Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jadikan Wabah sebagai Rahmat dengan Bertakwa kepada Allah Ta'ala

Sabtu 01 Agustus 2020 13:37 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 01 620 2255372 jadikan-wabah-sebagai-rahmat-dengan-bertakwa-kepada-allah-ta-ala-0G4ErP57zv.JPG KH Muhammad Cholil Nafis (Foto: Instagram/@cholilnafis)

KETUA Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhammad Cholil Nafis mengatakan, ibadah kurban yang dilaksanakan kaum muslimin, merupakan salah satu upaya mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Deskripsi kehidupan kaum muslimin ini, menggambarkan interelasi kuat antara orang yang menunaikan ibadah haji, dengan saudara-saudaranya yang tidak pergi ke Baitullah.

"Oleh karena itu, kita melaksanakan Sholat Idul Adha dan ibadah kurban pada hakikatnya sebagai bentuk kesadaran memenuhi perintah Allah Ta'ala dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam," ucapnya dalam khutbah Idul Adha, seperti dikutip dari website MUI.

Kiai Cholil menjelaskan, ibadah kurban merupakan salah satu ibadah penting dalam ajaran Islam. Ibadah ini memiliki fondasi kuat dan memiliki akar sejarah panjang dalam tradisi rasul-rasul terdahulu. Nabi Ibrahim Alaihissalam dikenal sebagai peletak pertama ibadah kurban.

Peristiwa penyembelihan yang dilakukan Nabi Ibrahim Alaihissalam terhadap putranya Nabi Ismail Alaihissalam merupakan dasar bagi adanya ibadah kurban. Nabi Ibrahim dengan penuh iman dan keikhlasan bersedia untuk menyembelih anak kesayangannya, Ismail hanya semata-mata untuk memenuhi perintah Allah.

Baca juga: Pemimpin Muslim Ucapkan Selamat ke Raja Salman atas Layanan Haji yang Luar Biasa

Peristiwa mengharukan ini, dilukiskan dengan indah oleh Allah dalam Alquran Surah As-Shaffat ayat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّيْ أَرَى فِيْ المَنَامِ أَنِّيْ أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَآأَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْ سَتَجِدُنِيْ إِنْ شَآءَ اللهُ مِنَ الصَابِرِيْنَ

Artinya: “Tatkala anak itu sampai umurnya dan sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim. Ibrahim berkata; Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu. la menjawab, wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar," (QS. As-Shaffat: 102).

"Ini adalah ujian ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah. Di kemudian hari, pengorbanan ini menjadi anjuran bagi umat Islam untuk menyembelih hewan kurban, setiap tanggal 10 Dzulhijjah dan pada hari tasyrik, yaitu 11, 12, dan 13 Dzulhijjah," tuturnya.

Saat ini lanjut dia, umat Islam khususnya di Indonesia sedang mendapat musibah pendemi Covid-19 sehingga secara keagamaan, sosial dan ekonomi mengalami banyak perubahan dan kesulitan. Secara keagamaan, banyak perubahan tata laksana bahkan sampai tak dapat melaksanaan ibadah sebagaimana mestinya.

"Contohnya, beberapa bulan lalu kita tak dapat melaksanakan Sholat Jumat berkali-kali karena menghindari berkerumun di masjid, sholat rawatib berjamaah sampai sekarang di daerah yang masih rawan penularan Covid-19 belum bisa melaksanakan sholat berjamaah yang merapatkan shaf," kata dia.

Secara sosial keagamaan banyak hal yang berubah karena mengikuti protokol kesehatan untuk menghindari penolaran pandemi ini. Yaitu, tidak bersalaman secara langsung saat berlebaran dan pertemuan, tidak bisa mudik saat lebaran dan acara-acara hari besar dan tabligh akbar sulit dilaksanakan.

Kini secara ekonomi sambungnya, pendapatan masyarakat sangat terasa penurunan produksi bahkan sebagian banyak yang dirumahkan juga diberhentikan kerja. Para pekerja informal, seperti guru lepas dan pedagang kaki lima banyak yang berhenti bekerja karena suasan di saat wabah pandemi tak memungkin kondisinya.

"Masyarakat saat ini banyak yang prihatin. Apapun kondisinya harus banyak berkorban demi mempertahankan hidup dan memenuhi kebutuhan hidup baik secara muril maupun materiil. Harus meluruskan niat, semua upaya semata-mata qurbanan (mendekatkan diri) kepada Allah," ucap Kiai Cholil.

"Mari kita kembali kepada ajaran Islam untuk menghindari siksa dengan datangnya wabah sehingga wabah pandemi ini bisa mendatangkan rahmat. Sebab musibah, termasuk pandemi Covid-19 ini akan menjadi siksa (azab) bagi siapa yang dikehendaki oleh Allah dan akan menjadi rahmah (kasih sayang) Allah kepada orang mukmin. Karenanya, untuk menjadikan musibah ini rahmah adalah menyikapinya dengan keimanan dan melaksanakan ajaran Islam," terangnya.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini