Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Belajar dari Kasus Salmafina Sunan Donor Sperma, Amankah?

Pradita Ananda, Jurnalis · Rabu 03 Juni 2020 16:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 03 620 2224015 belajar-dari-kasus-salmafina-sunan-donor-sperma-amankah-u3qbBdKnUG.jpg Salmafina Sunan. (Foto: Instagram/@salmafinasunan)

BEREDAR kabar putri dari pengacara Sunan Kalijaga, Salmafina Sunan hendak mencari donor sperma agar bisa mempunyai anak tanpa harus menikah.

Membahas soal donor sperma, ada mitos yang menyebutkan bahwa mendonorkan sperma dapat berpengaruh negatif pada kesehatan. Benarkah demikian?

Well, dijelaskan Scott Brown, Wakil Presiden California Cryobank, salah satu bank sperma terbesar di dunia, ternyata opini yang menyatakan mendonorkan sperma bisa berdampak tidak baik bagi kesehatan adalah hanya mitos belaka.

salmafina

Baca Juga: Potret Masa Kecil Salmafina Sunan, Lugu dan Menggemaskan

Sejauh ini tidak ada bukti yang bisa mendukung bahwa mendonorkan sperma bisa berakibat buruk bagi kesehatan. Sebaliknya, Scott menyebutkan mendonasikan sperma sebetulnya malah dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, mengingat adanya pemeriksaan medis dan evaluasi kesehatan berulang kali, seperti dikutip Insider, Rabu (3/6/2020).

Senada dengan penjelasan di atas, sebagaimana dilansir Indiaparenting, disebutkan memang tidak ada risiko kesehatan bagi donor sperma. Ketika klinik atau rumah sakit menyatakan seorang pria, biasanya kelompok usia 23-34 tahun untuk menjadi donor sperma setelah skrining yang menyeluruh, maka berarti kesehatannya cocok untuk prosedur ini.

Dalam prosesnya, pendonor sperma akan mendapatkan pemeriksaan fisik, tes STD (sexually transmitted disease), tes genetik, hingga evaluasi psikologis. Scott mengungkapkan, melalui proses pemeriksaan ini justru para donatur yang potensial sering menemukan diri mereka ternyata memiliki STD ( penyakit seksual menular) atau mutasi genetik.

Tidak hanya itu, selain memberikan sang donor akses ke pemeriksaan medis yang luas, Scott menyakini bahwa rangkaian proses aplikasi (biasanya dengan esai pribadi dan proyek seni) memiliki manfaat tersendiri.

Baca Juga: Sunan Kalijaga Ajak Salmafina Sunan Liburan ke Amerika, Akur Deh!

Sunan Kalijaga Ajak Salmafina Sunan Liburan ke Amerika, Akur Deh!Sunan Kalijaga Ajak Salmafina Sunan Liburan ke Amerika, Akur Deh!

sperma

"Penyaringan aplikasi saat mengisi evaluasi bisa sangat introspektif," ujar Scott.

Lalu bagaimana dengan yang menerima sperma? Apakah ada kemungkinan untuk bisa tertular penyakit seksual atau penyakit genetik jika menggunakan sperma yang disumbangkan tersebut?

Tidak perlu paranoid, sebab dikatakan sangat tidak mungkin STD atau penyakit genetik tersebut dapat diturunkan kepada anak penerima atau yang dikandung donor. Mengingat langkah-langkah luas dan menyeluruh yang diambil klinik sperma, dalam memastikan donor tidak memiliki penyakit seksual menular atau risiko tinggi untuk mutasi genetik.

Selain itu, perlu diketahui bahwa sperma yang disumbangkan tidak segera tersedia untuk bisa digunakan. Menurut peraturan Federal Drug Administration (FDA), sperma tersebut harus dikarantina selama enam bulan sebelum dapat digunakan untuk membuahi sel telur.

Baca Juga: Salmafina Sunan Piknik Cantik di Bali, Siapa Mau Ikut?

Selama kurun waktu ini, sang donor diuji berulang kali untuk memastikan bebas penyakit menular seksual dan penyakit genetik. Jika dalam proses tersebut, salah satu hasil tes dari donor menunjukkan hasil positif maka sperma tidak bisa digunakan. Meski diingatkan, kita tidak pernah bisa mengontrol sesuatu yang alami. Namun kasus bayi yang terlahir dengan cacat genetik dari proses ini disebutkan sangat tidak mungkin terjadi.

1
3
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini