Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

5 Kain Tradisional Indonesia Penuh Arti dan Filosofi

Ilham Rachmatullah, Jurnalis · Kamis 29 Oktober 2020 17:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 29 620 2301219 5-kain-tradisional-indonesia-penuh-arti-dan-filosofi-FZKmgIL45A.jpg Perempuan mengenakan kain ulos (Shutterstock)

INDONESIA tidak hanya dianugerahi bentangan alam indah, tapi juga memiliki banyak tradisi budaya dan kerajinan di setiap daerah. Salah satu keanekaragaman budaya Tanah Air dapat dilihat dari banyaknya aneka kain tradisional daerah.

Kain khas nusantara sangat beragam. Setiap daerah memiliki kain tradisional yang menjadi identitas masing-masing. Keragaman kainnya bisa dilihat dari pola, warna maupun motifnya. Antara satu daerah dengan daerah lain ciri khas kainnya berbeda.

Baca juga: Tips Traveling Aman ala Anya Geraldine di Tengah Corona

Selain indah, keunikan ragam kain tradisional tersebut juga diwariskan secara turun temurun yang ternyata memiliki arti dan makna akan filosofi serta cerita mendalam lho Okezoners.

Melansir dari Indonesia Travel, Kamis (29/10/2020), berikut ragam kain tradisional khas Indonesia yang mempunyai arti dan filosofi mendalam :

Kain Ulos–Simbol Keberkatan

Pasti sudah tidak asing kan dengan kain berwarna indah yang satu ini? Ya, kain ulos yang merupakan kain asal Suku Batak Sumatera Utara yang sudah sangat terkenal. Secara harfiah, ulos berarti selimut yang menghangatkan badan.ilustrasi

Presiden Jokowi dan Iriana mengenakan ulos (IG @jojo_ismyname)

Cara pembuatan ulos ini mirip dengan pembuatan kain songket khas Palembang dengan menggunakan alat tenun manual dan tradisional bukan mesin. Warna dominan dari kain ini antara lain adalah merah, hitam, dan putih yang dihiasi dengan anyaman benang emas atau perak.

Baca juga: Pulau Rinca Ditutup, Ini 6 Fakta Unik Komodo yang Wajib Diketahui

Ada banyak jenis ulos dari Batak Toba, diantaranya adalah ragi hidup, ragih otang, dan sibolang yang biasa dijadikan selendang. Jenis kain ulos lainnya adalah ulos sadum angkola/ulos godang yang biasanya diberikan orang tua kepada sang anak tercinta dengan harapan, mendatangkan kegembiraan dan berkat bagi keluarga.

Kain Tapis–Simbol Perjalanan Hidup Manusia

Masyarakat Lampung juga punya kain tenun kebanggaan dan berbeda dari kain tenun lainnya yang ada di Indonesia, yakni kain tapis. Kain ini merupakan jenis tenunan yang terbuat dari benang kapas serta diberi hiasan sulaman benang emas, benang perak, atau sutera.

Awalnya, kain tapis dibuat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan hanya dikenakan pada acara-acara adat atau ritual keagamaan. Kini, kain tapis digunakan sehari-hari dan banyak dibuat untuk dijadikan sebagai buah tangan andalan dari Lampung.

ilustrasi

Kain tapis

Secara simbolis dan filosofis, kain tapis ini memiliki makna yang mendalam. Sebagai contoh, kain tapis dengan motif kapal dianggap sebagai simbol perjalanan hidup manusia. Pasalnya, motif kapal dianggap sebagai kendaraan yang membawa perjalanan kehidupan manusia, mulai dari masa kelahiran, masa anak-anak, remaja, dewasa, masa perkawinan, hingga kematian.

Baca juga: Benarkah Ada Putri Duyung di Danau Sentani?

Selain itu, penggunaan kain tapis juga mencerminkan status sosial seseorang dalam masyarakat adat, apakah dia sebagai tokoh adat atau tokoh masyarakat.

Kain Tenun Gringsing Bali–Simbol Kesehatan

Okezoners pernah mendengar mengenai kain gringsing khas Bali? Kain tradisional yang dibuat oleh Desa Tenganan di Bali ini mempunyai keistimewaaan yang merupakan satu-satunya kain tenun tradisional Indonesia yang dibuat dengan teknik ikat ganda, lho!

Masyarakat Bali, khususnya di Desa Tenganan, percaya bahwa kain ini memiliki kekuatan magis untuk melindungi mereka dari berbagai macam penyakit. Kata gringsing sendiri berasal dari kata "gring" yang berarti sakit dan "sing" yang berarti tidak, sehingga jika digabungkan bermakna "tidak sakit".

Menurut mitos Bali, kain gringsing berasal dari kekaguman Indra (Dewa Petir Bali) akan langit malam yang memesona. Dewa Indra kemudian melukiskan apa yang dilihatnya kepada rakyat pilihannya (Tenganan) melalui motif tenunan.

Kain Tenun Ikat Flores–Simbol Persatuan

Kain tenun ikat Flores merupakan salah satu dari sekian banyak wastra yang dalam bahasa Sansekerta berarti kain nusantara ternyata bernilai seni tinggi loh Okezoners. Keindahan tersebut tentu tak lepas dari rumitnya proses menenun sebuah kain ikat, yang harus melewati setidaknya 20 tahapan dan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Kain tradisional ini diproduksi di beberapa daerah di Flores, di antaranya Maumere, Sikka, Ende, Ngada, Nagekeo, Manggarai, Lio, dan Lembata. Nah, setiap daerah memiliki motif, corak, dan warna yang berbeda yang merepresentasikan ragam suku, adat istiadat, agama, dan kehidupan masyarakat Flores.

ilustrasi

Tenun ikat

Tak hanya mencerminkan keragaman, beberapa pola yang terkandung dalam kain tenun ikat Flores juga sarat akan makna. Misalnya, pola belah ketupat yang menggambarkan persatuan antara pemerintah dan masyarakat.

Kain Tenun Sumba–Simbol Dari Nilai Kehidupan Manusia

Selain keindahan alamnya, Sumba ternyata juga dikenal dengan keindahan lain berupa kain tenunnya. Proses membuat kain tradisional di sini juga masih menggunakan teknik tradisional, lho Okezoners. Kain ini juga menggunakan pewarna yang diekstrak dari bahan alami, seperti akar mengkudu, serat kayu, dan lumpur.

Setelah diwarnai, dilanjutkan dengan proses pengikatan menggunakan daun gewang, lalu kemudian proses pengeringan. Untuk membuat selembar kain tenun Sumba, setidaknya ada 42 tahapan yang harus dilewati dan bisa memakan waktu hingga tiga tahun lho okezoners, wow! Inilah alasannya kenapa kain tenun dari Sumba dikenal sebagai kain istimewa dengan nilai jual yang tinggi.

Dilihat dari motifnya, kain tenun Sumba tetap mempertahankan motif-motif fauna yang menjadi ciri khasnya. Masyarakat Sumba percaya, bahwa binatang-binatang tertentu layak untuk dijadikan sebagai simbol atau nilai kehidupan manusia.

ilustrasi

Motif kuda, misalnya melambangkan kepahlawanan, keagungan, dan kebangsawanan karena kuda merupakan simbol harga diri bagi masyarakat Sumba. Motif lain, seperti buaya dan naga menggambarkan kekuatan dan kekuasaan raja, motif ayam melambangkan kehidupan wanita, dan motif burung, umumnya kakatua, melambangkan persatuan.

Keistimewaan kain tenun Sumba tidak berhenti sampai di situ. Kain ini pun dianggap sakral oleh masyarakat setempat, sehingga dipakai dalam setiap momen-momen penting, seperti menyambut kelahiran, pernikahan, bahkan ritual penguburan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini