Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Curhat Pemulsar Jenazah Pasien Covid-19: Dapat Stigma Negatif

Dewi Kania, Jurnalis · Kamis 17 September 2020 13:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 17 620 2279197 curhat-pemulsar-jenazah-pasien-covid-19-dapat-stigma-negatif-YU0618UPjv.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone)

TAK pernah terbayangkan di pikiran Dwi Suryanto tentang adanya virus corona yang menjadi pandemi di masa sekarang. Bahkan SARS Cov 2 ini pun menjadi penyebab kematian banyak orang yang terinfeksi.

Angka kematian akibat Covid-19 pun per hari ini sudah tembus angka lebih dari 9.000. Semakin banyaknya korban Covid-19, Dwi Suryanto pun berkeluh kesah menjadi tenaga relawan pemulasaran jenazah.

Sangat berat tugas Dwi Suryanto saat harus memakamkan jenazah Covid-19 dari berbagai pengalaman. Tak jarang pun dia mendapat pengalaman terburuk saat menjadi relawan pemulasaran jenazah.

Dwi Suryanto yang bergabung menjadi relawan Palang Merah Indonesia DIY Yogyakarta ini awalnya mengaku takut, ragu, hingga akhirnya kini terbiasa menguburkan jenazah Covid-19. Tugasnya menjadi tenaga relawan pun belum selesai hingga pandemi berakhir.

Baca Juga: 7 Kebiasaan Sehat yang Tanpa Sadar Mulai Terlupakan 

jenazah

"Awal-awal takut, ragu untuk ikut pemulasaran jenazah. Terus kebayang-bayang keadaan jenazah dan sempat terjadi beberapa kali, dengan saling menguatkan dan ikhlas sudah bisa dilalui," ucapnya saat Webinar Kisah Para Pejuang Kemanusiaan, Rabu 16 September 2020.

Dwi juga menceritakan apa yang dilakukan saat memulasarkan jenazah Covid-19. Dia bersama tim harus evakuasi yakni menjemput jenazah, menyediakan transportasi dan hingga memakamkan jenazah.

Satu hal pula yang dilakukan yakni memandikan jenazah sebelum proses pemakaman. Kegiatan ini harus dilakukan di rumah sakit sesuai protokol kesehatan.

Saat memulasarkan jenazah, Dwi kerap menghadapi berbagai pengalaman buruk. Dari mulai mendapatkan stigma dari masyarakat di lingkungan sekitarnya, kondisi cuaca saat memakamkan, juga ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) yang terbatas.

"Misalnya yang pernah terjadi saat cuaca panas di siang hari. Lokasi pemakaman yang cukup jauh. Namun demikian tugas yang diemban dapat diselesaikan dengan baik meskipun berjalan penuh tantangan," ungkapnya.

Bahkan, Dwi pun semakin menikmati tugasnya menjadi relawan pemulasaran jenazah. Setiap hari dia harus berjibaku dan bertemu mayat korban Covid-19.

Meski keluarga sempat was-was, kini ada rasa ikhlas dan semakin waspada akan bahaya Covid-19. Dwi dan keluarga pun sering skrining Covid-19 dan bersyukur hasilnya selalu non-reaktif.

"Keluarga sehat semua, begitu rapid non-reaktif, mereka juga mendukung tugas saya sekarang," tambahnya.

Melihat perjuangan Dwi, Pakar Komunikasi Politik Hendri Satrio mengapresiasi jasa para relawan Covid-19. Dia salut karena tugas berat ini belum tentu semua orang bisa melewatinya.

"Saya sampaikan penghargaan, apa yang dilakukan teman-teman relawan luar biasa," bebernya.

Hensat, sapaan akrabnya, bahkan melakukan survei online lewat Lembaga Survey Kedai Kopi yang didirikan. Survei dilakukan pada Juni lalu, melibatkan 1.208 responden yang fokus menjawab seputar pertanyaan Covid-19, serta tugas relawan.

Baca Juga: 5 Cara Menjaga Kesehatan di Tengah Pandemi, Dicoba Yuk

"Saat ditanya inginkah jadi relawan Covid-18, 400 orang dari 1.208 respondem ternyata ingin jadi relawan Covid-19 PMI. Ternyata jiwa sosial relawan ini menular ke masyarakat," terangnya.

Dia juga menilai bahwa peran PMI dalam penanganan Covid-19 yang menyediakan tenaga relawan tidak sia-sia. Masyarakat juga mengakuinya dan sebagian ikut tanggap Covid-19.

"Dari survei tersebut, peran relawan diakui masyarakat dan ini tidak sia-sia tentunya. Saya pun belum tentu berani melakukannya," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini