Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Please Pasien COVID-19 Jangan Bohong agar Tenaga Medis Tak Jadi Korban

Dewi Kania, Jurnalis · Kamis 23 April 2020 17:32 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 23 620 2203842 please-pasien-covid-19-jangan-bohong-agar-tenaga-medis-tak-jadi-korban-UQ3NbqdFb4.jpg Ilustrasi. (Freepik)

TENAGA medis di Indonesia banyak yang terkena COVID-19. Salah satu penyebab utama adalah pasien positif corona berbohong tentang riwayat sakitnya kepada dokter.

Profesi dokter, suster dan tenaga medis di masa pandemi Corona COVID-19 ini jadi kategori orang yang paling rentan tertular. Maka, para tenaga medis ini wajib memakai APD (Alat Pelindung Diri) saat mereka bertugas di garda terdepan melawan COVID-19.

Namun, apa yang bisa diperbuat para dokter ketika menghadapi pasien positif corona COVID-19 dan keluarganya yang berbohong tentang riwayat sakitnya. Saat pertama kali berkonsultasi ke dokter, mereka tidak jujur bercerita bahwa pernah kontak dengan orang yang positif Covid-19 atau ada riwayat pergi ke kota yang telah menjadi zona merah.

Kasus pasien berbohong hingga membahayakan dokter di rumah sakit pun sudah terjadi. Beberapa minggu lalu, sebanyak 46 tenaga medis di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Kariadi Semarang tertular virus corona, karena menangani pasien tidak jujur. Beberapa di antaranya ada dari kalangan dokter spesialis.

Disebutkan bahwa pasien berbohong itu berasal dari zona merah corona COVID-19 yang datang ke Semarang. Kemudian pasien tersebut datang ke RSUP Kariadi dan tidak jujur bahwa dirinya baru datang dari zona merah corona COVID-19.

pasien

Saat datang ke rumah sakit, pasien datang dengan gejala yang mirip corona COVID-19. Karena pasien tidak jujur, akhirnya tenaga medis di RSUP Kariadi malah mendapat petaka.

Ada lagi kasus serupa di RS TNI Ciremai Cirebon. Akibat pasien tidak jujur menceritakan riwayat perjalanannya ke dokter, ada 21 tenaga medis juga harus diisolasi. Diikuti dengan kabar terbaru dari salah satu RS di Kota Bekasi, 11 tenaga medis harus diisolasi juga akibat pasien berbohong.

Pasien corona COVID-19 diimbau tidak melakukan hal serupa. Ingatlah, banyak tenaga medis yang meninggal akibat terpapar corona COVID, baik itu dengan hasil rapid test positif atau masih berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PD).

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengeluarkan data terbaru dokter yang meninggal dunia karena corona COVID-19 sebanyak 23 dokter per 22 April 2020. Indonesia hingga kini memiliki 223.826 dokter berdasarkan registrasi keseluruhan di Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).

Sementara menurut data dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) ada 16 perawat diduga meninggal karena COVID-19.

Ketua Umum PPNI Harif Fadhillah mengatakan, data tersebut belum melaporkan semua kematian perawat akibat corona COVID-19. PPNI memiliki sistem pemantauan internal yang diisi perawat secara volunteer. "Tapi sepertinya 16 perawat yang diduga meninggal akibat corona sepertinya belum sesuai dengan fakta, karena masih banyak yang tidak mengisi," terangnya saat dihubungi Okezone.

Dari Semarang, Prof dr Zainal Muttaqin, SpBS dan tim kini masih menjalani isolasi di Candi Baru. Tempat ini memang dikhususkan sebagai tempat istirahat para tenaga medis.

"Buat teman-teman semuanya mengabarkan kami dinyatakan positif COVID-19 sejak Rabu 8 april 2020. Kami saat ini menjalani isolasi diri di tempat yg disedikan oleh RSUP Dr Kariadi bekerja sama dengan pemerintah provinsi," katanya lewat siaran iNews TV.

Prof Zaenal pun memohon doa kesembuhan bagi dirinya, juga tenaga medis lain yang mengalami petaka "Keadaan kami baik-baik, mohon doanya. Sampai nanti hasil tes negatif mohon doanya," imbuhnya.

Dalam video tersebut juga terdapat dokter lainnya yang positif corona COVID-19. Sang dokter meminta masyarakat untuk melindungi diri masing-masing agar tidak tertular virus corona COVID-19. “Ayo jaga diri masing-masing tetap sehat, lindungi diri, tetap ceria!” Sang dokter juga mengajak masyarakat untuk positive thinking. Karena bersama-sama Indonesia bisa melawan corona COVID-19. "Buat yang sehat, ingat belum tentu dia tidak tertular. Sedangkan yang sakit segera cepat berobat. COVID-19 ini harus dihadapi bersama," tuturnya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pun sudah mengetahui kasus ini. Bukan saja menyayangkan, namun kelakuan pasien bohong itu membuat Ganjar Pranowo kesal. "Saya sangat menyayangkan hal ini bisa terjadi. Ini menjadi pelajaran buat kita semua," katanya, dilansir Okezone dari situs resmi Humas Provinsi Jateng.

Ganjar Pranowo pun gerak cepat mengisolasi 46 tenaga medis positif corona COVID-19 itu. Dia menyatakan, kondisi ke-46 tenaga medis itu baik-baik saja. Semua kebutuhan selama isolasi dipenuhi, mulai dari kebutuhan pangan dan berbagai dukungan yang lainnya. “Kemarin ada yang minta vitamin, langsung kami kirimkan kepada mereka. Kami akan berusaha menyiapkan hal yang terbaik bagi mereka,” katanya.

Mendengar para tenaga medis tertular virus corona, masyarakat juga mengirimkan bantuan. Masyarakat mengirimkan langsung ke hotel, tempat tenaga medis diisolasi.

"Mereka bilang sampai kekenyangan karena bantuan buah-buahan dan kebutuhan lain terus mengalir," kata Ganjar Pranowo. Menurutnya, ini membuktikan bahwa para dokter dan tenaga kesehatan tersebut sangat dicintai masyarakat. Ganjar Pranowo berharap masyarakat terus memberikan dukungan dan tidak menciptakan stigma negatif pada mereka. "Jangan ada stigma negatif, karena mereka semua ahli kesehatan sehingga paham betul bagaimana menghadapi ini. Kita terus support mereka seperti sekarang," kata Ganjar.

Sementara itu, Humas PB IDI dr Halik Malik, menyampaikan bahwa setiap pasien menyampaikan secara terbuka, jujur, dan terus terang mengenai kondisinya. Itupun sudah sering diimbau. Pemerintah dan semua pihak dalam setiap kesempatan selalu mengingatkan agar masyarakat bisa menilai diri masing-masing. "Terkait risiko atau kemungkinan menderita covid19 berdasarkan gejala, riwayat perjalanan, dan riwayat kontak sebelumnya," kata Dokter Halik.

Namun masalahnya, menurut Dokter Halik, kemungkinan ada pasien yang tidak mengetahui, apakah ada riwayat kontak dengan pasien corona COVID-19. Meski begitu terkait kondisi kesehatannya sendiri harus disampaikan apa adanya. "Saat ini orang tanpa gejala cukup banyak, banyak yang tidak mengetahui sebelumnya kalau dirinya sudah tertular. Oleh karena itu skrining perlu lebih diperketat di setiap fasilitas kesehatan," terangnya.

dokter

Saat ini, sambung Dokter Halik, sudah tersedia cukup banyak aplikasi untuk melakukan self assesment. Terkait risiko diri tertular corona COVID-19, pastinya sulit utk mengetahui riwayat perjalanan, riwayat kontak dan riwayat penyakit sebelumnya tanpa adanya informasi dari pasien sendiri. Maka, tetap perlu dilakukan skrining berdasarkan keterangan apa adanya dari pasien dan keluarga. Serta pemeriksaan awal di lini depan setiap fasilitas pelayanan kesehatan.

"Penyakit COVID-19 bukanlah aib dan tidak ada diskriminasi dalam penanganannya. Jadi lebih baik terbuka, biar nyawa sendiri selamat, karena cepat ditangani dan tidak menularkan ke orang lain dan segera diantisipasi," pungkasnya. Lewat tulisan ini, Okezone juga mengimbau kepada pasien yang merasakan gejala COVID-19, jangan berbohong saat berkonsultasi ke dokter. Ceritakan secara jujur riwayat sakit Anda, agar jangan ada lagi tenaga medis yang jadi korban.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini