Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Alat Rapid Test Corona Anak Bangsa Diminati Yayasan Pendiri Facebook

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 02 April 2020 12:40 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 02 620 2192891 alat-rapid-test-corona-anak-bangsa-diminati-yayasan-pendiri-facebook-8cMgR74mB1.jpg Rapid Test Kit Corona

ALAT rapid test virus Corona (COVID-19) tengah menjadi kebutuhan medis global. Di tengah keterbatasan pemenuhan kebutuhan alat tes mandiri tersebut, pengusaha asal Indonesia berhasil mengembangkan alat tersebut hanya dalam waktu empat bulan.

Hasilnya, alat rapid test ini diminati banyak pihak termasuk Chan Zuckerberg Biohub, yayasan milik pendiri Facebook Mark Zuckerberg bersama sang istri Priscilla Chan.

“Kami telah mengirimkan alat tes mandiri untuk membantu lembaga-lembaga riset ternama, seperti Mayo Clinic, University of California San Francisco, dan Chan Zuckerberg Biohub," ujar pemilik merek alat tes mandiri COVID-19, Sensing Self Santo Purnama, Kamis (2/4/2020).

(Baca Juga : Kenali Rapid Test, Alat Screening Medis Sederhana dengan Hasil Cepat)

Jumlah korban positif corona

Alat tes mandiri Santo kembangkan bersama rekannya, Shripal Gandhi untuk memberdayakan setiap orang agar dapat mendeteksi kesehatannya masing-masing dan mendapatkan pengobatan di tahap sedini mungkin. Santo memiliki latar belakang ilmu komputer dan teknologi dari Purdue University dan Stanford University, sementara Shripal Gandhi merupakan lulusan terbaik jurusan teknik kimia dan biosains dari University of Mumbai dan University of California.

(Baca Juga : Intip Proses Pembuatan Rapid Test hingga Dipasarkan kepada Konsumen)

Ide untuk memberikan hasil deteksi yang cepat dan akurat berusaha mereka wujudkan melalui metode analisis tes enzim. Cara ini, kata Santo, hanya membutuhkan biaya murah sekira Rp160 ribu. Sementara hasil tes nostril swab memakan biaya Rp1,2 juta sekali tes, dan prosesnya butuh waktu hingga satu jam.

Alat hasil pengembangan Santo ini resmi diproduksi sejak bulan Februari 2020 lalu. Lisensi edar dari tiga pasar penting di dunia, yaitu Eropa (mendapatkan sertifikasi CE), India (disetujui oleh National Institute of Virology dan Indian Council of Medical Research), serta Amerika Serikat telah dikantongi.

(Baca Juga : Ramai Dijual Online, Jangan Beli Alat Rapid Test Sembarangan)

Untuk pasar Amerika Serikat, badan pengawasan obat dan makanan FDA telah memberikan persetujuan dengan syarat penggunaannya harus dilakukan di lembaga medis formal. India, yang mencatatkan angka ribuan kasus positif COVID-19, telah memesan alat tes cepat ini sejumlah 3 juta unit.

“Kehadiran alat tes mandiri dapat membantu pemerintah untuk menyediakan akses tes yang lebih aman, praktis, dan terjangkau bagi masyarakat luas. Ketika terdapat pasien positif, mereka dapat langsung melakukan isolasi mandiri ataupun mendapatkan perawatan di rumah sakit. Dengan begitu, para tenaga medis bisa benar-benar memfokuskan diri untuk merawat pasien COVID-19 dengan gejala menengah-parah, alih-alih menghabiskan waktu untuk melakukan tes pada ribuan orang,” ungkap Santo.

(Baca Juga : Dokter Tirta: Negatif di Rapid Test, Belum Tentu Bebas Corona COVID-19)

Saat ini, Santo dan tim juga sedang mengembangkan solusi lainnya untuk melawan pandemi, yakni tes asam nukleat (nucleic acid test) untuk mendeteksi infeksi COVID-19 sedini mungkin dan biaya efisien. Hasil tesnya diklaim mampu mendeteksi dengan akurasi hingga 99% pada hari pertama mereka terpapar virus. Mereka akan segera meluncurkan produk ini saat sudah siap dalam waktu dekat.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini