Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

45 Tahun MUI Sejalan dengan Nabi Mulai Berdakwah secara Terbuka

Sabtu 15 Agustus 2020 13:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 15 620 2262696 45-tahun-mui-sejalan-dengan-nabi-mulai-berdakwah-secara-terbuka-ix1zcM8ger.jpg Majelis Ulama Indonesia (MUI). (Foto: Istimewa)

MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) telah berusia 45 tahun. Ini dinilai sebagai usia yang sudah matang, terutama dalam dakwah. Banyak hal pastinya telah dilewati dan tidak sedikit juga permasalahan yang sudah diselesaikan.

Usia ini pun memberi kesan tersendiri untuk Ustadz Adi Hidayat. Menurut dia, usia MUI yang ke-45 tahun ini sejalan dengan usia Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam saat memulai dakwah secara terbuka. Sebelumnya Nabi hanya melakukan konsolidasi bersama 40 sahabat assabiqunal awwalun.

Baca juga: Aa Gym: Dihalang-halangi dari Maksiat adalah Nikmat Terbaik

Setelah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam melakukan konsolidasi internal selama 3–4 tahun dari kalangan terbatas itu, di usia yang menjelang 45 tahun, Rasulullah memulai langkah dakwah secara terbuka. Dakwah terbuka ini tentu saja menimbulkan risiko.

Mengutip Surah Al Baqarah Ayat 124, Ustadz Adi Hidayat mengatakan, sangat penting untuk memetakan tantangan langkah dakwah ke depan. Sesuai ayat ini, maka langkah dakwah yang akan dihadapi mulai yang paling ringan seperti ba’saa sampai yang menimbulkan gangguan fisik atau dorroo’.

"Atau mungkin terjadinya goyahan hati yang diilustrasikan Alquran dengan kalimat Zilzal. Tampaknya ini menjadi hal yang relevan yang dihadapi MUI kekinian yang mengharuskan kita menghadirkan solusi di Alquran Surah Ali Imran Ayat 142 sebagai jawaban," kata Ustadz Adi Hidayat, dikutip dari MUI.or.id, Sabtu (15/8/2020).

Sesuai Surah Ali Imran Ayat 142, Ustadz Adi Hidayat menyampaikan ada tiga hal yang bisa menjadi solusi jawaban tantangan dakwah MUI ke depan. Solusi itu diambil dari kata al juhdu yang berarti kesungguhan dan keseriusan.

Baca juga: Beriman kepada Allah, Asiyah Istri Firaun Dibangunkan Istana di Surga 

"Dari situ melahirkan hibrida utama, kesungguhan merencanakan visi yang dinamakan ijtihad, kesungguhan mengeksekusi seluruh rencana visi menjadi misi yang dinamakan jihad, dan mengatasi perjuangan emosional yang mungkin bisa hadir ketika berjihad itu dinamakan mujahadah yang dilengkapi dengan nilai-nilai kesabaran untuk mendapatkan pertolongan Allah Subhanahu wa ta'ala," paparnya.

"Semoga Allah Subhanahu wa ta'ala menyatukan hati kita, mempersatukan kita, menjauhkan dari perpecahan dan menjadikan kita ulama yang diridhoi dan dicintai Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam," pungkasnya.

(han)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini