Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Analisa UAS Soal Parodi Aisyah, Tiktok Sholat hingga Prank Sampah

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Selasa 12 Mei 2020 11:55 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 12 620 2212794 analisa-uas-soal-parodi-aisyah-tiktok-sholat-hingga-prank-sampah-L98oWHuEao.jpg Abdul Somad. Foto: Instagram @ustadzabdulsomad_official

Berkali-kali dalam dakwahnya ulama kondang Ustadz Abdul Somad (UAS) mengingatkan betapa media sosial (medsos) bisa bermanfaat menghasilkan sesuatu yang baik, namun bisa menghasilkan yang buruk jika salah pemanfaatan.

Terbukti, akhir-akhir ini jagat maya digemparkan oleh sejumlah unggahan yang berbuntut kasus hukum. Contohnya parodi lagu Aisyah, tiktok yang mempermainkan sholat hingga prank paket sembako berisi sampah yang dilakukan Youtuber Ferdian Paleka.

Semua ulah netizen itu disorot oleh Ustadz Abdul Somad. Ia memfokuskan pembahasan pada kesadaran saat melakukannya dan sebelum melakukannya. Bagaimana pendapat ulama asal Riau tersebut, berikut tulisannya yang diunggah ke Instagram @ustadzabdulsomad_official.

لسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

S.A.D.A.R

Beberapa kali video itu saya ulang. Memperhatikan raut wajah pelaku saat kejadian. Kemudian dibandingkan dengan saat meminta maaf, baik pada kasus parodi lagu Aisyah, prank sampah, tiktok shalat, dan beberapa masalah sejenis.

Saat peristiwa itu usai, pelaku seperti baru tersadar. Keywordnya adalah kata sadar. Sadar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah merasa, tahu, ingat, mengerti dan siuman.

Baca Juga: Hukum Prank Ojol dalam Islam, Youtuber Wajib Tahu

Berarti, saat peristiwa itu terjadi pelaku tidak sadar. Sedang mengalami euforia; perasaan ekstrim, tidak rasional, pada emosi. Itu bisa terlihat pada pada raut wajah, body language, diperjelas lagi dengan beberapa ungkapan, "Saya akan menyerahkan diri jika follower tiga puluh ribu", atau, "Salah saya apa? Kucingnya kan masih hidup".

Betapa sosial media perlahan-lahan mengganggu kesadaran orang, jika tidak ingin disebut merusak kesadaran. Ketika masuk ke alam sosial media, orang menjadi sangat-sangat, sangat gagah melebihi Kevin Cosner dalam Dances With Wolves walau kenyataannya macam Tok Labu Menjemur Kain. Bisa sangat senang, atau sangat marah, atau sangat puitis. Tidak normal. Seperti terpukau, terhipnotis.

Salah satu misi kedatangan Islam adalah menjaga kesadaran. Oleh sebab itu Islam mengharamkan khamar karena bisa menghilangkan kesadaran. Islam mengajarkan manusia agar sadar atas segala tindakannya.

Saat terjaga dari tidur, ia benar-benar sadar. Bukan antara sadar dan tidak. Kesadaran itu diuji dengan ucapan yang keluar dari mulutnya, "alhamdulilladzi ahyana ba'da ma amatana wa ilaihin nusyur (segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami yang sebelumnya mematikan kami. Kepada-Nya kami akan kembali)".

Baca Juga: Begini Cara Mendidik Anak di Zaman Modern Menurut Abdul Somad

Ketika ke toilet, ia benar-benar sadar bahwa kaki yang masuk terlebih dahulu adalah kaki kiri dengan doa khusus. Saat minum, ia sadar bahwa tangan yang ia gunakan adalah tangan kanan.

Perputaran waktu ia disadarkan. Sadar saat terbit fajar. Sadar saat matahari mulai naik. Sadar saat matahari tergelincir. Sadar saat matahari mulai redup. Sadar saat matahari tenggelam. Sadar saat malam telah sempurna. .

Kesadaran itu diwujudkan dalam bentuk ucapan, gerakan, ingatan dan doa dalam shalat-shalat wajib dan sunnat.

Bahkan lebih halus dari itu. Seorang Muslim mesti sadar atas setiap hembusan nafasnya. Saat berkunjung ke Syaikh Muhammad Saifuddin al-Kurdi. Saya tidak melihat mereka memegang tasbih seperti lazimnya majelis zikir. Ntah Syaikh sadar dengan fikiran saya. Ia pun berucap, "Kami tidak lagi menghitung zikir dengan tasbih. Tapi tarikan dan hembusan nafas itu diisi zikir. Sehingga kita sadar".

Hidup ini sebenarnya baru sampai pada level mencari kesadaran. Puncak kesadaran itu adalah kematian. Itu yang terbersit dari ungkapan:

الناس نيام فاذا ماتوا انتبهوا

"Manusia itu tidur (tidak sadar), ketika ia mati, barulah ia terjaga (sadar)", ucapan Sayyidina Ali yang terpahat di nisan Annemarie Schimmel.

Ramadhan mendidik kita untuk selalu sadar. Selalu waspada, takut tertelan sesuatu. Khawatir terpandang yang dapat membatalkan puasa. Sadar untuk tidak bicara aib orang lain.

Puncak kesadaran saat puasa adalah ketika menjelang finish, benar-benar sadar dan dipastikan bahwa yang terdengar itu adalah azan maghrib dari masjid, bukan handphone. Selamat buka puasa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini