Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Selain Corona, Ketidakpastian Ekonomi Global Akan Reda Pasca-Pilpres AS

Kunthi Fahmar Shandy, Jurnalis · Jum'at 16 Oktober 2020 12:34 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 16 620 2294605 selain-corona-ketidakpastian-ekonomi-global-akan-reda-pasca-pilpres-as-ADAEy3fgEr.jpeg Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Kontraksi dan perlambatan ekonomi pada triwulan kedua tahun 2020 seiring dengan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Fakta ini ditandai dengan angka pertumbuhan dan inflasi yang rendah, peningkatan defisit fiskal, angka hutang yang melonjak naik, serta eskalasi geopolitik di berbagai negara.

Seiring dengan kasus positif Covid-19 di Indonesia yang semakin tinggi (ditandai dengan dijalankannya kembali PSBB pada bulan Agustus lalu), Indonesia kembali mengalami deflasi. Berdasarkan data dari Bappenas, Produk Domestik Bruto (PDB) di triwulan kedua mengalami kontraksi sebesar -5,32% secara tahunan. Meskipun demikian, pasar masih optimis akan mengalami pemulihan ekonomi pada triwulan selanjutnya.

Baca juga; Dahsyat, Negara di Seluruh Dunia Rugi USD15 Triliun Akibat Covid-19

Ekonom dari DBS Group Research Taimur Baig mengatakan beberapa faktor akan sangat menentukan daya tahan dan kekuatan pemulihan, termasuk penyempurnaan siklus perdagangan, fiskal berkelanjutan dan akomodasi moneter, koordinasi regional untuk membuka kembali perjalanan dan pariwisata, dan mempertahankan praktik terbaik dalam pengelolaan pandemi akan menjadi kunci untuk memastikan pemulihan yang berkelanjutan.

Terkait dengan pelaksanaan Pemilihan Presiden AS yang akan dilaksanakan di bulan November, telah membuat pelaku pasar untuk lebih berhati-hati, mengingat bahwa gejolak di pasar dapat melonjak pasca pemilu.

 

Hal ini diprediksikan akan menyebabkan permintaan likuiditas lebih besar dalam beberapa minggu. Namun demikian, pelaksanaan pilpres AS diperkirakan tidak akan mengubah arah persaingan Tiongkok dan AS, sehingga tetap ada optimisme bahwa gejolak dan ketidakpastian ini akan mereda setelah masa pilpres AS selesai.

Laju pemulihan ekonomi di tengah pandemi global di beberapa negara, seperti AS, Eropa, dan Jepang, telah terlihat melandai (flattened) setelah terjadi lonjakan tajam di triwulan ketiga.

Prospek perdagangan di Asia juga tampak telah membaik seiring dengan dimulainya kembali rantai perdagangan, yang ditunjukkan dengan terjadinya peningkatan permintaan di Tiongkok. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi di Asia perlahan telah kembali stabil.

“Meskipun masih banyak tantangan, terdapat tanda-tanda bahwa ekonomi di Asia mulai bangkit kembali yang disebabkan dari berhasilnya pengelolaan pandemi, seperti kembalinya demand di Tiongkok, kebijakan moneter yang akomodatif, serta langkah-langkah fiskal yang besar dan tepat untuk mendukung pulihnya sektor konsumen, bisnis, dan sektor keuangan,” tambah Senior Vice President, Economics & Strategy Research, DBS Bank, Radhika Rao saat webinar di Jakarta, Jumat (16/10/2020).

Meskipun demikian, Radhika berpendapat bahwa Indonesia masih akan menempuh proses yang panjang dalam hal pengelolaan pandemi dan pemulihan kehidupan masyarakat, serta juga melihat terhadap beberapa faktor lain, seperti dampak pandemi pada ekonomi, pengelolaan dana bantuan, objektivitas Bank Indonesia, Pasar Keuangan, dan faktor risiko lainnya.

PDB negara diperkirakan akan meningkat 5,5% tahun depan, sedangkan defisit fiskal diprediksi akan tetap terkontraksi ke -5,5% dari sebelumnya di angka -6,3%.

Selain itu, beberapa faktor lainnya yang menjadi risiko pemulihan bagi Indonesia adalah penundaan kembalinya aktivitas jika kasus positif Covid-19 tidak kunjung mereda, tingginya partisipasi dari investor asing di pasar utang dalam negeri, kesehatan fiskal dan tingkat hutang publik serta rasio cadangan devisa terhadap pembiayaan eksternal bruto yang relatif lebih kecil bila dibandingkan negara-negara lain di kawasan regional.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini