Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Curhat Penumpang Pesawat Terbang kala Pandemi Covid-19: Biaya Mahal, Hati Makin Deg-degan

Elga Nurmutia, Jurnalis · Selasa 30 Juni 2020 16:55 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 30 620 2238931 curhat-penumpang-pesawat-terbang-kala-pandemi-covid-19-biaya-mahal-hati-makin-deg-degan-CRQRQjVpbu.jpg Ilustrasi. (Freepik)

BEPERGIAN dengan pesawat di tengah pandemi Covid-19 tentunya ada berbagai hal yang perlu dipersiapkan. Salah satunya perlu menjalani tes kesehatan terlebih dahulu sebelum berangkat guna mencegah penularan Covid-19.

Okezone mendapatkan salah satu cerita dari penumpang pesawat Garuda dari Jakarta menuju Aceh, pulang pergi, (PP) yaitu Ina Intani. Ia lalu bercerita tentang beberapa syarat yang harus dipersiapkan sebelum terbang.

Salah satu syarat penting yang harus dilengkapi para penumpang sebelum terbang adalah wajib menjalani Rapid Test.

Ina harus merogoh kocek sekira Rp700 ribu untuk jalani dua kali rapid test. Total biaya terbang dari Jakarta-Aceh PP, Ina mengaku mengeluarkan budget sekitar Rp10 juta, termasuk dengan Rapid Test.

penumpang

Baca Juga: Destinasi Wisata di Banyuwangi yang Boleh Dibuka, Ditandai Pemasangan Stiker Khusus

Ina pun bertutur, prosedur baru untuk terbang di tengah pandemi Covid-19, ini terasa lebih merepotkan. Karena ada sederet prosedur yang sebelumnya tidak pernah diterapkan.

Ina Intani pun menjalani Rapid Test, dua hari sebelum waktu keberangkatan. Surat Rapid Test ini dikeluarkan oleh dokter dan nantinya harus dibawa ke bandara. Saat tiba di bandara, nantinya surat tersebut akan dilegalisir oleh petugas.

“Sebelum terbang kemarin, saya harus jalani rapid test di rumah sakit, dua hari sebelum keberangkatan. Setelah hasil rapid test keluar, dokter memberikan surat keterangan sehat. Alhamdulillah, hasil tes saya negatif. Nah, hasil tes ini yang harus ditunjukkan ke petugas bandara. Kemudian, petugas melegalisir surat itu,” lanjut Ina.

Selain membawa hasil rapid test, penumpang juga wajib mematuhi beberapa hal lain. Sebelum terbang, Ina sempat diberitahu untuk menjalankan protokol kesehatan dengan ketat di dalam penerbangan serta mengenakan sarung tangan, face shield, masker dan sebagainya.

"Sebelum terbang, saya diinfo agar selama dalam penerbangan, wajib pakai sarung tangan, face shield, masker kain. Saya malah melengkapi penampilan hari itu dengan pakai kaos kaki. Penampilan saya hari itu sudah seperti astronaut,"kata Ina sambil tertawa.

Baca Juga: 10 Tempat Wisata di Banyuwangi Siap Dibuka saat New Normal

Lebih jauh Ina bercerita, saat pertama kali kakinya menjejak bandara, terasa sunyi tidak seperti dulu, yang selalu ramai. Seketika hatinya jadi sedih. Bandara tampak kosong dan lengang.

Saat mau naik dan turun pesawat, maskapai penerbangan mengatur jarak antar penumpang. Tidak ada lagi penumpang berdesakan karena berebut ingin masuk lebih dulu. "Kita wajib jaga jarak saat antre mau naik dan turun pesawat. Tidak ada lagi penumpang yang uwel-uwelan," terangnya.

Kemudian, saat di dalam pesawat, tempat duduk para penumpang diatur sedemikian rupa, sehingga ada jarak satu sama lain. Physical distancing telah dipraktikkan di dalam penerbangan Garuda tersebut.

"Di dalam pesawat posisi duduk antar penumpang diberi jarak. Di sebelah saya kursi kosong. Tidak ada lagi penumpang yang bisa duduk berdekatan," tambah Ina.

"Saat di dalam pesawat, saya jadi sedih lagi mengenang saat bepergian bersama teman atau saudara sebelum pandemi Covid-19. Dulu, saya dan teman-teman bisa duduk berdekatan dan sepanjang penerbangan jadi asyik bercerita ataupun bercanda penuh tawa. Kemarin saat terbang, tak ada lagi keriaan seperti dulu. Semua diam dan tampak tegang karena kita saling jaga tidak mau tertular penyakit Covid-19 ini kan," tutur Ina.

Baca Juga: 

Gubernur Banten Izinkan Objek Wisata Buka Kembali

Perempuan usia 55 tahun ini mengaku mesti terbang ke Aceh karena tugas dari kantornya. "Dulu, saat ditugaskan luar kota seperti kemarin, hati saya senang ya. Tapi setelah kemarin merasakan sendiri, saya merasa terbang di tengah pandemi Covid-19 ini sama sekali tidak menyenangkan. Sebelum terbang, baik saat pergi maupun pulang, hati deg-degan karena harus menunggu hasil Rapid Test. Dan selama penerbangan, juga terasa sepi, mencekam karena kita saling jaga supaya tidak tertular penyakit," ungkapnya.

Berdasar pengalaman ini, Ina mengingatkan bahwa bila memang tidak ada keperluan penting, lebih baik di rumah saja, tidak perlu bepergian dengan pesawat. "Ada teman yang berkomentar, 'Wah, senang ya kamu bisa terbang, pergi jauh.' Saya pun langsung merespon, jangan berpikir terbang di tengah pandemi ini menyenangkan, loh! Biaya terbang lebih mahal tapi perasaan malah lebih cemas, deg-degan. Jadi, kalau tidak ada kepentingan, lebih baik di rumah saja," tambah Ina mengingatkan kita semua agar tetap berhati-hati karena pandemi Covid-19 ini belum berakhir.

1
3
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini