpulan Berita
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan, pentingnya penguatan mitigasi bencana berbasis sains, teknologi, dan data dalam menghadapi tingginya risiko kebencanaan di Indonesia. Pembelajaran dari Gempa Flores berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026 menjadi momentum untuk memperkuat sistem peringatan dini, kesiapsiagaan masyarakat, serta pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh terhadap bencana.
Sejauh ini belum ada laporan mengena kerusakan akibat gempa.
Hampir sebulan setelah gempa utama magnitudo (M) 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), aktivitas gempa susulan masih terus terjadi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 15.156 aktivitas gempa susulan hingga Minggu (13/9/2026) pukul 05.00 WIB.
Guncangan gempa dirasakan hingga Bandung, Yogyakarta, hingga Mentawai.
Menurut BMKG, gempa ini merupakan jenis gempa bumi dalam akibat aktivitas intraslab dan tidak berpotensi tsunami.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 6,2 mengguncang wilayah Maluku Barat Daya, Maluku, Jumat (11/9/2026) malam.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih berada pada Level III (Siaga) berdasarkan hasil analisis Badan Geologi hingga Jumat (11/9/2026). Erupsi menerus yang berlangsung sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB telah berakhir pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB, setelah berlangsung selama sekitar 25 jam.
BMKG mencatat gempa dirasakan dengan intensitas III-IV Modified Mercalli Intensity (MMI) di Donggala. Sementara itu, gempa dirasakan II-III MMI di Palu dan Sigi.