Kumpulan Berita
Anggota Komisi XI DPR RI, Marwan Cik Asan menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus kisaran Rp17.500 per dolar AS pada Mei 2026 merupakan sinyal adanya tekanan eksternal dan domestik yang terjadi secara bersamaan.
Pelemahan terjadi di tengah masa libur panjang domestik, dipicu eskalasi ketegangan di Timur Tengah serta prospek kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat.
Nilai tukar Rupiah terus mengalami tekanan di tengah menguatnya indeks Dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data pasar Non-Deliverable Forward (NDF) posisi Rupiah tercatat melemah ke level Rp17.527 per dolar AS pada hari ini, Kamis (14/5/2026).
Situasi ini merupakan external shock (guncangan eksternal) yang semakin membebani struktur ongkos produksi
Bank Indonesia (BI) memberikan respons terkait meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar Rupiah yang menembus Rp17.500 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 115 poin atau sekitar 0,66 persen ke level Rp17.529 per dolar AS pada akhir perdagangan Selasa (12/5/2026).
Pemerintah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk memperkuat nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS), salah satunya melalui penerbitan instrumen utang berbasis Yuan, Panda Bond di pasar keuangan China.
Nilai tukar rupiah di pasar spot terpantau melemah pada posisi Rp17.401 per dolar AS di awal perdagangan Selasa (5/5/2026).