Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cegah Tipes, Anak Usia 2 hingga 11 Tahun Bisa Disuntik Vaksin Vi-DT

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 23 Oktober 2020 15:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 23 620 2298408 cegah-tipes-anak-usia-2-hingga-11-tahun-bisa-disuntik-vaksin-vi-dt-n8LeTgQbbb.jpg Ilustrasi (Foto : Uchealth)

Antibodi 28 hari pascavaksinasi pada semua subjek di kelompok vaksin Vi-DT (100%) meningkat 4 kali lipat atau lebih dari nilai awal. Sementara pada kelompok vaksin Vi-PS, peningkatan antibodi 28 hari pascavaksinasi sebesar 4 kali lipat atau lebih hanya terjadi pada 93% subjek.

Diterangkan juga dalam studi ini bahwa selain bagi kelompok usia 2-11 tahun, vaksin Vi-DT juga terbukti aman dan efektif diberikan untuk anak-anak usia 6 bulan sampai 2 tahun. Hal ini tentu sangat membantu apalagi mengingat belum ada vaksin tifoid berlisensi di Indonesia untuk anak-anak di bawah usia 2 tahun.

"Melihat hasil uji klinisnya, keberadaan vaksin Vi-DT ini diharapkan mampu memberikan perlindungan yang lebih baik bagi bayi dan anak-anak dibandingkan vaksin tifoid sebelumnya," ucap penulis di laporan studi.

Suntik Vaksin

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB menyatakan apresiasinya kepada para peneliti studi ini. Menurutnya, ini menjadi contoh bahwa bagaimana vaksin harus melalui uji klinik dan hasilnya dipublikasi di jurnal internasional.

"Demam tifoid merupakan suatu penyakit yang tidak boleh dianggap remeh apalagi di Indonesia, demam tifoid termasuk salah satu penyakit endemis. Di negara endemis, peningkatan variasi genetik bakteri yang resisten terhadap antibiotik banyak ditemukan padahal kita tahu bahwa antibiotik merupakan obat utama untuk demam tifoid," katanya.

Penyakit ini, sambung Prof Ari, jika tidak segera ditangani dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Oleh karena itu, langkah terbaik yang dapat dilakukan adalah pencegahan. "Selain menjaga sanitasi lingkungan dan menjaga ketersediaan air bersih, vaksinasi menjadi salah satu langkah efektif dalam mencegah demam tifoid," ujar Prof. Ari.

Tim peneliti yang terlibat dalam studi ini antara lain, dari FKUI-RSCM terdiri atas sejumlah staf Departemen Ilmu Kesehatan Anak, yaitu dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH; Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si; Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K); Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K); Prof. Dr. dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K); Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K); dan dr. Angga Wirahmadi, Sp.A.

Para peneliti dari FKUI-RSCM pun bekerja sama dengan dr. Mita Puspita; dr. Rini Mulia Sari; dr. Novilia Sjafri Bachtiar, M.Kes dari PT Bio Farma dan Jae Seung Yang, Ph.D.; dr. Arijit Sil, DA; Dr. Sushant Sahastrabuddhe, MBBS, MPH, MBA dari International Vaccine Institute, Seoul.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini