Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lombok Terapkan Protokol CHSE demi Wujudkan Pariwisata Berkelanjutan

Sabtu 19 September 2020 16:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 19 620 2280496 lombok-terapkan-protokol-chse-demi-wujudkan-pariwisata-berkelanjutan-BekZhlqTCW.JPG Pantai Tanjung Bongo di Lombok, NTB (Foto: Twitter/@Morichand6)

SEBAGAI salah satu destinasi super prioritas, Lombok menerapkan protokol kesehatan berbasis Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) sebagai upaya untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan sekaligus mendorong destinasi wisata di dalamnya dapat bangkit kembali.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf/ Baparekraf, Rizki Handayani, dalam seminar daring bertajuk “Bincang-bincang Revitalisasi Bumi: Sinergi dan Kolaborasi Menjaga Bumi” mengatakan bahwa acara revitalisasi bumi ini bertujuan untuk merevitalisasi destinasi wisata di Indonesia.

Ketika tidak ada wisatawan yang datang berkunjung akibat pandemi maka ini merupakan waktu yang tepat untuk menghidupkan kembali sekaligus membersihkan alam Indonesia.

“Karena yang bisa mencegah penyebaran COVID-19 ini di antaranya dengan menjaga kebersihan. Masalah kebersihan ini bukan hanya melibatkan diri sendiri, tetapi juga kebersihan lingkungan yang ada di sekitar kita,” kata Rizki, dikutip dari website resmi Kemenparekraf, Sabtu (19/9/2020).

Selain itu mengingat pola wisatawan yang telah berubah dari mass tourism ke quality tourism maka lebih banyak wisatawan akan mencari destinasi wisata yang mengedepankan hygiene sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman dalam berwisata. Oleh karena itu, Pemerintah hadir untuk mewujudkan aspek kebersihan, kesehatan, dan kelestarian lingkungan guna membangun pariwisata berkelanjutan.

Baca juga: 6 Objek Wisata Malam di Yogyakarta, Dijamin Bikin Ogah Pulang

Rizki berharap melalui revitalisasi bumi ini dapat meningkatkan citra pariwisata Indonesia, khususnya kepada wisatawan mancanegara, bahwa Indonesia sedang bersiap untuk menerima wisatawan kembali.

Dalam kesempatan yang sama, Analis Kebijakan Kemenparekraf, Noviendi Makalam mengatakan, salah satu yang harus tetap dipertahankan di masa pandemi dan setelah pandemi berakhir adalah penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE. Hal ini dapat menjadikan destinasi pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia untuk berkembang dengan baik dan berkelanjutan.

“Pandemi ini memberikan pelajaran yang berharga bahwa kita sebagai manusia harus menjaga dan merawat bumi ini dengan sebaik-baiknya,” kata Noviendi.

Sementara, Founder and Executive Director of Divers Clean Action, Swietenia Puspa Lestari, menjelaskan bahwa kegiatan revitalisasi bumi bukan hanya sekadar bersih-bersih pantai tetapi memberikan insight mengenai langkah-langkah yang harus diterapkan untuk mewujudkan CHSE di setiap titik destinasi. Salah satu masalah yang dihadapi di setiap titiknya ialah mengenai kebersihan.

“Hal ini tercermin dari data-data hasil pembersihan sampah yang kita lakukan bersama lebih dari 1600 pekerja wisata bahari di 16 titik yang tersebar di Bali dan Lombok. Dari sampah yang dikumpulkan di area Bali dan Lombok, sekitar 3,11 ton berhasil ditangani,” ujar Swietenia.

Ia berharap revitalisasi bumi ini tidak hanya sebagai seremonial saja, tetapi langkah awal untuk menentukan langkah selanjutnya guna melestarikan lingkungan alam Indonesia.

Di lain pihak, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat, Lalu Moh. Faozal mengapresiasi Kemenparekraf dan seluruh stakeholders yang terlibat dalam penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE.

Menurut dia, ada empat area destinasi wisata di Lombok yang siap untuk melakukan standarisasi protokol kesehatan berbasis CHSE, yaitu Gili, Rinjani, Mandalika, dan Kota Mataram.

“Empat area ini kami fokuskan untuk sertifikasi CHSE. Karena, CHSE ini merupakan acuan untuk kita dan harus diterapkan di seluruh destinasi wisata di Indonesia,” ucap Faozal.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini